Banda Aceh — Pada masa kerajaan Aceh hingga Aceh dipimpim oleh Sultanah Safiatuddin, Lampulo Banda Aceh tepatnya di desa Biduen merupakan tempat lokalisasi yang disediakan untuk pedagang-pedagang yang datang dari luar Aceh.
“Dulu nama desanya Biduen atau wanita yang luasnya hingga ke pinggirin Alue Naga sekarang desa tersebut berubah menjadi desa Bidok,” sebut salah seorang pakar sejarah Aceh, M. Adli Abdullah kepada The Globe Journal, Selasa (10/11).
Menurut Adli, lokalisasi tersebut disediakan untuk pedagang-pedagang luar Aceh seperti China, Persia, India dan Eropa. “Mereka umumnya anak buah kapal yang singgah di Krueng Aceh untuk berbagai keperluan perdagangan,” ujar Adli.
Tempat lokalisasi tersebut baru ditutup setelah datang Syeuh Abdurrauf As-Singkili atau Teungku Syiah Kuala, “Untuk menyadarkan dan mengantisipasi daerah tersebut menjadi tempat lokalisasi kembali, Syiah Kuala mendirikan Dayah dipinggir laut Syiah Kuala atau Alu Naga dan beliau tinggal di dayah tersebut,’ jelas Adli.
Adli menyebutkan, ini perbedaan ulama dulu dengan ulama sekarang, “Ulama dulu memilih tinggal ditempat yang ada maksiatnya agar bisa menyadarkan pelakunya tapi ulama sekarang malah memilih untuk tinggal di tempat yang tidak ada maksiat,” ungkap Adli sambil tersenyum.(002)