Meulaboh — Gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter melanda Meulaboh, ibukota Aceh Barat tepat pukul 10.13 WIB. Gempa tersebut dinyatakan berpotensi tsunami oleh BMKG. Siswa dan siswi SD 3 Meulabohpun tak gusar. Mereka menyelamatkan diri di bawah meja. Penyelamatan diri itu dilakukan dengan tertib. Tak ada tangisan, tak ada pula hysteria.
Sejenak kemudian, goyangan alampun berhenti. Mereka yang tadinya menyelamatkan diri di bawah meja keluar dari ruangan kelas. Tas di bahupun dijadikan pelindung kepala agar reruntuhan bangunan tak menghajarnya. Dengan cekatan dan lagi tak kalah tertib, di lapangan sekolah jua mereka berkumpul.
Lalu merekapun bersorak-sorai. Tersenyum dan tertawa cekikikan bersama-sama dengan nada suara yang unik pula. Begitulah riang dan canda itu ditumpahkannya usai melakukan simulasi pengurangan resiko bencana.
Drama tsunami drill yang dilakukan para siswa dan siswi ini bukan tanpa alasan. Sejak dini, pengetahuan pengurangan resiko bencana harus dikenalkan. Simulasi tersebut diikuti oleh 235 siswa-siswi dan dibantu oleh 20 guru lain dari SD di Meulaboh. Simulasi ini adalah implementasi dari standard operational procedure (SOP) atau prosedur operasional standar “ramah anak” yang telah dirumuskan dan dikembangkan oleh para siswa SD.
“Hal inilah yang membuat SOP dan simulasi ini berbeda dengan SOP bencana lain yang pernah ada. Karena mulai dari proses penyusunananya, pemetaan lokasi, hingga jalur evakuasi dilakukan oleh anak-anak sendiri, dan berlangsung partisipatif,” National Project Coordinator DRR-A, UNDP, Fahmi Yunus dalam rilis yang diterima The Globe Journal, Jumat (27/1).
Sedangkan guru katanya hanya memfasilitasi dan mengawasi proses tersebut agar dapat berjalan dengan baik.“Ini merupakan salah satu program kita dalam menumbuhkembangkan kesiapsiagaan masyarakat khususnya anak-anak dalam menghadapi bencana seperti gempa dan tsunami” papar Fahmi Yunus,
Tidak hanya di Aceh Barat, simulasi seperti ini juga dilakukan secara serentak di empat kabupaten lain, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan. Tidak hanya jenis bencana gempa dan tsunami, SOP ini juga membahas petunjuk standar untuk jenis bencana lainnya seperti banjir, gunung api, longsor, tergantung potensi bencana yang sering terjadi di daerah-daerah tersebut.
“Jadi, simulasi ini dilakukan untuk jenis bencana yang berbeda tergantung potensi dan kerawanannya serta memperhatikan konteks lokal daerah masing-masing” tambah Fahmi Yunus.
Aceh Barat merupakan salah satu wilayah yang mengalami kehancuran saat diterpa bencana tsunami tahun 2004 lalu dan menimbulkan banyak korban jiwa. Untuk itu, kabupaten ini termasuk salah satu daerah yang masyarakatnya perlu diberikan pemahaman secara terus menerus tentang kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
“Kami sangat senang dan berterimakasih karena kegiatan simulasi ini dilakukan di sekolah kami. Praktik-praktik seperti ini pasti akan sangat berguna bagi para siswa” kata Bu Nurliana Kepala Sekolah SD 3 Meulaboh.
Fahmi menjelaskan simulasi ini merupakan salah satu kegiatan DRR-A, UNDP dengan dukungan pendanaan dari Multi Donor Fund guna membangun budaya keselamatan di tingkat sekolah. Selain pihak sekolah, kegiatan ini juga melibatkan instansi lain seperti BPPD, Dinas Pendidikan, dan PMI setempat. []