THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Sosial»Pembangunan Utamakan Konglomerat


Pembangunan Utamakan Konglomerat
Riza Fakri Ismail l The Globe Journal
Kamis, 01 Desember 2011 00:00 WIB
Lhokseumawe — Pembangunan yang dilakukan saat ini sering mengabaikan nilai-nilai keadilan yang seharusnya didapatkan oleh masyarakat.  Pembangunan jalan misalnya, hanya untuk mengakomodasi jumlah kendaraan yang semakin banyak pemerintah pun melakukan pelebaran jalan. Hal itu dikemukakan M.Nizar Abdurrani, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Aceh, yang tampil sebagai slaah satu pemateri dalam acara Kampanye penyadaran Lingkungan Hidup di Lhokseumawe, Rabu (30/11).

Tapi di sisi lain, lanjut M.Nizar, pemerintah mengabaikan hak-hak pejalan kaki seperti trotoar yang terpaksa dihilangkan demi perluasan jalan tersebut.  “hal-hal lain juga terjadi seperti alih lahan, semrawutnya tata ruang dan fokus pembangunan tidak jelas. Rakyat kehilangan sumber daya pendukung kehidupan serta menurunnya kualitas lingkungan,” kata M.Nizar.

“Saya kira, pihak pemerintah harus bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Pemerintah karena sebagai pihak pengambil kebijakan, pengawasan dan penindakan. Selain itu pihak pengusaha juga harus bertanggungjawab karena membangun kurang pertimbangan. Serta masyarakat yang berprilaku konsumtif,” tandas M.Nizar.

Selain itu, dampak dari pembangunan yang dilakukan ruang terbuka hijau (RTH) semakin berkurang. “Ruang terbuka hijau adalah area memanjang yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. Tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam,” sebutnya.

Perkembangan kota Lhokseumawe misalnya, lanjut M.Nizar, masih kurang memperhatikan aspek-aspek lingkungan dan kehidupan sosial yang sehat dan serasi.  Sebagian besar jalan-jalan di pusat kota belum ditanami dengan tanaman yang bermanfaat bagi keasrian dan kesegaran lingkungan. “Belum ada trotoar yang cukup bagi pejalan kaki. Malah trotoar yang ada dihancurkan karena pelebaran jalan,” ujar M.Nizar.

“Pelebaran jalan hanya mementingkan pemilik kendaraan bermotor dan kepentingan pengusaha, sehingga kurang memberikan nilai sosial dan kenyamanan bagi warga kota lainnya,” ungkap M.Nizar.

Padahal, menurut M.Nizar, kota Lhokseumawe bisa dikembangkan menjadi kota Eco City. “Kota Eco City adalah kota yang peduli kepada seluruh warganya, tidak hanya kepada warga yang mampu membeli kendaraan pribadi. tetapi juga bagi warga yang peduli terhadap konservasi dan hemat energi seperti pejalan kaki dan pengendara sepeda,” demikian M.Nizar Abdurrani.[003]







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close