SerambiTeknologiSirene Tsunami di Bengkulu Rusak, bagaimana di Aceh?
Sirene Tsunami di Bengkulu Rusak, bagaimana di Aceh?
Rabu, 16 November 2011 00:00 WIB
Bengkulu - Enam unit sirene tsunami di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, rusak diduga akibat disambar petir, sehingga tidak bisa dioperasikan.
"Alat tersebut mestinya berbunyi saat terjadi tsunami, namun tidak dapat berfungsi saat digunakan," kata Kepala Baan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkulu Selatan Herman Sunarya, Rabu.
Ia mengatakan, diketahuinya sirene itu rusak, saat akan melakukan lanjutan sosialisasi bencana gempa bumi dan tsunami beberapa pekan lalu di daerah itu.
Ia menjelaskan, enam unit prangkat sirene tsunami itu berfungsi memberi tahu kepada masyarakat bahwa akan terjadi potensi tsunami setelah gampa bumi berkekuatan besar, namun alat itu belum difungsikan kondisinya sudah rusak.
Kerusakan tersebut, diduga kuat akibat sambaran petir, di samping faktor tidak terawat karena minimnya biaya perawatan pada perangkat tersebut.
Enam prangkat sirene itu tersebar di beberapa kelurahan yaitu di Kelurahan Pasar Bawah Kecamatan Pasar Manna, Desa Batu Bandung Pino, Tanggo Raso Pino Raya dan Kecamatan Bunga Mas.
Ia mengakui, sirene rusak itu selama ini tidak terpantau akibat minimnya perawatan.
Alat pemantau tsunami itu adalah pengadaan Kantor Kesbang Pol Provinsi Bengkulu tahun 2009 saat itu numinklatur BPBD masih tergabung dengan Kantor Kesbang Pol dan Linmas Bengkulu Selatan.
Pihak kabupaten hanya menerima, tidak ada biaya pemeliharaan dan penjagaan operator sirene tersebut dan begitu diterima suah terpasang, semuanya dilakukan petugas provinsi, ujarnya.
Anggota DPRD Bengkulu Selatan Helmi Paman mengatakan, peralatan pemantau tsunami di daerah itu selama ini terkesan tidak dipelihara, sehingga seluruhnya rusak dan tidak berfungsi.
Badan terkait hendaknya mulai tahun ini mengusulkan untuk dana pemeliharaan dari APBD Bengkulu Selatan, agar prangkat sirene tsunami itu berfungsi dan bermanfaat bagi kepentingan umum, katanya.
"Sayang kalau alat itu dibiarkan rusak dan terbengkalai karena harganya cukup mahal dan menggunakan uang negara," tegasnya.