Banda Aceh-Hampir setiap tempat hari ini, senin (26/12) diadakan doa bersama mengenang tujuh tahun tsunami Aceh. Dalam hal ini Bandar Publishing komunitas intelektual muda berbagi berkumpul untuk berdoa dan berdiskusi mengenang tujuh tahun tsunami.
Setelah khitmad berdoa untuk korban tsunami, mereka merefeleksi kontekstualisasi Aceh hari ini. Diawali Mukhlisuddin Ilyas (Direktur Bandar Publishing), memancing diskusi dengan pertanyaan mengelitik sebenarnya apa yang telah berubah hari ini setelah tujuh tahun tsunami?
katanya ketika itu Aceh menjadi wilayah terbuka, bantuan masyarakat dunia mengalir deras baik dalam bentuk hibbah, bantuan langsung seperti bantuan medis, relawan kemanusiaan, dan lain sebagainya.
Katanya lagi, di balik musibah, tsunami membawa hikmah, dimana “wajah Aceh” berubah seketika. Grand skenario (master plant) “Aceh Bangkit” menjadi manifesto dimana-mana. Lalu, ditransformasikan dalam misi rehab-rekon.
Sebuah badan dibentuk, cukup dikenal, yaitu BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) Aceh-Nias. Badan ini mengelola simpati dan empati internasional. Hampir semua negara terlibat dan tidak kurang 700 lembaga asing melibatkan diri dengan berbagai program rehab-rekon.
“Memang, kesadaran untuk mengubah Aceh begitu kuat dan merona di mana-mana. Tak heran deraan konflik selama 30 tahun terhenti seketika. Perjanjian damai RI-GAM disepakati dan melahirkan MoU Helsinki, sebagai prasyarat rehab-rekon dan semangat baru membangun Aceh dengan damai,”ujar mukhlisuddin kepada The Globe Journal, senin (26/12) melalui pesan elektronik.
Katanya, etos dan harmoni dengan Jakarta dibawah kepemimpinan SBY-JK berlangsung manis. Dan rentang waktu tujuh tahun diakui peserta diskusi Aceh telah banyak berubah, namun perubahan itu sepertinya belum monumental jika dilihat sikap dan perilaku anak bangsa sekarang ini. Kita bukan krisis kultural tapi kita dihadapkan krisis identitas, demikian pandangan-pandangan yang muncul dari peserta diskusi ini.
Taufik kandidat doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia menggugat beberapa realitas. Pertama, masyarakat Aceh sedang dihadapkan pada krisis multidimensi. Tahun ke tujuh ini nampaknya semakin kehilangan orientasi.
Kedua, ketahanan sosial dan mental aparatur pemerintah, baik di eksekutif maupun legislatif belum sepenuhnya berubah. Tatakelola birokrasi masih perlu di push agar lebih mampu bekerja untuk pembangunan kesejahteraan rakyat.
Ketiga, media massa secara kritis telah menyajikan berbagai penyimpangan perilaku elit namun patologi korupsi terus meningkat.
Sulaiman Tripa menilai peringatan tsunami tidak hanya menjadi rutinitas tiap tahun. Ke depan “hari tsunami” menjadi “satu hari” yang mengingatkan kita “betapa dalamnya” sebagai tonggak kebangkitan Aceh “dalam segala hal”.
Menurutnya, Tanggal 26 Desember bukan sekedar rutinitas tapi mengingatkan kita pada hari itu ada sesuatu mulai berubah setelah penderitaan panjang. Pertama disarankan tsunami harus menjadi cambuk.
Satu sisi mengenang yang pergi akibat tsunami tapi sisi lain kita yang hidup memakrifati tantangan setiap tahunnya. Kedua, implikasi dari tsunami adalah berakhirnya konflik berdarah puluhan tahun. Dua peristiwa itu mesti dipaksa ingat dan mesti menjadi “kalender khusus”. [003]