Aiyub [Writer dan Jurnalis Independen, dan Kontributor TGJ di Australia, email:aiyub_syah@yahoo.com]
Selasa, 05 April 2011 00:00 WIB
Berita Serambi Indonesia, 5 April 2011, "Visit Banda Aceh Year Kurang Promosi," menggelitik saya untuk menulis artikel opini mengenai Visit Banda Aceh Year 2011. Banyak pihak yang aktif menggeluti dunia pariwiasata, juga merasakan bahwa program 'Tahun Kunjungan Banda Aceh 2011' ini kurang luas promosinya ke tingkat global.
Sebenarnya, peluang ekonomi terbesar untuk meraup nilai pertumbuhan ekonomi, saat ini sedang menempatkan dunia pariwisata sebagai primadona. Program Visit Banda Aceh Year 2011, sangat tepat-waktu dikembangkan. Meskipun demikian, tata ruang Banda Aceh harus ditata secara lebih bernilai spiritualitas cerdas, lebih bersih, lebih cantik, dan lebih kuat dengan nilai perpaduan budaya futuristik multi kultur.
Banda Aceh harus benar-benar bersih, nyaman, damai, cerdas, dan cantik, dalam menempatkan diri, sebagai pintu masuk yang damai ke Aceh bagi para pengusaha dunia berjiwa sosial kemanusiaan, juga harus memikat hati bagi turis mancanegara.
Banda Aceh perlu menjadi pintu masuk yang nyaman bagi investor dari berbagai belahan dunia. Serta harus menjadi ruang masuk yang cerdas bagi para ilmuwan dari dunia internasional. Banda Aceh harus menjadi universitas peradaban bagi generasi muda dunia, terutama menyangkut pendidikan mengantisipasi tsunami. Juga pendidikan bernuansa keislaman.
Kota yang pernah dilanda tsunami ini, sekaligus harus mampu pula mewujudkan diri, sebagai kota bernilai historis tinggi dalam mempelajari fenomena tsunami, serta kota Banda Aceh ini perlu pula menjadi kota festival budaya Islam berkelas dunia. Sehingga menarik hati para budayawan dari berbagai bangsa di dunia untuk tampil dan berkreativitas seni budaya di Aceh. Sekaligus dapat membuat banyak turis domestik dan mancanegara berbelanja aksesoris bernilai Atjeh. Dan menyaksikan berbagai ajang seni budaya berkualitas dunia.
806 tahun usia Banda Aceh Banda Aceh Darussalam sebagai ibukota Kesultanan Aceh Darussalam, dan sekarang ini merupakan ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, telah berusia 806 tahun (pada tahun 2011 M). Kota ini merupakan salah satu Kota Islam Tertua di Asia Tenggara.
Seiring dengan perkembangan zaman, Kesultanan Aceh Darussalam dalam perjalanan sejarahnya telah mengalami zaman gemilang dan pernah pula mengalami masa-masa suram yang menggetirkan.
Adapun masa gemilang, Kesultanan Aceh Darussalam yaitu pada masa pemerintahan "Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah, Sultan Alaidin Abdul Qahhar (Al Qahhar), Sultan Alaidin Iskandar Muda Meukuta Alam dan Sultanah Tajul Alam Ratu Safiatuddin". Sultan dan sultanah Aceh, sangat cerdas.
Sri Ratu Safiatuddin, mampu berbahasa Belanda, Spanyol, Portugis, Melayu, Inggris dan Atjeh. Seyogianya, Taman Ratu Safiatuddin ditata lebih cantik dan lebih bersih lagi, agar dapat menarik wisatawan mancanegara. Serta sesuai dengan pesona dan keharuman, dari nama besar taman di samping Kantor Gubernur Pemerintah Aceh tersebut.
Kini Banda Aceh Darussalam, sedang giat berbenah menyambut kehadiran para turis mancanegara. Banyak hal harus dikerjakan Pemerintah Kota Banda Aceh. Jika saat ini, geliat pembangunan gedung-gedung pemerintahan, supermarket, rumah dan toko (ruko), saluran drainase, sarana jalan, jembatan dan pelabuhan, bandar udara, sedang giat dipacu pembangunannya, namun ke depan; visi, misi, dan program pembangunan Banda Aceh, harus diwujudkan sebagai kota wisata internasional, yang islami, cerdas, bersih dan cantik.
Seiring dengan proses penataan menjadi kota wisata internasional bernuansa islami yang bersih, cantik, futuristik kosmopolitan, cerdas dan aman, serta damai, model-model promosi yang berkembang di dunia pariwisata Malaysia, perlu diteladani. Saat ini Malaysia gencar mempromosikan pariwisatanya melalui berbagai maskapai penerbangan nasional dan internasional, melalui pendekatan multi media. Malaysia menampilkan ikon wisatanya; sebagai bagian dari warna asli nilai-nilai kebudayaan bangsa-bangsa di Asia. Semua kultur bangsa di Asia, dapat ditemukan di bumi Malaysia. Sambil menikmati kecantikan alam Malaysia yang lestari.
Nah, Banda Aceh Darussalam, seyogianya juga aktif mempromosikan pariwisatanya dengan menggunakan pendekatan multi media, melalui kerjasama dengan maskapai penerbangan nasional dan internasional. Sambil melayang di atas pesawat yang sedang terbang, para kalangan profesional dari mancanegara, biasanya tertarik untuk menyaksikan tayangan video mengenai kecantikan budaya Aceh, beserta nilai kecantikan alamnya yang masih lestari dengan berbagai kejernihan air, kelebatan hutan Leuser, kicauan burung, dan keindahan berbagai pantai dan taman laut yang masih alami.
Selanjutnya, Festival Kebudayaan Aceh bertaraf internasional juga bisa digelar, dengan cara yang ekonomis tentu saja, kiatnya dapat ditempuh melalui kerjasama dengan berbagai organisasi mahasiswa Aceh yang berada di berbagai penjuru dunia. Banyak sanggar seni budaya Aceh yang ada di Eropa, Jepang, Australia, Amerika, yang mampu mendukung 'Visit Banda Aceh Year 2011", dengan performance penampilan seni tari Saman, Seudati, Peh Rapai, Likok Pulo, dan lain-lain.
Selanjutnya, jika 'Visit Banda Aceh Year 2011' ingin sukses, tentu saja kondisi tata ruang dan lingkungan kehidupan di Banda Aceh, juga harus benar-benar mencerminkan budaya kemanusiaan yang bernilai rahmatan lil'alamin. Semua jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh bersama warga kotanya, harus mampu memberikan perilaku hidup yang berjiwa 'pemberi rahmat bagi semesta alam'.