THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Seni-Budaya»Orang Taiwan Beri Pencerahan Selamatkan Budaya Gayo


Orang Taiwan Beri Pencerahan Selamatkan Budaya Gayo
Khalisuddin
Senin, 21 Desember 2009 00:00 WIB
Takengon-Layaknya pertemuan dua saudara yang sudah sangat lama tak bertemu, acara ramah tamah dan diskusi 40 orang perwakilan 5 suku dari Formosa Taiwan dengan para perwakilan masyarakat Gayo Aceh Tengah berlangung penuh keakraban di Aula Hotel Renggali Ujung Baro Takengon Aceh Tengah, Minggu (20/12) malam.

Acara atas gagasan Pengguna Linux Takengon (Pelita) ini ternyata mendapat apresiasi dari kedua belah pihak. Tak urung, sejumlah tokoh adat, seni dan budaya Gayo, unsur pemuda, anggota DPRK Aceh Tengah serta jajaran Pemkab Aceh Tengah terkait sangat antusias mengikuti  seluruh rangkaian acara hingga tengah malam tersebut.

Diawali dengan perkenalan dan dirangkai dengan pegelaran seni Gayo, para tamu dari Taiwan tampak sangat kagum dengan tampilan seni yang ditampilkan berupa Didong, tari Guel dan tari Munalo.

Temu ramah makin akrab saat presenter acara, Zulfikar Ahmad dari Pelita meminta seorang wanita dari kepulauan Formosa tersebut dari suku Paiwan bernama Mosin untuk menyebutkan sejumlah kosa kata yang betul-betul sama dengan kosa kata bahasa Gayo seperti Ama (bapak), Ine (ibu) dan puluhan kosa kata lainnya. Sontak saja pengunjung terkejut dan bertepuk tangan. “Sangat mungkin, mereka adalah saudara tua Urang Gayo,” kata Syirajuddin AB, salah seorang anggota DPRK yang hadir.

Puluhan Urang Gayo yang hadir kembali kaget, ketika melihat detail corak atau motif pakaian yang dikenakan Mosin, betul-betul mirip dengan motif Kerawang Gayo yang ada. Nyonya Wakil Bupati Aceh Tengah, Rahmawati yang kebetulan memakai pakaian khas bermotif Kerawang Gayo secara spontan meminta Mosin untuk mendekat duduk berdampingan dan menggandengkan motif sulaman di lengan baju Mosin dengan yang dikenakannya.

“Memang mirip sekali, hanya beda sedikit saja dengan motif Kerawang Gayo. Malah jika dari jauh layaknya memang tampak seperti Kerawang Gayo yang dimodifikasi,” ujar Rahmawati yang sejak setahun belakangan ini juga sedang giat-giatnya memproduksi sejumlah souvenir bermotif Kerawang Gayo melalui Koperasi Wanita (Kopwan) Qurata ‘Aini ini.

Selanjutnya pada sesi dialog, Rektor Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon, Syukur Kobath menanyakan terkait upaya pelestarian budaya suku pribumi Taiwan tersebut. Totu, seorang anggota rombongan menjawab bahwa suku mereka merupakan suku minoritas di Taiwan dan pernah mengalami krisis akan punah terutama bahasa.

Akan tetapi, kata Totu, dengan dukungan pemerintah segera dilakukan upaya-upaya penyelamatan budaya suku-suku mereka. “Ditingkat SD hingga SMA, siswa diajarkan bahasa ibu Aborigin Taiwan. Ditempat kami, seseorang akan mendapat penilaian lebih jika menguasai bahasa ibu. Kami punya lembaga Penelitian dan Litbang dalam hal budaya. Dan seluruh keluarga berperan aktif mengajarkan budaya asli suku kami,” jelas Totu.

Disarankan Totu, jika seseorang mengaku sebagai bagian dari suku Gayo, maka harus disertai dengan kemampuan berbahasa Gayo.

Saat acara akan berakhir, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Aceh Tengah, Mukhlis Gayo, SH meminta pakaian adat yang dikenakan Totu untuk digantikan dengan seperangkat pakaian Kerawang Gayo miliknya. Totu dengan senang hati melepaskan rompi dan topi bermotif khas suku dari Formosa tersebut dan langsung dikenakan oleh Mukhlis Gayo.

Menanggapi pencerahan bersama para tamu dari Taiwan tersebut, seorang tokoh adat Gayo yang juga pernah menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah, Drs. Ibnu Hajar Laut Tawar mengaku sedih, malu dan bangga. “Saya sangat miris dengan keadaan Urang Gayo saat ini, terutama dalam hal bahasa Gayo yang akan segera punah. Juga dengan adanya penyesatan seni budaya Gayo,” ujar Ibnu Hajar.

Seni Gayo sudah sesat, kata Ibnu Hajar. Antar seniman atau klub Didong sudah disatukan sehingga sekarang akibatnya Didong tak kompetitif lagi. Begitu juga dengan tari Munalo yang sudah sangat berbeda dengan aslinya. “Tari Munalo adalah tarian sejarah Gajah Putih. Dan yang tadi dipertontonkan sangat berbeda dengan tari Munalo sesungguhnya. Jangan sesatkan seni Gayo karena orang akan berpikir seperti itulah budaya Gayo yang terkesan agak glamor,” pinta Ibnu Hajar.

Ibnu Hajar mengaku juga merasa malu. “Kita harusnya malu karena harus ada kehadiran saudara-saudara kita dari Taiwan yang membangunkan kita dari tidur lelap sehingga lalai dalam upaya pelestarian budaya Gayo. Dan untuk ini selaku orang tua, saya angkat salut tehadap upaya-upaya kaum muda Gayo seperti adanya ide acara seperti ini.

“Kedepan, kita harus bangkit dan introfeksi diri serta berbuat untuk keselamatan budaya Gayo,” pinta Ibnu Hajar yang hadir didampingi oleh sejumlah rekannya tokoh sejarah dan budaya Gayo tersebut.   







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close