
Banda Aceh - Gempa 7,6 Skala Ritcher yang melanda Banda Aceh dan beberapa pulau Sumatera lainnya dini hari tadi (11/1/2012) membuat warga panik lantaran berpotensi tsunami. Saat kejadian gempa dirasakan oleh warga dengan goyangan cukup lama.
Meski demikian, pantauan di lapangan, beberapa warga yang berada di pantai Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh tengah mengamati kondisi laut. Menurutnya kondisi air laut tetap normal dan belum ada tanda-tanda tsunami.
Daerah tersebut pasca tsunami 2004 telah dibangun gedung Escape Building di desa Deah Glumbang, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Gedung itu merupakan gedung penyelamatan tsunami yang dibangun oleh Jepang. Namun gedung tersebut saat ini kosong. Menurutnya tidak ada warga yang memanfaatkan gedung itu untuk penyelamatan diri.
Padahal gedung itu didesain khusus untuk penyelamatan warga saat tsunami. Gedung itu juga telah didesain tahan gempa hingga 9 Skala Ritcher.
Saat ini warga lebih memilih mengungsi ke tempat lain, walaupun gedung itu juga cukup tinggi dan difasilitasi empat lantai. Selain itu, lantai atas bisa untuk landasan pesawat helicopter.
Selain itu, gedung Escape Building di desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh juga sepi dari warga. Sebagian warga masih bertahan di Jembatan Pante Pirak Banda Aceh dan tidak berani kembali rumahnya.
Meski peringatan tsunami sudah dicabut untuk kawasan Aceh pesisir, kecuali Pulau Simeulu, tapi sejumlah warga di Banda Aceh yang tinggal di dekat pantai masih memilih bertahan dan enggan pulang ke rumahnya.
Pantauan di Jembatan Peunayong dan Jembatan Pante pirak Banda Aceh sekarang masih ada puluhan warga yang tetap bertahan. Mereka masih siaga dengan kendaraannya seperti sepeda motor, becak, dan mobil. Beberapa diantaranya adalah anak-anak yang diboyong orang tuanya. Di jempatan tersebut warga sekalian memantau air sehingga mudah menghindar.
Wawan, warga Peulanggahan Banda Aceh mengatakan, belum berani pulang ke rumah karena kondisinya bagi dia belum memungkinkan. “Masih di sini aja dulu,” katanya.
Begitu gempa tadi, Wawan langsung membangunkan dua anaknya kemudian memilih keluar rumah dengan becak mesin miliknya. Dia memboyong delapan orang anggota keluarganya ke jembatan Pante Pirak, sekira dua kilometer dari rumahnya.
Jembatan ini lumayan tinggi, sehingga dijadikan warga sebagai tempat menghindar. Dia keluar rumah karena merasa gak enak hati kalau bertahan di rumah setelah adanya peringatan tsunami tadi. Sebab dia trauma dengan tsunami 2004 yang pernah melanda Banda Aceh pula.
[001-Okezone]
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas