Banda Aceh- kata Kuah Beulangoeng (Kari Aceh-red) bukanlah hal yang asing ditelinga masyarakat Aceh khususnya, masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar. Tradisi ini adalah sebuah warisan leluhur, dimana dilakukan mereka setiap membuat kenduri bersama. Sampai sekarang tradisi ini masih dipraktekkan ditengah-tengah masyarakat, hal itu terlihat pada masyarakat Lamlumpang Ule Kareng Banda Aceh. Dalam memeriahkan acara buka puasa bersama, mereka memasak 22 beulanga kuah belangoeng.
Panitia acara masak Kuah Beulangoeng, Antoni S, mengatakan kepada The Globe Journal, Rabu (24/8), tradisi ini semenjak dirinya menjadi penduduk Ule Kareng tahun 1986 sudah ada kegiatan semacam ini, sampai sekarang adat tersebut belum lekang dalam diri masyarakat setempat.
“Biasanya kami masak ketika ada kenduri Maulid, buka puasa bersama dan acara seremonial lainnya,”ujat Antoni.
Sebelum melaksanakan acara tersebut lazimnya terlebih dahulu kata Antoni mereka melakukan persiapan dengan membuat rapat dengan semua kepala keluarga. Di gampoeng Lamlumpang, ule kareng itu terdapat 600 Kartu Keluarga(KK), setiap KK mereka pungut biaya sebesar Rp. 75 ribu per KK.
“Tahun ini kita pungut 75 ribu per KK, dengan uang dari 600 KK tersebut kami kumpulkan semuanya, cukup untuk kami beli dua ekor lembu, dimasak dalam 22 beulanga,”sambungnya.
Namun, dari 22 beulaga, tidak semuanya mereka makan di meunasah, akan tetapi cuma empat saja, sementara yang lainnya dibagi-bagikan ke masyarakat dengan membawa kupon yang telah di agikan panitia.
Acara buka puasa bersama tersebut bukan hanya diramaikan oleh orang setempat saja, akan tetapi mereka mengundang warga gampong tetangga atau sekitarnya dengan tujuan memperkuat silaturrahim antar sesama mereka. Begitu juga di saat gampong sekitarnya mengadakan acara yang serupa, mereka juga akan mengundang warga gampong Lamlumpang.
Dalam pelaksaannya ucap Antoni, masyarakat melakukan dengan saling bergotong royong, meskipun ada pembentukan panitia, namun warga yang lain tetap ikut membantu. Panitia yang dibentuk itu kata Antoni tidaklah orang yang sama tiap tahun, tetapi bergantian.