Bireuen — Harry Kawilarang, penulis buku bertemakan Aceh dengan judul “Dari Sultan Iskandar Muda ke MoU Helsinki” terpesona dengan Aceh. Peminat sejarah ini melihat Aceh sebagai inspirator. Kenapa demikian?
Bagi Harry, Aceh merupakan daerah yang kaya dengan sumber kekuatan sosial. Lihat saja proses kebangkitan yang dialami Aceh ajaknya. Pertama, terapan politik partisan dari Jakarta akhir-akhir ini mulai tergusur karena Aceh sekarang tidak ingin terlalu diatur oleh pengaruh luar. Itu sebabnya hingga terjadi aksi kekacauan yang disengaja oleh "tangan-tangan jahil" dari luar Aceh. Hebatnya lagi dari masyarakat Aceh yaitu tidak terpancing dengan aksi provokasi yang sengaja di tiupkan untuk memperburuk stigma Aceh.
"Terapan politik partisan dari Jakarta akhir-akhir ini mulai tergusur di Aceh. ini karena Aceh sekarang tidak ingin terlalu diatur oleh pengaruh luar," Sebut Harry.
Selain itu, indikator lainnya adalah, dari segi historis. Harry membandingkan Aceh dengan daerah-daerah lain di Indonesia yang melempem karena begitu kuatnya pengaruh politik partisan yang menerapkan proses pembodohan sejak lama. Ini disebabkan minimnya pengetahuan latar belakang sejarah mereka yang sengaja di matikan hingga terjadi supremasi pusat. Sementara di Aceh kelihatan lebih agresif dan termotivasi. Lelaki asal Manado ini menilai fenomena peninggalan perjuangan diplomasi Hasan Tiro di dunia internasional punya pengaruh besar dengan perjuangan Bangsa Aceh.
"Aceh hebat, Perjuangan diplomasi Hasan Tiro di dunia internasional punya pengaruh besar. Juga Aceh tidak melempem seperti daerah-daerah lain karena pengaruh politik partisan tidak begitu kuat disini. Intinya orang Aceh belajar dari sejarah bangsanya, pemahaman terhadap historis sangat penting untuk meningkatkan nilai tawar," Ujarnya.
Menurunya Aceh memiliki kekuatan sejarah, dan pernah jaya di masa lalu. Figur personifikasi Teuku Umar sangat kuat. Teuku Umar di samping sebagai panglima besar Aceh, juga adalah seorang intelektual. Ia menguasai antara tiga sampai empat bahasa asing. Selain Bahasa Belanda, juga menguasai bahasa Inggris dan Portugis. Setiap harinya ia membaca sedikitnya tiga harian yang dikirim dari Singapura dan Penang.
Ia juga seorang pengusaha sukses. Bayangkan, 46% dari saham perusahaan minyak di Pangkalan Brandan milik Teuku Umar ulas Harry. Pun demikian, Teuku Umar sangat peka terhadap diskriminasi Belanda.
"Itulah sebab saya tertarik pada Sejarah Aceh. Saya teringat pada mendiang Amran Zamzani yang pernah mengatakan kepada saya yaitu Orang Aceh merintis dan membuka jalan, dan orang Manado menikmati," tutup Harry sambil mengulang pernyataan Amran. []