THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Sosok»Pendidikan Moral Gagal, Murid Tawuran


Pendidikan Moral Gagal, Murid Tawuran
Hayatullah Zuboidi | The Globe Journal
Kamis, 06 Oktober 2011 00:00 WIB
Banda Aceh-Aksi saling serang antara siswa SMAN 8 dan siswa SMAN 4 Banda Aceh, Senin (4/10) kemarin, salah satu pertanda gagalnya pendidikan moral dan akhlak di sekolah-sekolah sekarang.

Hal itu disampaikan Pjs Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Ikatan Siswa Kader Dakwah (Iskada) kota Banda Aceh, Yudhi Rihayat kepada Wartawan, Kamis (6/10) terkait fenomena maraknya kejadian aksi saling serang dan tawuran antar siswa sekolah di Banda Aceh.

“Saya rasa, faktornya karena para siswa kurang adanya kegiatan ekstrakulikuler sehingga tidak ada kesibukan yang positif. Seharusnya, ini menjadi PR bagi sekolah dan keluarga, untuk mendukung setiap kegiatan positif mereka, sehingga mereka bisa berkreatifitas yang kurang bermanfaat,” kata Yudhi.

Menurut mantan ketua BEM  Fisip Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini, selain itu, faktor utama tawuran itu sendiri adalah karena gagalnya pendidikan moral dan akhlak yang diterapkan di sekolah-sekolah di Banda Aceh.

“Saya pikir, ini akibat gagalnya pendidikan moral di sekolah-sekolah. Ini kejadian yang memalukan sekaligus memalukan dunia pendidikan kita,” jelas dia.

Seharusnya, kata dia, sekolah merupakan lembaga pendidikan moral kepada generasi muda yang diajari soal etika dan saling menghormati sesama. Bukan, malah sebaliknya bersikap premanisme dan mengedepankan kekerasan.

“Apa jadinya, jika sekarang para siswa di sekolah sebagai generasi penerus sebuah bangsa nantinya sekarang sudah bersikap seperti layaknya seorang preman,” ujar dia mempertanyakan.

Ia menjelaskan, para siswa sekarang bisa dikatakan juga semakin menurun loyalitas mereka terhadap kegiatan pembinaan akhlak. Mereka lebih senang dengan kegiatan yang hanya sesuai dengan hasrat hobby mereka. walaupun itu masih tergolong dengan positifnamun pembinaan akhlak untuk dirinya tidak menjadi prioritas.

Hal ini,  dalam amatan dia bahwa setiap penyelenggaran Latihan Kader yang diadakan organisasi  seperti (ISKADA) sedikit peminat dari kalangan siswa sekarang.Padahal, lanjutnya,  sebelum tsunami,  setiap kali adanya pelatihan dan kaderisasi siswa di Iskada, lebih dari 100 orang untuk masing-masing cabang di setiap kabupaten.

“Saya rasa penting, para dewan guru di setiap sekolah tidak hanya diajarkan pendidikan formalpembinaan karakter juga harus di masukkan kepada muatan lokal. kami tahu bahwa sudah ada pelajaran budi pekerti. Namun, bisa jadi seorang guru hanya sekedar mengajarnya kalau itu telah optimal pasti kejadian seperti ini tidak ada,”papar dia.

Pihaknya berharap, kejadian memalukan ini tidak terulang lagi di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah serta pihak sekolah sendiri lebih memfokuskan sistem pendidikan yang lebih dominan pada pembentukan karakter, tidak hanya intelektual mereka karna, karakter mempengaruhi intelektual manusia, bukan sebaliknya.

“Sudah pasti harapannya kejadian ini tidak terulang lagi, baik di dalam lingkungan sekolah mau di luar sekolah dan ISKADA sendiri sudah lebih siap terjun untuk membantu pihak sekolah agar bersama membentuk karakter siswa yang baik,” tandas dia.[003]

 

 

 

 

 

 

 

 

 







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close