
Banda Aceh — Tak mau ketinggalan dengan kelompok masyarakat lainnya dalam penggunaan teknologi informasi, Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PCCI) ikut meramaikan ICT Expo 2011 di gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala Darussalam. Para penyandang tuna netra memperlihatkan keterampilan mengoperasikan komputer dalam segala keterbatasan yang mereka miliki. Sayangnya software khusus yang mereka gunakan harganya puluhan juta dan hingga kini uluran tangan pemerintah sangat minim.
Kelompok penyandang cacat (disabled) memperlihatkan kemampuan mereka ke hadapan publik dengan harapan nantinya mereka bisa diterima dikalangan umum dan bisa memperkecil kesenjangan mereka dengan mereka yang lebih beruntung alias tidak cacat fisiknya. Para penyandang tuna netra menampilkan langsung cara mereka mengoperasikan komputer, membaca dan membuka situs internet.
Seperti yang diperlihatkan oleh instruktur pelaksana Syarwan, yang merupakan penyandang tuna netra, Selasa (10/1) kepada The Globe Journal. Ketika diminta membuka situs www.theglobejournal.com, ia dengan mudah dapat melakukannya.
"Saya mungkin orang tuna netra yang pertama membuka situs The Globe di Aceh,"ujarnya tersenyum kecil.
Cara mereka mengoperasikan komputer sama halnya yang dilakukan orang biasa, namun mereka menggunakan software khusus yaitu System Akses, NVDA, dan LAWS untuk program layar berbicara. Layar mengeluarkan suara sebagai pemandu mereka menggunakan komputer juga sebagai mata bagi mereka tuna netra. Selain itu sebuah alat scanner difungsikan sebagai alat yang membantu membaca menggunakan open book dan satu lagi printer ET Brailler (printer huruf timbul) yang harga keseluruhannya bisa mencapai Rp.60.000.000.
"Lumayan sangat mahal dibandingkan komputer yang biasa dipakai. Software LAWS saja bisa seharga Rp.17.000.000-00,"ujarnya.
Seorang rekan instruktur pelaksana lainnya yang juga tuna netra, Aflinda S.Pd mengatakan dalam pengembangan kemampuan dan mendidik tuna netra, mereka mengharapkan sekali dukungan dari berbagai kalangan, terutama sekali pemerintah propinsi dan kabupaten agar bisa bekerja sama dan mau membuka lowongan kerja bagi penyandang cacat. Mereka sendiri juga menyiapkan tenaga terampil operator komputer.
“Kami selalu menerima peserta didik baru kapan saja bagi yang berminat belajar apalagi kegiatan ini gratis tanpa dipungut biaya,”kata Aflinda. Mereka menerima anak didik dari seluruh Aceh namun panitia tidak menyediakan penginapan.
"Tapi snack dan makan siang tetap kami tanggung bagi peserta yang ikut kegiatan belajar komputer berbicara ini,” tambahnya.
PCCI yang yang beralamat di Jln. Seulawah, Lorong Perak, No. 53 Neusu Aceh diketuai oleh Syariffudin beranggotakan 20 orang penyandang tuna netra mengirimkan empat orang tenaga profesionalnya mengikuti pameran ITC EXPO 2011. Ini merupakan apresiasi mereka dalam mengikuti kemajuan teknologi dan membuktikan peran penyandang tuna netra sebagai pengguna komputer yang mampu mengoperasikan software.
Para penyandang cacat (disabled) pada dasarnya tidak jauh beda dengan mereka yang memiliki anggota tubuh yang lengkap. Kemahiran dan kesiapan yang mereka miliki merupakan suatu kecakapan yang tidak dimiliki semua orang terlebih bagi disabled. Salah satu software yang mereka kuasai antara lain Microsoft-word, Microsoft-excell,dan browsing Internet.
Mereka yang sudah mahir memiliki tekad mampu terjun ke dunia pekerjaan dengan skil yang sudah mereka kuasai, namun sayang mayoritasnya perusahaan maupun lembaga sungguh sangat minim merekrut dan mempekerjakan para disabled tersebut.
Bagi yang ingin ikut pelatihan komputer bicara ini segera daftarkan diri anda maupun kerabat anda dengan langsung datang ke alamat yang tertera di atas.(MNA)
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas