THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Seni-Budaya»Christine Hakim Garap Film Cahaya Aceh


Christine Hakim Garap Film Cahaya Aceh
Khalisuddin
Senin, 04 Januari 2010 00:00 WIB
Takengen-Aktris Nasional kawakan yang pernah memerankan Cut Nyak Dhien kembali lagi ke Aceh, bukan sekedar kunjungan biasa, tapi tampaknya si Cut Nyak, Christine Hakim ini akan mengabdi dengan melakukan promosi Sumber Daya Alam (SDA) dengan menggarap film documenter Aceh.

“Saya produser untuk film ini, dan untuk sutradaranya adalah Ricky Avenzora,” kata si Cut Nyak ini kepada The Globe Journal disela-sela pertemuannya dengan “Sang Penyair” Ibrahim Kadir, Minggu (3/12) sore di halaman Masjid Babussalam Kemili, Kabupaten Aceh Tengah.

Sesaat kemudian Ibrahim Kadir memberikan opoh ulen-ulen bersulam Kerawang Gayo kepada Christine Hakim. Keduanya larut bernostalgia. Christine Hakim selalu memanggil “Penyair” kepada Ibrahim Kadir. Dan sebaliknya, Penyair memanggil “Cut Nyak” kepada Christine Hakim. Keduanya merupakan pemeran penting dalam film Cut Nyak Dhien yang merupakan film pertama produk Indonesia layak tampil di ajang festifal film Chanes di Prancis 1989 lalu.

Ibrahim Kadir berperan sebagai Sang Penyair merupakan orang kepercayaan Cut Nyak Dhien yang bertugas sebagai pembakar semangat pejuang Aceh melawan kaum kafir Belanda. Ibrahim Kadir tampak sangat gembira bisa bertemu kembali dengan Chistine Hakim. “Kami sangat akrab sejak awal jumpa. Tentu sebatas sesama seniman,” kata Ibrahim Kadir sambil tertawa.

Setelah puas bercerita, bersenda gurau dan berekspresi dengan mengulang naskah film Cut Nyak Dhien, keduanya kemudian bersama sutradara film Dokumenter “Cahaya Aceh”, DR. Ricky Avenzora MSi mendengarkan gadis-gadis dari Sanggar Negeri Antara yang berlatih menyanyikan lagu “Aceh Damai” yang merupakan karya Ibrahim Kadir tahun 2004 lalu.

Menurut keterangan Sutradara film documenter tersebut, Ricky Avenzora, tujuan pembuatan film ini adalah keinginan untuk melestarikan heritage di Indonesia, dalam bentuk natural atau seni budaya. “Saat ini, hampir limapuluhan film documenter beredar di seluruh dunia setiap tahunnya. Tapi yang dibuat oleh bangsa kita sendiri tak lebih dari lima film,” kata Ricky.

Karena inilah, lanjut Ricky, ibu Christine mengajak begitu banyak orang termasuk saya untuk berbuat sesuatu untuk bangsa ini. “Jadi, kenapa pembuatan film ini kemudian menjadi sebuah perjuangan. Karena film documenter itu nilai jualnya tidak ada. Tidak sama dengan film layer lebar. Membuat satu film documenter pada standar minimal tidak kurang butuh biaya Rp. 400 juta. Tapi kemudian nilai jualnya paling Rp. 15 hingga Rp. 20 juta saja. Itupun bila dibeli  oleh televisi nasional. Dan harga itu sudah hebat sekali,” papar Ricky.

Menurut Ricky, sangat mungkin karena kesadaran masih kurang atau karena minimnya kemampuan finansial. “Padahal, kalau dibayangkan, bagaimana jika suatu saat anak cucu kita harus membeli data dari orang lain. Itupun kalau ada barangnya,” kata Ricky.

Pembuatan film ini adalah tantangan moral buat kita sebagai anak bangsa, jelas Ricky lebih lanjut. Karena itulah ibu Christine mengajak saya, kata Ricky yang bergelar Doktor  dan mengajar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

“Kebetulan bidang keahlian saya Ecotourism Planing, jadi diminta untuk menjembatani apa yang di maksud oleh ibu Christine yang saya nilai sangat antusias dalam pelestarian heritage yang dimiliki bangsa kita. Sebagai written dan director di tim ini yang bertugas melakukan riset dan menulis skripnya. Ya sebagai sutradara lah,” kata Ricki sambil tertawa.

Untuk judul film tersebut, dijelaskan Ricky yang dipilih adalah “Cahaya di Aceh”. Untuk ini Ricky menerjemahkan ada empat cahaya, pertama cahaya di alam, cahaya matahari terbit hingga tenggelam yang dibutuhkan oleh semua makhluk dibumi termasuk Aceh dan Gayo. Kedua, cahaya insan. Seterusnya cahaya harapan, yakni SDA yang menjadi sumber kehidupan manusia. Dan terakhir cahaya nurani yang dimiliki oleh semua manusia.

“Dengan empat hal ini kita ingin menghantarkan kondisi Aceh kepada khalayak diseluruh dunia bahwa Aceh mempunyai potensi alam dan budaya yang sangat luar biasa. Untuk seterusnya diharapkan siapapun siap untuk membangun negeri yang sesungguhnya sangat kaya raya ini,” papar Ricky.

Ditanya kapan film tersebut akan diluncurkan, Ricky berharap semua proses yang dijalani dapat berjalan dengan baik. Semua pihak terkait dapat bekerja sama seperti Pemkab Aceh Tengah dan sebelumnya di Sabang yang telah turut memfasilitasi, maka kemungkinan di akhir Maret 2010 film tersebut sudah bisa diluncurkan ke public.

Lebih lanjut Ricky membandingkan antara perbedaan pembuatan documenter dan iklan televisi. “satu iklan tv yang baik dan hanya berdurasi 30 detik hingga 3 menit akan butuh biaya tidak kurang dari Rp. 2 Milyar, belum lagi biaya membayar tayangnya yang hanya bertahan tidak lebih dari 3 bulan dimana orang akan bosan. 

Kita tidak ingin seperti itu untuk mempromosikan Aceh, kata Ricky. “Kita lebih memilih membuat film documenter dengan biaya yang jauh lebih murah dan durasi yang lebih panjang, kita ingin tampilkan bahwa Aceh sudah siap membangun pasca musibah Tsunami dan MoU Damai Helsinki,” rinci Ricky.

Ricky berharap kejadian di Jawa tidak terjadi di Aceh dimana banyak pemerintah kabupaten dan kota yang memasang billboard dimana-mana bahkan di kota lain untuk mempromosikan potensi daerahya sehingga sangat merusak pemandangan kota akibat banyaknya pemasangan billboard yang salah letak. “Kita tidak katakan mereka buruk, tapi setidaknya sejak dini kita dapat menghindari ekses-ekses negatif dari promosi seperti itu,” pungkas Ricky sambil pamit menuju Kampung Celala Kecamatan Celala untuk observasi dan merekam suara seniman Didong Sentral Cempaka binaan Camat setempat, Subhan Sahara.[003]







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close