THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Sosok»Sekjen HUDA Tolak Pembangunan Best Western Hotel


Sekjen HUDA Tolak Pembangunan Best Western Hotel
Alfan Raykhan Pane | The Globe Journal
Jum`at, 30 Desember 2011 00:00 WIB
Banda Aceh - Polemik rencana pembangunan Best Western Hotel dan Mall di bekas lokasi Geunta Plaza atau berjarak sekitar 150 meter sebelah tenggara Mesjid Raya Baiturrahman mendapat tanggapan beragam. Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) merupakan salah satu organisasi yang menentang kebijakan Pemko Banda Aceh tersebut.

Sementara itu Imam Besar Mesjid Raya Baiturrahman (MRB) Tgk. Azman Ismail, ketika dikonfirmasi via handphone soal rencana pembangunan hotel dan mall itu menolak berkomentar. "Tolong  jangan tanya saya, tanyakan ke MPU saja ini sudah masuk ke politik, saya tidak mau MRB dikatakan berpolitik,"ujarnya ringkas.

Sedangkan Sekretaris Jenderal HUDA, Tgk. Faisal Ali, Jumat (30/12) ketika  The Globe Journal meminta tanggapannya soal rencana pembangunan hotel dan mall tersebut, mengatakan, "HUDA telah mengkaji dan tidak mendukung rencana Pemko Banda Aceh membangun hotel dan mall, karena di lokasi berdekatan dengan Mesjid Raya Baiturrahman tidak sesuai dengan konteks ke-Acehan,"jelasnya.
 
"Orang yang pergi ke Masjidil Haram adalah murni ingin beribadah, jadi jangan samakan dengan kondisi di Aceh. Soal alasan sholat Tahajjud di Mesjid Raya Baiturrahman yang ingin dilakukan para turis yang datang ke Banda Aceh, itu khan hanya alasan untuk pembenaran saja! Tahajjud bisa laksanakan di rumah atau mesjid lainnya yang banyak tersebar di kota ini, atau hotel menyediakan transportasi khusus bagi tamunya yang ingin tahajjud ke mesjid raya,"sergahnya.

Sekjen Huda tersebut juga mempertanyakan soal alasan mengapa hanya kajian Amdal yang sudah keluar tersebut yang menjadi bahan kajian. Namun mengapa kajian adat istiadat, kajian syariat justru tidak menjadi pertimbangan Pemko dan DPRK Banda Aceh.

Ia menuturkan, "Kepentingan ekonomi dengan alasan amdal yang sudah sesuai justru lebih dikedepankan, tapi mengapa sisi adat istiadat dan syariat tidak menjadi bahan kajian mereka (Pemko dan DPRK-red) sungguh aneh bila Syariat Islam tidak pernah kaffah dijalankan, artinya Amdal ya Amdal, Syariat dan adat istiadat urusan lain,"tegasnya penuh tanya.

Sebagaimana berita The Globe Journal, Rabu (28/12) berjudul " Pembangunan Best Western Dikhawatirkan Rusak Landmark Banda Aceh" Pemerintah Kota Banda Aceh sudah menerbitkan izin mendirikan bangunan (IMB) untuk pembangunan Best Western Hotel dan Mall, yang memiliki semboyan 'Low rates, great value at 4000 Best Western Hotels worldwide' dengan nilai investasi Rp.200 Miliar.

Pembangunan hotel dan mall yang menelan investasi 200 milyar tersebut direncanakan dibangun setinggi 42 meter dengan 12 lantai. Pihak pengembang menjanjikan bahwa konsep hotel tersebut adalah hotel Islami dan nantinya akan dibangun jembatan penghubung dari Mall ke Masjid Raya Baiturahhaman Banda Aceh.

Baihaqie, (38 tahun) warga Ulee Kareng, yang diminta tanggapannya, mengatakan, "Apa harus disitu? kenapa tidak di Rukoh, Darussalam, Ulee Kareng, Prada atau di Lheung Bata saja dekat gapura selamat datang, biar orang luar Aceh tau disini juga ada hotel dan mall bertaraf internasional, jadi kenapa harus di dekat Mesjid Raya? Pak Walikota dan pak Ketua DPRK kaji ulanglah kebijakan izin prinsip dan IMB pembangunan hotel dan mall di lokasi tersebut,"ungkapnya penuh harap.







    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    No Telp. 0651-741 4556
    Ponsel. 0852 619 222 25


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Seni dan Budaya

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close