
Banda Aceh- Koran kuning atau media-media yang pemberitaannya berorientasi kepada kekerasan dan seks ternyata bukan konsumsi yang baik bagi masyarakat. Karena koran-koran yang lebih banyak memuat unsur-unsur seks dan kekerasan dalam pemberitaan ternyata membuat masyarakat menjadi tidak kritis dan mengiring pada kebodohan.
“Masyarakat menjadi tidak kritis, masyarakt yang membaca koran kuning bukang masyarakat yang ingin membaca sesuatu yang penting tapi hanya untuk memenuhi libidonya,”ujar Antropolog Aceh, Teuku Kemal Fasya pada The Globe Journal, Selasa (29/11) usai memberikan materi pelatihan Journalisme Damai di Grand Aceh Hotel.
Kemal mengatakan bahwa dengan mengkonsumsi media-media seperti itu, maka mayarakat akan semakin terangsan untuk melakukan motif-motif kekerasan dan melakukan penyimpangan seks. Tidak hanya itu, dia juga menambahkan, bahwa masyarakan juga akan mempraktekkan feodalisme seks di depan publik. “Media sudah memamerkannya di depan publik, mereka berpikir ya ngak apa-apa dimunculkan lagi di ruang publik,”tambahnya.
“Koran-koran kuning bukan hanya di indonesia tapi di inggris sudah ada koran-koran kuning, tapi makin lama- masyarakat kritis makin menolak membeli koran-koran kuning karena tidak ada manfaatnya, hari ini kita harus berjaga agar masyarakat semakin kritis dan menolak koran-koran kuning,” sambung Kemal.
Kemal mencontohkan tingkat konsumsi koran di Jawa, terutama di Ibu Kota Jakarta. Di Jakarta kita bisa melihat bahwa masyarakat yang bergairah terhadap bermuatan berita politik ada di tingkatan masyarakat kelas menengah ke atas, sedangkan di tingkat masyarakat kelas menengah ke bawah, jenis berita yang mereka konsumsi adalah berita yang memuat unsur-unsur kekerasan dan seks semata atau koran kuning.
Menurutnya, masyarakat di Aceh terbagi ke dalam dua versi, masyarakat yang sangat punya gairah untuk mengetahui hal-hal politik dan dia membeli koran-koran yang memuat berita-berita politik. Tapi ada juga masyarakat yang senang dengan berita-berita bernuansa seks dan kekerasan, dan mereka juga membeli koran-koran kuning tersebut.
“Tapi di Aceh masyarakat di kelas bawah itu terbagi dua, masyarakat yang senang dengan koran kuning dan masyarakat yang senang politik. Itu yang keuntungannya di Aceh,” ujar Kema.[003]
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas