Banda Aceh — Pasca musibah gempa dan tsunami, Banda Aceh dibanjiri bisnis warung kopi. Akibatnya konsumsi rokokpun meningkat. Hal itu tidak saja makin memperkecil usia perokok aktif, melainkan juga perokok pasif.
Akan hal itu, kebijakan kawasan bebas rokok di sejumlah fasilitas publik yang dicanangkan Pemerintah Kota Banda Aceh tidak serta-merta mampu mengontrol para perokok. “Seharusnya ada aturan yang mengikat dan sifatnya harus diikuti oleh sanksi yang tegas,” ujar Risa salah satu mahasiswa Unsyiah kepada The Globe Journal, Sabtu (31/12).
Mungkin mengontrol para perokok di berbagai warung kopi di Banda Aceh tak mudah. Ada ketakutan para pelanggan akan meninggalkan warkop tertentu. Apalagi pilihan warkop sangat banyak. Namun jangan kuatir soal itu.
Sebuah teknologi baru telah diluncurkan khusus bagi yang senang merokok. Air Flow Control Technology dari Tornex adalah sebuah teknologi untuk menciptakan sebuah ruang untuk merokok (smoking area) yang lebih "sehat" dan juga tidak memerlukan ruang terpisah seperti yang ada saat ini. Teknologi ini terinspirasi dari angin topan (tornado) dimana pusaran angin buatan akan "menarik" asap rokok sehingga asap rokok tidak akan kemana-mana dan ruangan juga tidak akan menjadi bau (rokok).
Air Flow Control Technology terdiri dari 2 buah bagian yang mirip 2 buah lubang di bagian atas dan bawah yang akan membuat angin topan buatan di bagian tengahnya. Menurut Tornex, teknologi mereka ini mampu menghilangkan asap dan bau rokok sampai 95%. Dalam ruangan tersebut dipasang 4 buah tiang di tiap sudut yang berfungsi sebagai "air curtain" sehingga asap tidak akan keluar dari area tersebut. Teknologi canggih ini dijual cukup mahal yakni dengan harga 2.500.000 Yen (sekitar Rp. 250 juta).
Nah, cukup mahalkah Rp250 juta itu bila dibandingkan dengan ancaman masa depan generasi muda Aceh? Kapan Warkop di Aceh punya alat ini untuk mengontrol ancaman asap rokok? []
(Yul-Beritanet)