
Jakarta - Setelah sang suami Azwar Abubakar menjabat menteri pendayagunaan aparatur negara (Men PAN), kesibukan Meutia Safrida ikut bertambah. Namun, di sela-sela padatnya agenda, perempuan 50 tahun itu selalu menyediakan waktu untuk melakukan hobinya.
Seperti kebanyakan perempuan, Meutia sangat gemar memasak. Khususnya menu yang sangat digemarinya, masakan Aceh. “Saya memang hobi memasak. Tapi, karena saya asli orang Aceh, seringnya saya masak makanan-makanan khas Aceh,” ujar Meutia.
Ibu empat anak itu menuturkan, makanan Aceh sangat beragam. Karena itu, dia tidak pernah kehilangan ide jika ingin memasak makanan Aceh. Namun, ada menu-menu favorit keluarga mereka. Yakni, pliku dan ayam tangkap. “Aceh itu kan ada 21 kabupaten/kota. Jadi bermacam-macam ciri khas makanannya. Kita jadi nggak bosan kalau mau masak masakan Aceh karena banyak pilihannya,” ujarnya.
Perjalanan Hidup
Meutia Safrida, begitu nama lahirnya. Ia bukanlah sosok asing. Ketika Ir Azwar Abubakar, MM masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh, figur Meutia sebagai pendukung setia tidak terlepas darinya.
Dari kecil Meutia terbiasa hidup berpindah-pindah dari satu daerah di Aceh ke daerah lain. Ini dipicu oleh pekerjaan sang ayah di bidang militer yang sering dipindah tugaskan. Ayahnya pernah menjabat sebagai Komandan Korem di Aceh Barat.
Meutia menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Aceh Barat. Setelah orang tua pindah ke Lhokseumawe, Meutia melanjutkan studi SMP dan SMU N I Lhoksemawe. Setamat SMU, Meutia kembali ke Banda Aceh.
Saat itu, putri mantan Wakil Gubernur Aceh periode 1982-1987 ini berkeinginan untuk melanjutkan studi ke luar Aceh. Tetapi keinginan itu terpaksa diurungkan karena orang tuanya keberatan ia melanjutkan studi di luar daerah. “Akhirnya saya kuliah di Fakultas Pertanian Unsyiah dan masuk tahun 1980,” katanya.
Saat masih berstatus mahasiswa semester tiga, dengan penuh kemantapan hati ia melangsungkan pernikahannya dengan Ir Azwar Abubakar, MM. “Tetapi saya tetap melanjutkan kuliah, Alhamdulillah berkat dorongan suami dan orang tua akhirnya selesai juga saya sarjana pertanian, ketika itu saya sudah melahirkan anak kedua” kenang putri sulung pasangan alm Drs H M Syah Asyek ini.
Status sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya tidak lantas menghambat aktifitasnya. Dengan dukungan orang tua dan motivasi dari suami ia berkarir di Departemen Kehutanan dan menjabat kepala sesi pada tahun 1987 sebagai pegawai negeri. Kemudian dengan prestasinya di kepala sesi dari Dinas Kehutanan, ia dipindah tugaskan ke Bappeda Bagian Perencanaan.
Tiga tahun berkarir di Bappeda, nasib Meutia kembali berputar. Sang suami dalam proses Pilkada terpilih sebagai Wakil Gubernur Aceh mendampingi Gubernur Abdullah Puteh. Aktifitas pemilik RS Meutia Hospital ini pun bertambah.
Pun begitu, Meutia tidak meninggalkan pekerjaan awalnya. Sebagai seorang istri wagub ia tetap bekerja sebagai pegawai negeri di Bappeda. Sampai kemudian ia mendapat dispensasi dan cuti dari bekerja untuk bisa intens mendampingi suami selama menjabat sebagai wagub.
Belum lagi aktifitas dan perannya sebagai wakil ketua ibu Tim Penggerak PKK, “Dengan ibu Marlinda, kita harus ke desa-desa terjun dengan masyarakat,“ kenang ibu empat anak ini.
Selain perannya sebagai istri wagub ketika itu, ia juga dipercayai oleh masyarakat sebagai ketua majelis ta’lim di Aceh. Dengan niat memberdayakan ibu-ibu, bukan hanya di kota tetapi juga di desa terpencil. “Sebagai pendamping suami saat itu, banyak hikmah yang saya rasakan melalui organisasi masyarakat ini, bahagia bisa bersama-sama menggerakkan masyarakat bagi kemaslahatan umat,” jelasnya.
Setelah masa tugas suaminya habis sebagai wagub, Meutia berkecimpung kembali di pemerintahan. Kemudian dari Bappeda ia beralih ke Dinas Sosial sebagai Kabid Bina Program, yang akhirnya ia harus mengikuti suami ke Jakarta. Sebagai istri dari anggota DPR-RI (PAN) periode 2009-2014 ia masih tetap berkarir dan berorganisasi. “Saya juga sebagai koordinator SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Ibu-Ibu Bersatu), ketuanya ibu SBY,“ tambahnya.
Dalam peran di rumah, Meutia berprinsip bahwa rumah tangga bagi seorang wanita harus tetap jadi primadona. ”Sehebat apapun perempuan, yang paling utama adalah keluarga kemudian baru di masyarakat. Peran kita lebih hebat dari pada lelaki, kita dwi fungsi. Tapi Sehebat apapun kita perempuan, jalankan segalanya berdasarkan tuntunan agama kita,” cetusnya mantap.
[jjpn.com/sumutpos/gemabaiturrahman/jannah]
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas