SerambiPolitikResolusi Konflik: Perdamaian Butuh Kepercayaan dan Pembuktiannya
Resolusi Konflik: Perdamaian Butuh Kepercayaan dan Pembuktiannya
Minggu, 22 Januari 2012 00:00 WIB
Kalimat yang dilontarkan Jusuf Kalla menjadi pembuka laporan ini, juga sekaligus menjadi kalimat pembuka dalam bagian pertama buku Keeping The Trust For Peace karya, Farid Husain. Pasalnya, kalimat ini merupakan cikal bakal lahirnya buku ini.
Buku ini merupakan buku kedua yang dikeluarkan lelaki kelahiran Soppeng, 61 tahun silam ini. Buku cetakan pertama ini dicetak 4 ribu eksemplar. Buku pertama yang dikeluarkan berjudul, "To See the Unseen, di Balik Damai Aceh". Buku ini mengupas tentang proses perdamaian di Aceh.
Terlepas dari itu. Kalimat yang telontar dari Jusuf Kalla, menurut, Farid Husain, dianalogikan sederhana atas gambaran begitu sulitnya menjaga, merawat, dan menumbuhkembangkan perdamaian di Aceh. Itu tidaklah semudah dengan perjuangan dalam proses perdamaian yang dilakukan.
Butuh pekerjaan yang ekstra keras. Sebab, perdamaian memegang peranan penting dala upaya membangun suatu bangsa. Pembangunan di suatu negara dipastikan tidak akan berjalan jika konflik tetap ada. Dalam buku yang ditulis penerima bintang kehormatan karena komitmennya pada perdamaian ini mengupas tuntas bagaimana menjaga perdamaian di Aceh selama enam tahun.
"Bagaimana perjuangan selama enam tahun menjaga perdamaian di Aceh ada dalam buku ini. Sangat sulit menjaga dan merawat perdamaian dibanding proses perdamaiannya," paparnya, saat bedah buku karyanya di Gedung Graha Pena Makassar, Sabtu, 21 Desember.
Pembedah dalam acara ini Komisaris Utama PT Media Fajar, HM Alwi Hamu, Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, serta dari kalangan akademisi, Pahir Halim, Prof M Kautsar B, Dahlan Abubakar, Prof Halide, Dr Hasan Anoes, Dr Husein Anoes, serta dari kalangan aktivis Ketua ACC Sulsel, Abdul Muttalib.
Dimata para pembedah tidak satupun yang menilai adanya rekayasa dalam proses pembuatannya. Seperti yang diutarakan, Dr Hasan Anoes. Menurutnya, buku ini sangat bagus. Buku yang disunting Salim Shahab dan Eben Ezer Siadari, ditulis dengan bahasa yang datar. Semua nilai-nilai dalam judul buku mudah dipahami.
Mulai dari cover seakan sudah berbicara dengan sendirinya. Gambar masjid, yang melambangkan rumah Allah. Dan apa yang ada di rumah Allah itu adalah kedamaian. Prof Tahir Khasnawi, juga menegaskan hal yang sama, dia menilai buku ini menggambarkan sisi yang humanis.
"Ada semangat perdamaian yang harus selalu dipromosikan. Ini bisa menjadi salah satu referensi bagi para mahasiswa. Editingnya enak," imbuhnya.
Lain lagi dengan, Dr Husein Anus. Dia melihat penulis buku itu datang dengan sikap idealisme yang tinggi. Dia tetap merendah diri, meski banyak yang memuji karena dia mampu berbuat untuk perdamaian.
Berbicara mengenai rendah diri dalam menjaga perdamaian di Aceh, Alwi Hamu, menambahkan, sosok Farid Husain, memang merupakan orang yang sopan, rajin. Bahkan, saat masih berstatus seorang pelajar dia sudah mampu menjadi juru damai.
"Kalau saya dan kakaknya (Syarifuddin Husain) bertengkar, dialah (Farid) yang mendamaikannya," ucapnya.
Menjaga proses perdamaian di Aceh merupakan suatu bagian yang penting di Indonesia. Perdamaian di Aceh telah menoreh sejarah perdamaian dunia. Penilaian itu sangat tepat. Karena perdamaian di Aceh telah melewati satu fase pemerintahan. Fase ini disebut fase sensitif dan kritis.
Bagaimana fase ini berhasil dilalui? Tahapan apa saja yang telah terjadi? Semuanya dijelaskan di dalam buku ini. Kejujuran menjadi poin penting dalam penulisan buku ini.
"Sedikitpun tidak ada yang saya ubah atau tambah. Tetapi, ada bagian yang sangat penting yang tidak dimasukkan. Itu karena sangat rahasia," tutup, Farid.