Aceh Utara - Pihak Keimigrasian Kota Lhokseumawe, pagi tadi, untuk sementara waktu menempatkan 55 warga Myanmar yang terdampar di pesisir Krueng Geukuh, Aceh Utara, di gudang Kantor Imigrasi lama, yang terletak dijalan Medan-Banda Aceh, tepatnya di kawasan Puenteut, Kota Lhokseumawe.
Berdasarkan data yang diperoleh The Globe Journal dari Pihak Keimigrasian Kota Lhokseumawe, mayoritas Muslim Rohingya yang terdampat tersebut berusia sangat muda. Usia mereka rata-rata 9 tahun hingga 45 tahun.
“Untuk saat ini kami masih melakukan pendataan. Kemudian, warga rohingya ini kami tempatkan untuk sementara dulu di gudang karantina ini. Dan mereka semuanya beragama muslim yang memiliki profesi sebagai nelayan,”ujar petugas imigrasi Lhokseumawe Irawan SH Kamis (2/2).
Amatan The Globe Journal di lokasi penampungan, warga Myanmar mulai diberikan bantuan oleh warga setempat, baik berupa pakaian, makanan dan minuman. Salah seorang pengungsi rohingya, Umar Siddiq (19), yang didampingi pengungsi lainnya, saat ditanyai wartawan, mengaku tujuan pelayarannya merupakan Malaysia untuk mencari kerja. Sayangnya takdir berkata lain dan menghempas mereka di perairan Aceh, di wilayah Aceh Utara.
Pelayaran yang direncanakan ke Malaysia bukan sekedar untuk mencari pekerjaan jelas Umar. Pelayarannya lebih dikatakan pelarian karena di negara asalnya, kondisi Muslim Rohingya prihatin. Mereka tidak diberlakukan layaknya warga negara. Umar mengaku masyarakatnya kerap disiksa oleh aparat negara.
Sebagaimana yang telah diberitakan sebelumnya, sebanyak 55 warga Myanmar terdampar di tengah laut Krueng Geukuh, Rabu kemarin, sekitar pukul 13:00 WIB berhasil diselamatkan oleh nelayan Aceh Utara dengan menggunakan enam unit kapal/boat. “Mereka berhasil diselamatkan oleh nelayan aceh utara. Karena kapal/boat yang mereka gunakan sedang tenggelam,” jelas Irawan. []