Banda Aceh - Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh dan Institute Peradaban Nasional Aceh (IPNA) meluncurkan novel terbaru karya RH. Fitriadi berjudul Marwah di Ujung Bara. Novel tersebut menceritakan konflik yang pernah terjadi di Aceh selama 35 tahun belakangan.
“Sebuah cerita luar biasa, positif, dan alur-alur ceritanya bisa diceritakan dengan soft, tidak menjudge tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya,” ujar Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal usai membuka acara diskusi buku dan peluncuran buku Marwah di Ujung Bara, Minggu (8/1) di AAC Dayan Dawood.
Illiza mengatakan bahwa cerita-cerita yang diungkapkan dalam novel tersebut menjadi sebuah tantangan bagi para pemuda Aceh untuk mencari solusi tentang keadaan Aceh. Dia juga mengungkapkan rasa bangganya tentang sebuah novel yang ditulis oleh penulis Aceh tersebut.
“Hal ini bisa mengangkat harkat dan martabat Aceh di mata nasional dan internasional,”ungkapnya.
Rentetan kisah yang dituliskan tersebut menceritakan rentetan konflik yang mendera negeri seribu sultan, Aceh, selama 35 tahun. Tidak hanya itu, perjuangan gerakan pemuda pada tahun 1999 juga diceritakan secara gamblang dan utuh.
“Ketika jurnalisme dibungkam, maka sastra yang akan berbicara,” ujar Ketua FLP Aceh, Riza Rahmi mengenai kisah-kisah yang tertuang dalam novel yang tidak dibeberkan pada publik.
Novel Marwah di Ujung Bara menurut Illiza mampu menceritakan penyelesaian konflik Aceh dengan mudah. Sama mudahnya ketika menanyakan pada diri sendiri apa yang bisa diperbuat setiap individu untuk mencari solusi penyelesaian dari letupan-letupan masalah yang ada.