THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Sosial»Perayaan Imlek di Negeri Syariat Islam, Tanpa Barongsai


Perayaan Imlek di Negeri Syariat Islam, Tanpa Barongsai
Senin, 23 Januari 2012 00:00 WIB

 

Banda Aceh - Suasana perayaan Tahun Baru Cina ( Imlek ) 2563 di Aceh berjalan lancar tanpa pengawalan dari pihak keamanan. Masyarakat Tionghoa yang beragama Budha dengan khidmat melaksanakan upacara ibadah di Vihara Dharma Bakti di Gampong Cina, Peunayong, Kota Banda Aceh, dengan leluasa.

 

Sejak Minggu (22/1) malam tadi kegiatan di beberapa Vihara di Banda Aceh telah berlangsung hingga Senin (23/1) ini, tanpa pengawalan dari pihak keamanan karena memang sejak Vihara Dharma Bakti berdri pada tahun 1873 tidak pernah ada teror dan intimidasi dari siapapun, kata Suherman Kepala Vihara.

 

Selain penganut agama Budha yang melaksanakan ibadah di Vihara, masyarakat Kota Banda Aceh dengan leluasa keluar masuk Vihara menyaksikan  upacara yang dilaksanakan di dalam Vihara. Ini menunjukkan betapa indahnya toleransi kehidupan beragama di Aceh yang bersyariat Islam.

 

“Kami datang kemari ingin melihat pertunjukan Barongsai, karena pada perayaan Imlek tahuin lalu ada pertunjukan Barongsai berkeliling di seputaran Gampong Cina Peunayong tapi kenapa belum ada ya,” tanya Elli yang sudah menunggu bersama keluarganya sejak pukul 09.00 wib.

 

Suherman menyampaikan bahwa tahun ini tidak diadakan pertunjukan Barongsai, karena belum ada grup Barongsai di Aceh, sedangkan  pada tahun lalu didatangkan dari Medan sehubungan Festival Gampong Cina Peunayong dalam rangka Visit Banda Aceh Year 2011.

 

Memang ,Walikota Banda Aceh, Mawardi Nurdin, telah menginstruksikan supaya diadakan grup Barongsai tapi baru ada Kepala Barongsainya saja sedangkan personilnya belum ada. “Kami berusaha membentuk grup Barongsai di Aceh,” katanya.

 

Ada sekitar 3.000 penduduk Tionghoa yang beragama Budha di Aceh dan hidup berdampingan bersama masyarakat pribumi tanpa gesekan yang menghancurkan makna toleransi beragama.

 

Kehidupan multi etnis di Aceh sudah ada sejak masa Kesultanan Aceh sehingga di Aceh terdapat beberapa Gampong (kampung) yang dikhususkan bagi pendatang seperti Gampong, Jawa untuk suku Jawa, Gampong Pande dan Gampong Keling bagi pendatang dari India.

 

Serta Gampong Keudah bagi Pendatang dari semanjung Malaya, Gampong Cina maka disebutlah Peunayong yang bermakna wilayah tempat tinggal yang dipayungi.

 

 

[001-InfoPublik]







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close