
Kalo bukan racikan engkoh, saya enggak mau minum
Waktu sudah menunjukan pukul 19.30, tetapi Kedai Jamu Bukti Mentjos di Salemba Tengah, Jakarta Pusat seperti baru memulai kesibukannya. Empat pekerja sibuk melayani lebih dari 20 pelanggan yang sudah gelisah menanti jamu mereka disuguhkan.
Tetapi yang paling sibuk malam itu mungkin Horatius Romuli, sang pemilik kedai. Layaknya bartender, ia mengambil posisi di belakang meja panjang yang memisahkan dapur racikan kedai dengan wilayah pelanggan. Menggunakan kursi, yang dilengkapi roda-roda kecil, ia meluncur menghampiri para pelanggan dan mendengarkan keluhan mereka.
Kegelisahan para pelanggan setianya baru sirna ketika tangan-tangan gemuknya dengan lincah meracik jamu sesuai keluhan mereka.
"Kalo bukan racikan engkoh, saya enggak mau minum," kata Saipul (24), seorang pemilik rumah makan di bilangan Percetakan Negara, Cempaka Putih, Jumat malam. Kepada Horatius, yang ia sapa engkoh, ia mengeluhkan kakinya yang sudah seminggu terus kesemutan.
Pamor Horatius di belantika jamu Jakarta, bahkan Indonesia memang tidak diragukan. Sejak didirikan oleh leluhurnya pada 1950-an Kedai Bukti Mentjos masih menjadi salah satu rujukan utama di bidang kesehatan bagi sebagian masyarakat Jakarta dan sekitarnya, justru ketika industri kesehatan kian modern.
"Kedai Mentjos tidak pernah sepi," kata Adi (53), juru parkir yang tinggal di belakang Kedai Jamu Mentjos.
Ia menghitung setiap hari, khususnya setelah magrib, sekitar 50 kendaraan, mobil maupun motor, akan memadati halaman parkir sempit di depan kedai itu yang buka sejak pukul 10 pagi hingga 9.30 malam itu.
"Kalau orangnya lebih dari 200 orang sehari. Mereka datang dari mana-mana, bahkan dari Bogor atau Tangerang," cerita Adi yang hari itu begitu sibuk mengatur keluar masuk kendaraan ke tempat parkir. Beberapa mobil terpaksa diparkir di pinggir jalan.
Adi tidak asal bicara, karena Maman (39) yang bekerja sebagai sopir pribadi seorang pengusaha properti dan karpet dari Ciledug, Banten punya cerita soal itu.
"Heran deh. Mau minum jamu doang harus bela-belain datang dari Ciledug ke Salemba," celetuk Maman yang malam itu harus mengantar sang majikan dan istrinya ke Mentjos.
Kunci Bertahan
Horatius sendiri, ketika ditemui merendah dan mengatakan semua itu berkat kerja keras para pendahulunya yang coba ia pertahankan. Ia mempertahankan tradisi jamu tradisional Indonesia ketika arus modernisasi dunia kesehatan semakin kencang.
"Jamu berbeda layanan di rumah sakit atau apotik. Jamu lebih kepada upaya mencegah agar jangan sakit atau untuk menyehatkan badan sementara orang ke rumah sakit atau apotik untuk berobat dari sakit," kata pria kelahiran 1959 itu.
Intinya menurutnya, kedai jamu Bukti Mentjos tetap diminati banyak orang karena ia tetap fokus mengembangkan ramuan tradisional tersebut, dengan kualitas yang sama seperti yang diwariskan oleh para pendahulunya.
"Ada tiga kuncinya. Jangan pernah gunakan bahan kimia, gunakan bahan-bahan alami yang dikenal masyarakat, dan jangan pernah menggunakan kembali bahan-bahan yang sudah kadaluwarsa," tegas Horatius.
Di kedai jamunya Horatius memajang sejumlah poster yang menjelaskan bahan-bahan alami yang ia gunakan untuk meracik jamu-jamu yang disuguhkan.
"Rahasianya memang pada komposisi. Di situ rahasianya," sambungnya sembari tersenyum.
Selain itu menurut Horatio, kecenderungan manusia modern yang semakin sadar untuk kembali ke alam juga turut mendukung perkembangan jamu di tanah air.

"Orang-orang sekarang semakin sadar ramuan-ramuan herbal yang alami, tanpa bahan kimia, lebih aman dan tidak ada efek samping," tukasnya.
Di Kedai Jamu Bukti Mentjos sendiri, Horatius mempunyai 51 koleksi racikan jamu dengan berbagai khasiat. Selain masih paket bersalin lengkap, berbagai jenis tapel, dan minuman tradisional berkhasiat.
Perempuan Paling Banyak
Dari 51 koleksi jamu Mentjos terdapat 20 jamu khusus untuk perempuan. Sisanya merupakan jamu yang ditujukan untuk kesehatan dan kebugaran tubuh serta satu jamu khusus untuk laki-laki.
"Perempuan paling banyak maunya. Untuk langsing, kecantikan, subur, rapet, wangi, datang bulan, kehamilan, dan masih banyak lagi," terang Horatius dengan mimik serius.
Selain jamu kedai Mentjos bahkan juga menyediakan berbagai ramuan perawatan kulit seperti tapel, lulur, dan bedak berkhasiat.
Sedangkan untuk laki-laki, terang Horatius, rata-rata mencari jamu yang berkhasiat memberikan keperkasaan di ranjang. Kali ini ia tidak bisa menahan senyumnya.
Akan tetapi Horatius mengingatkan untuk mendapatkan khasiat yang maksimal dari jamu yang terpenting bukan jumlah atau intensitas konsumsinya, tetapi bagaimana mengonsumsi jamu secara teratur atau rutin.
"Misalnya untuk perempuan setiap habis datang bulan atau untuk khasiat kebugaran setiap akhir pekan," utara Horatius.
Meski demikian Horatius belum puas. Ia masih memimpikan suatu saat ketika dokter juga meresepkan jamu, selain obat, kepada para pasiennya.
"Lihat di Cina atau India, dokter-dokternya juga paham tentang jamu dan menjadikan jamu sebagai obat bagi pasien," tutur dia.
Meski yakin suatu saat impiannya akan tercapai, Horatio berpendapat jalan ke arah itu masih sangat panjang.
"Masyarakat belum siap, para pengusaha jamu belum siap, dokter dan industri farmasi juga belum," tukas Horatius.
Ia berharap organisasi kedokteran seperti IDI, gabungan industri farmasi, dan pengusaha jamu bisa duduk bersama untuk melapangkan jalan bagi jamu agar bisa bersaing dengan produk-produk kesehatan modern lainnya.
[001-beritasatu-foto jamu ilustrasi-placenta-anticancer]
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas