THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Seni-Budaya»2009, Tahun Kebangkitan Gayo


2009, Tahun Kebangkitan Gayo
Khalisuddin
Jum`at, 25 Desember 2009 00:00 WIB
Takengen-Sejumlah tokoh pemerhati sejarah, adat dan budaya Gayo Aceh Tengah menyepakati tahun 2009 adalah tahun kebangkitan Urang Gayo dalam hal penggalian sejarah, adat dan budaya Gayo yang dimotori oleh kalangan muda di dataran Tinggi Gayo.

Statemen ini dikeluarkan Kamis (24/12) malam oleh sejarawan dan budayawan Gayo,  Drs. Ibnu Hajar Lut Tawar dalam sebuah pertemuan tak resmi akhir tahun 2009 sekaligus pembahasan rencana Konferensi Aliansi Gayo Sedunia 2010 di kediaman rektor Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon, Ir. Syukur Kobath.

Menurut Ibnu Hajar, banyak hal terjadi di tahun 2009 terkait sejarah, adat, seni dan budaya Gayo. “Saya berani katakan tahun 2009 adalah tahun kebangkitan Gayo dalam penggalian sejarah, adat, seni dan budaya Gayo yang ditunjukkan dengan tingginya animo mengembalikan citra dan jati diri Gayo bersumber dari kalangan muda Gayo. Generasi muda tentu melihat kedepan. Berbeda dengan generasi tua yang cenderung melihat kebelakang,” cetus Ibnu Hajar yang pernah menjabat Setdakab Aceh Tengah ini.

Ibnu Hajar mengaku sangat gembira dan terharu terkait upaya-upaya yang ditempuh generasi muda Gayo di tahun 2009 dan optimis akan membawa hasil yang menggembirakan terkait penggalian kembali citra dan jati diri Gayo.  “Jika gerakan ini dimotori generasi tua, saya pesimis karena hanya akan jadi angan-angan. Tapi karena dimotori oleh kalangan muda, saya yakin upaya ini akan berhasil,” tegas Ibnu Hajar bersemangat.

Sangat berbeda dengan upaya-upaya terdahulu, lanjut Ibnu Hajar. Beberapa tahun lalu, sejumlah pemerhati Gayo merasakan banyak yang hilang dari Gayo, tapi saat dikatakan bahwa ada barang atau kekayaan Gayo yang hilang, maka tak ada yang mengaku kehilangan.

“Malah orang-orang yang mengungkap adanya yang hilang tersebut dianggap mersi alias mereng sedikit,” ungkap Ibnu Hajar. Kekhawatiran saya dan teman-teman tidak digubris karena dinilai tidak mengena dengan program yang sedang dijalankan saat itu berupa pembangunan fisik.

Sejumlah upaya pelestarian adat dan budaya seperti seminar Adat Sarak Opat, pembuatan film Reje Linge dan sejumlah kegiatan lain tak digubris karena dianggap tak sesuai dengan program yang sedang dijalankan saat itu.

Diibaratkan Ibnu Hajar, ike ara ilen jema musarik bearti selamat ilen kurik ari samar ni kalang (jika masih ada orang yang berteriak, maka ayam masih aman dari sambaran elang). “Sekarang Urang Gayo sudah menjerit karena tak ada lagi barang milik Gayo yang laku di jual. Besarnya nilai APBK Aceh Tengah yang mencapai Rp 400 Milyar kemungkinan hanya menguntungkan sebagian orang saja atau malah orang lain,” tukas Ibnu Hajar.

Penilaian Ibnu Hajar, pergeseran nilai adat Gayo juga dipicu oleh adanya kebijakan yang tidak bijak. Polisi Pamong Praja yang juga Urang Gayo ditugaskan mengusir dan kadang-kadang secara paksa pedagang sayur mayur yang datang dari pelosok Aceh Tengah ke pasar tradisional Jalan Peteri Ijo yang dibuka dini hari hingga sekitar pukul 9.00 pagi. “Cara pengusiran tersebut sangat bertentangan dengan adat dan budaya Gayo. Idealnya agar segera dibangun pasar tersendiri bagi pedagang kaki lima sayur mayur tersebut agar jangan timbul tindakan yang melanggar kesantunan sesuai ajaran Islam dan adat Gayo,” pinta Ibnu Hajar.

Terkait kesetiaan terhadap bahasa, Ibnu Hajar menceritakan pengalamannya saat menunai ibadah Haji beberapa waktu lalu. Dari keseluruhan jama’ah Haji tahun 2009, ternyata orang Aceh yang paling setia terhadap bahasanya, yang kedua Urang Gayo dari Belang Kejeren dan terbobrok dari Aceh Tengah. “Saat menerima telepon dari anak atau keluarga di tanah air, saya perhatikan saudara kita dari Aceh berbicara bahasa Aceh dengan lawan bicaranya, begitu juga dengan jama’ah Haji asal Gayo Lues tetap berbahasa Gayo Belang Kejeren. Sangat berbeda dengan urang Gayo asal Aceh Tengah yang kebanyakan berbahasa Melayu,” ungkap Ibnu Hajar.  

Berdasarkan penelitian seorang teman, lanjut Ibnu Hajar, jika suatu suku yang memiliki polulasi penduduk kurang dari 1 juta orang dan tidak setia dengan adat, budaya terutama bahasanya, maka suku tersebut akan hilang dari permukaan bumi. “Sangat mungkin, hilangnya suku Gayo dimulai dari Aceh Tengah,” kata Ibnu Hajar.

Mengakhiri pemaparannya, Ibnu Hajar sangat berharap agar upaya-upaya penyelamatan adat, budaya, bahasa dan penggalian sejarah Gayo dapat didukung oleh Pemerintahan di Gayo seperti rencana penyelenggaraan Konferensi Aliansi Gayo Sedunia. “Tolong, jangan biarkan kami menjadi generasi yang berdosa karena tidak dapat meneruskan warisan kepada penerus Gayo,” pinta Ibnu Hajar bernada memelas.

Selain Syukur Kobath, dalam pertemuan yang juga dihadiri Ir Mursyid, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Aceh, Pemerhati Hukum Adat Gayo, Duski SH. Yusra Habib Abdul Gani, putra Gayo penulis buku Self Government berkewarganegaraan Denmark. Seorang peneliti sejarah Gayo, M Jihad  dan sejumlah tokoh muda tersebut disepakati akan mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan Konferensi Aliansi Gayo Sedunia di tahun 2010.

Disepakati, saat konferensi tersebut dihadirkan sejumlah pembicara ahli bidang sejarah, bidang adat dan bidang budaya termasuk ahli kepurbakalaan. Adapun peserta yang diundang adalah perwakilan dari seluruh komunitas urang Gayo yang ada di Aceh, Indonesia dan bahkan dari luar negeri yang diduga punya kekerabatan dengan Gayo seperti di Kamboja, dataran China dan kepulauan Formosa, Taiwan.







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close