SerambiSosokORI Bungkam Tentang Asal Usul Dana Survey
ORI Bungkam Tentang Asal Usul Dana Survey
Hayatullah Zuboidi | The Globe Journal
Rabu, 02 November 2011 00:00 WIB
Banda Aceh-Timbul berbagai opini dikalangan masyarakat, tentang kebenaran hasil riset yang dibuat Occidental Research Institute (ORI). Diantaranya keberadaan lembaga tersebut, dan dari mana dana yang diperoleh untuk membiayai riset yang dilakukannya.
Peneliti senior ORI, Budi Azhari menanggapi hal tersebut. Lembaga ORI lahir pada tahun 2007. Saat itu ORI lebih berfokus kepada diskusi para dosen tentang kajian-kajian keilmuan, seperti kajian Ilmu Matematika, Ilmu Politik, dan beberapa bidang ilmu lainnya.
Sebelumnya ORI hanya melihat sektor-sektor spesifik tertentu, namun mengingat saat ini proses demokrasi lagi berjalan di Aceh, maka mereka memutuskan duduk bersama untuk mengawalnya.
Diantara yang telah mereka lakukan yaitu tentang perspektif masyarakat tahapan Pemilukada dilanjutkan atau tunda, sampai penentuan pilihan masyarakat terhadap kandidat.
ORI memiliki jaringan oksidental tentang lembaga yang meneliti isu kekinian, seperti perkembagan IT , pendidikan dan sosial yang tersebar dibeberapa kampus di dunia, seperti di Thailand, Malaysia dan Vietnam.
"Kita selalu sharing itu untuk mendapatkan funding. Misalnya ada funding yang tidak bisa bekerja di Aceh, kita minta kawan-kawan kerja di Malaysia, Thailand dan Vietnam untuk mengerjakannya," ujar Budi kepada The Globe Journal, Rabu (2/11).
Sementara yang menjadi tanda tanya besar dari beberapa pihak tentang donatur ORI untuk membuat riset Pemilukda, Budi tidak memberi tahu darimana secara kongkrit, namun dia mengaku punya jaringan oksidental.
"Masalah dari mana donatur kita, sebenarnya rahasia, tetapi kita punya jaringan oksidental," tukas Budi Azhari.
Namun untuk membuktikan hasil riset mereka, Budi mengajak lembaga-lembaga lain untuk meneliti hal yang sama tentang Pemilukada. Upaya itu sebagai perbandingan hasil risetnya dengan hasil riset lembaga lain.
Budi menambahkan, sebenarnya hasil persentasi hari ini mereka ingin menjawab kecurigaan-kecurigaan masyarakat terhadap lembaga ORI. "Kita beri kesempatan kepada masyarakat untuk menilai lembaga-lembaga survei. Apalagi di Aceh yang kontinyu melakukan pengawalan terhadap survei ini kan masih ORI, kita mendorong kawan-kawan untuk membuat survei biar masyarakat menilai, kalau ORI sendiri yang melakukan survei ini, pembandingnya tidak ada," sebutnya.
Menurut Budi, misalnya seperti hari ini ORI mengumumkan Muhammad Nazar yang unggul, ternyata disurvei lain orang lain bukan Nazar yang menang, oleh karena itu masyarakat bisa menilai itu.
"Kalau boleh kita mengajak survei lain untuk diskusi dimana kelemahan kita,
Karena kita perlu informasi yang real dilapangan,"tukasnya lagi.
Dalam hal ini Budi mempersilakan kalau ada kawan-kawan didaerah yang ingin diskusi lebih lanjut, mereka siap menampung kapan saja.