Takengon - Sebuah majalah budaya (cultural magazine) bernama Saman diterbitkan di Aceh oleh Lembaga Budaya Saman yang juga bergabung dalam Saman Cultural Groups. Untuk edisi pertamanya, Oktober 2010 telah beredar termasuk di Takengon Aceh Tengah, Senin (18/10).
Dalam editorial majalah yang dicetak lux dan dengan disain cukup menarik ini disebutkan ide penerbitan diawali saat sejumlah pemerhati budaya mengadakan pertemuan di Banda Aceh pada 10 Agustus 2009 lalu yang dihadiri antara lain Teuku Kemal Fasya, Herman RN, Musmarwan Abdullah, Jauhari Samalanga, Arafat Nur dan Thayeb Loh Angen dengan hasil kesepakatan membentuk sebuah jurnal kebudayaan dengan nama "SaMan" yang identitasnya "Cultural Magazine".
Pertemuan kembali berlanjut pada 24 Desember 2009 difasilitasi H Harun Keuchik Leumik dengan peserta pertemuan yang lebih banyak lagi dan berhasil menguatkan ide tersebut menjadi kenyataan .
Menurut salah seorang seniman yang juga sebagai dewan redaksi dimajalah tersebut, Salman Yoga S, majalah tersebut merupakan majalah budaya pertama di Aceh yang independen dan profesional.
"Majalah sejenis memang pernah terbit beberapa tahun silam oleh Pemerintah dan salah satu lembaga kebudayaan di Aceh. Akan tetapi majalah ini berbeda karena selain pengelolaannya yang independen juga bermottokan merdeka berkarya jernih berpikir,” jelas Salman yang pernah menjadi Joki Kuda Pacu Gayo saat kecil hingga menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah ini.
Menjawab pertanyaan mengapa memakai nama Saman, dijelaskan Salman karena diharapkan akan menghilangkan ego territorial di Aceh yang selama ini agak mencuat permukaan. Selain itu juga karena Saman merupakan tarian tradisional Gayo yang berakar kuat serta sudah menjadi warisan dunia.
Dalam pembiayaan, diungkapkan Salman yang juga penulis sejumlah buku ini bersumber dari iklan, donasi kelompok masyarakat yang bersimpati serta individu-individu pemerhati budaya. "Untuk edisi pertama kita cetak 1000 eksemplar dulu dan edisi berikutnya mudah-mudahan akan terus bertambah," harap Salman.
Seorang pemerhati budaya di Takengon, Zul Aman Keshi mengaku sangat gembira atas penerbitan majalah tersebut. "Mudah-mudahan majalah ini terus eksis dan berjalan sesuai tujuannya," kata Zul yang kerap berperan sebagai penari Guel, disejumlah even tersebut.
Majalah yang bercover penari Saman tersebut dibandrol Rp.15 ribu untuk harga promosi. Bisa didapatkan secara berlangganan dengan mengirimkan SMS ke nomor 085276133071 atau ke email: langganan@samanculturalmagazine.com.