London — Sekitar 20 persen hewan mamalia langka yang dikenal di dunia, sepertiganya amphibi dan lebih dari seperempat-nya hewan reptile, dalam ancaman kepunahan menurut “Red List” yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Laporan ini merupakan kumpulan hasil penelitian terbaru yang dilakukan lembaga tersebut. Demikian dilansir oleh Guardian, Senin (2/11)
Diantara hewan yang terancam punah tersebut adalah Gorila Dataran Rendah dan Unta dua punuk Asia Tengah. Harimau Tamarin berkepala emas masuk dalam “Red List” hewan yang terancam punah, sedangkan burung Dara Socorro terancam lenyap di alam liar. Hanya satu jenis spesies Kelinci Berjumbai, yang hidup di Panama Tengah, terdengar kabarnya dalm tiga tahun terakhir dan percobaan penangkaran terhadap hewan ini gagal.
IUCN memperkirakan hampir 17.300 dari sebanyak 147.677 hewan yang telah di teliti berada dalam ancaman kepunahan.
Dr Ben Collier, peneliti yang terlibat dalam penelitian dari London Zoological Society, mengatakan sudah saatnya untuk mengambil tindakan untuk mencegah kepunahan hewan tersebut di alam liar. “Kita harus menjamin bahwa warisan abadi ini jangan terhapus dari muka bumi, mereka telah memberikan banyak manfaat seperti siklus nutrient dan iklim."
Terdapat 5.490 spesies mamalia di dunia, 79 diantaranya nyaris punah, paling tidak di alam liar. 188 spesies mamalia tersebut dalam keadaan kritis, 449 sudah langka, dan 505 dalam keadaan menuju langka.
Diantara hewan amphibi, Katak Semprot Kihansi Tanzania, sudah punah di alam liar karena terkena penyakit jamur di habitatnya selama masa konstruksi Dam di Kihansi, pada musim gugur yang telah mengeringkan tempat tinggal mereka.
Queen of Andes, bunga yang hidup di dataran tinggi Andes, yang menghasilkan biji dalam waktu 80 tahun dan kemudian mati, sedang menanti kepunahan. Perubahan iklim telah melemahkan kemampuannya untuk berbunga dan hewan-hewan ternak menginjak mati tanama mudanya. (Guardian-MNA/003)