THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Teknologi»5 Hal Kenapa Jurnalis Harus Menggunakan Google+


5 Hal Kenapa Jurnalis Harus Menggunakan Google+
Amir Hamzah | Kontributor
Selasa, 19 Juli 2011 00:00 WIB

Banda Aceh - Jejaring sosial telah terbukti menjadi platform distribusi yang sangat luar biasa untuk berita terbaru dan memikat wartawan sebagai alat komunikasi. Ini tidak mengherankan bahwa banyak profesional media telah beranjak cepat ke Google+ untuk menggali potensi jurnalisme.

Beberapa dari mereka memperbarui profil pribadinya, sementara yang lain membuat akun baru untuk profil organisasinya. Mereka bereksperimen dengan menguji fitur-fitur yang paling menguntungkan untuk berbagi pesan dan terlibat langsung dengan pembacanya.

Google+ sendiri untuk saat ini masih dalam tahap beta dengan pengguna yang terbatas. Pada industri media, hal ini menjadi tantangan awal untuk beradaptasi dengannya sebelum akhirnya diresmikan. Berikut adalah beberapa cara dari media profesional dengan menggunakan platform yang mungkin sangat berarti bagi masa depan Google+ dalam jurnalisme yang dikutip The Globe Journal dari Mashable.

  1. Membicarakan tentang Google+
    Tidak mengherankan bila para penggunanya sendiri membicarakan tentang Google+, termasuk para jurnalis. Mereka memposting tips dan trik untuk menggunakan berbagai macam fitur-fitur yang tersedia. Bahkan banyak percakapan di Twitter dan Facebook yang membicarakan Google+.
  2. Nongkrong bareng dengan pemirsa
    Sarah Hill, seorang reporter dari KOMU-TV di Columbia, Missouri, telah mengundang pemirsanya yang telah memiliki Google+ untuk bergabung di Hangouts (=Nongkrong), layanan video chatting jaringan. Hangouts bisa menjadi cara yang bagus bagi wartawan untuk mendapatkan reaksi penonton untuk peristiwa secara real time.
  3. Melibatkan pembaca/pemirsa
    Meskipun Google menyatakan Google+ belum siap, namun banyak dari industri media telah cepat mendaftarkan diri. Dengan antusiasme dari para pengguna untuk terlibat dalam percakapan, Google+ bisa menjadi tempat bagi wartawan untuk menghasilkan umpan balik langsung dari pembaca atau pemirsanya. Di sini wartawan sangat penting untuk memahami potensi dari berbagai fitur yang ada. Dengan mengoptimalkan fitur-fiturnya untuk menciptakan dialog interaktif seputar konten berita.
  4. Menganalisa cakupan berita
    Ketika Twitter terbatas dengan 140 katanya, dan di Facebook harus selalu 'berkompetisi' dalam percakapan dengan para teman, maka Google+ dapat menyusun percakapan ketika ada komentar baru yang muncul. Meskipun Facebook memiliki sejumlah grup yang dibuat sendiri oleh para jurnalis, namun untuk urusan grup dan berbagi (sharing) Google+ terasa lebih intuitif.
  5. Menampilkan kepribadian
    Industri media terikat terhadap kode etik jurnalis yang membuat beberapa wartawan lebih cenderung untuk "membungkam" pendapatnya dan beberapa detail dari gaya hidupnya. Tetapi, Google+ dapat membuat para jurnalis lebih terbuka dengan kepribadiannya.

    Di tengah pemberitaan dan diskusi, ada yang dibumbui dengan lelucon, foto dan anekdot. Tidak seperti di Twitter --yang sangat terbatas dengan 140 kata-- membuat orang harus menyingkat kata-katanya dan untuk followers yang lainnya harus membagi ulang (re-sharing) pesannya agar sampai ke teman yang lain.

 







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close