Banda Aceh — Direktur Aceh Judicial Monitoring Institute (AJMI) Agusta Muhktar merasa sangat kecewa pada sejumlah organisasi masyarakat (Ormas), yang ikut menjadi tim sukses kandidat Pemilukada Aceh.
“Saya katakan Ormas atau CSO yang ikut tim sukses kandidat tertentu bukan Ormas namanya, tapi itu kelompok tim sukses, ini harus dipisahkan,” kata Agusta kepada The Globe Journal, usai melakukan konferensi pers terkait konsensus politik terhadap demokrasi dan perdamaian di Kantor ACSTF, Rabu (1/2) tadi.
Ia mengatakan hampir semua kandidat Pemilukada Aceh memakai Organisasi Masyarakat (Ormas) sebagai kelompok pemenangan. “kelompok itu bukan OMS atau CSO tapi tim sukses,” tegas dia lagi.
Kepada sejumlah wartawan saat berlangsungnya konferensi pers itu, Ia mengatakan akan mengajak setiap Ormas melihat kondisi politik dengan menggunakan jalur yang benar.
Senada dengan Agusta, Muhammad Hamzah, pegiat LSM Pugar juga mengatakan hal yang sama. Hamzah membandingkan perilaku anggota Ormas lama dengan Ormas yang baru. Menurutnya, orientasi Ormas dewasa ini lebih pada pekerjaan dengan keinginan mendapatkan penghasilan. Lain halnya dengan Ormas lama yang berkembang dengan semangat perjuangan karena sensitifitas sosialnya.
“Ini jelas-jelas menyangkut dengan moral Ormas itu sendiri, sanksinya adalah moral jika ada Ormas yang terlibat dalam tim sukses kandidat tertentu,” pungkas Hamzah.
Sementara itu Juru bicara masyarakat sipil untuk perdamaian, Juanda Djamal mengharapkan agar Ormas mampu mereposisi keberadaannya dalam membuat pilihan politik. ”Sangat penting untuk membangun kondisi politik yang beretika,” tegas Juanda.
Organisasi masyarakat harus tetap kritis dalam merespon berbagai dinamika politik penyelenggaraan Pemilukada sambungnya. Ormas juga harus mampu berpartisipasi dalam upaya mentransformasikan keadaan buruk di Aceh saat ini, yang merupakan kombinasi varian orientasi ekonomi pro rakyat dengan situasi damai yang terjaga. [003]