Kasus kekerasan dengan senjata api
yang kembali merenggut nyawa rakyat sipil kembali terjadi. Seolah tiada akhir,
hampir setiap bulannya kasus pembunuhan semakin kerap terjadi. Yang menarik
untuk di simak, akhir-akhir ini yang menjadi korban adalah warga pendatang yang
bekerja sebagai buruh. Apakah ada kaitan untuk membangkitkan lagi kebencian
terhadap suku tertentu?
Untuk memperkaya khazanah berpikir kita, The Globe Journal,
Minggu (1/1) mengadakan wawancara dengan Aryos Nivada selaku pengamat politik dan keamanan. Bagaimana pandangan sang pengamat terkait kasus tersebut? Berikut petikan wawancaranya.
Menjelang tutup
tahun baru, Sabtu (31/12) sekitar pukul 20.30 WIB telah terjadi dua kasus
penembakan terhadap masyarakat sipil. Korbannya
adalah etnis Jawa. Apa pendapat anda?
Saya melihat kejadian penembakan ini berbeda dari
sebelumnya.Motif kesukuan dilakukan pelaku, menurut saya ini bagian yang sudah
terdesain karena setelah saya baca media massa kejadiannya persis sama apa yg
terjadi di Banda Aceh Ulee kareng Banda Aceh dan Bireuen. Kalau mau berpikir
kritis mengapa kejadian ini muncul ketika ada gejolak di elit politik yang
sedang berkonflik di ranah pilkada.
Berarti,
dari kaca mata anda, penembakan di dua lokasi itu ada kaitannya dengan Pemilukada
Aceh?
Sebelum saya menjawab ini saya berikan daftar kasus. Penembakan Saiful Cagee di Matang, pembunuhan sales di Simpang Ulim, penembakan 7 karyawan
PT. Setya Agung (4 tewas), penembakan mandor PT. Satya Agung Pasee,
penggranatan di Seuramoe Irwandi-Muhyan, penggranatan di Wisma Lampriet,
penembakan 10 pekerja kabel telkomsel di Bireuen (3 tewas), penembakan 1 orang
karyawan toko boneka di Ulee Kareng. Merujuk pada daftar kasus jelas ini
terjadi pada momentum pilkada. Relasi kuat mengarah ke sana. Ada
ketidaksenangan atas manuver politik atau zigzag politik salah satu elit
politik di lokal Aceh. Bahkan membuat Jakarta terbelah dari sisi penyelesaian
kisruh politik Aceh.
Maksud anda Jakarta
terbelah?
Dirjen Otonomi
Daerah Djohermansyah Djohan telah mengintervensi komisioner KIP Aceh untuk
menunda Pilkada demi menjaga perdamaian Aceh. "Tentu akan lebih baik kalau
Pemilukada Aceh kita minimalisir dari konflik. Jangan sampai Pemilukada ini
justru menimbulkan kekisruhan," (waspada, 29/12/11). Pelaksana Harian
Sekretaris Menko Polhukam, Sutiyono menegaskan: "Tidak ada Perpu.
Pemilukada Aceh tetap berjalan seperti yang direncanakan KIP Aceh." (suaramerdeka.com, 28/12/11). Itu bukti Jakarta terbelah
Lalu kenapa dalam
beberapa kasus, sasarannya adalah pendatang yang notabenenya adalah orang Jawa
yang mencari sesuap nasi di Aceh?
Kalau jawabannya pertanyaan itu karena mereka ingin
mengembalikan cara Orde Baru serta ingin membangun kebencian kembali terhadap
orang Jawa
Ada indikasi bila serentetan kasus ini adalah "sumbangan" elit politik yang berkonflik di Pilkada?
Iya. Besar peluangnya begitu. Bisa juga salah satu
elit politik yang berkonflik membangun deal dengan pihak ketiga untuk
menggunakan cara kriminalitas politik, dealnya bisa bisnis ataupun kepentingan
pilpres atau pemilu
Dari sudut pandang
yang bagimana anda memberikan penilaian seperti itu?
Muaranya adalah kepentingan. Kalau sudah sepakat apa
pun bentuk dan caranya bisa dilakukan tanpa terkecuali.
Kejadian di Bireuen
dan Ulee Kareng merupakan kasus kekerasan yang kesekian di Aceh menjelang Pilkada.
Bagaimana anda melihat ini. adakah kaitan dengan ketidakmampuan dan pembiaran
dari Polda Aceh terhadap beredarnya senpi ilegal di Aceh?
Ini menambah beban baru atau bahasa lainnya PR bagi Polda Aceh sekaligus pertaruhan nama baik Kapolda Aceh. Bisa jadi Kapolda akan
dicopot bila tidak bisa membangun rasa keamanan serta stabilitas keamanan kurang.
Apa lagi katanya dibantu Brimob dari Palembang. katanya sudah siap dan mampu. Jangan sibuk
mengurus anak punk saja bisanya. Ini sangat serius sekali. Menyangkut hak hidup
dan kebrutalan orang-orang yang punya senjata dan akses kekuasaan.
Kalangan masyarakat menilai Polisi sengaja
membiarkan senjata ilegal beredar di Aceh. Ini dilihat dari ketidakmampuan
Polda Aceh dalam mengungkap kasus kekerasan bersenpi di Aceh dan kasus lain
terus terjadi. Menurut anda?
Saya menilai bukan membiarkan tapi memang posisi Aceh
yang strategis secara geografis untuk membeli senjata karena dekat dengan
negara di Asia Tenggara. Besar peluang senjata sisa konflik belum sepenuhnya diserahkan
saat Aceh
Monitoring Mission (AMM) berada di Aceh.
kembali ke kasus
penembakan di Bireuen dan Banda Aceh, banyak pihak menduga ini upaya
pengkondisian agar aparat keamanan bisa kembali lagi ke Aceh. Apa pendapat
anda?
Kalau menduga-duga pasti bisa terjadi. Tapi saya
melihat tidak ada kepentingan aparat keamanan karena mereka terikat perjanjian
damai. Yang menarik apakah kriminalitas dari upaya pemberitahuan kalau Aceh
harus dipenuhi keinginannya, khususnya keinginan para elit politik.
Tuntutan anda
kepada Polda Aceh?
Sederhana saja. Saya berharap kepada Kapolda Aceh
harus bertindak cepat menangkap pelaku agar memberikan efek jera. Terjadi dua
kasus penembakan ini semakin banyak hutang Kapolda Aceh menuntaskan kasus
kriminalitas bernuansa politik. Kapolda tidak harus takut, jika pelakunya sudah
jelas dari kelompok yang berkuasa di Aceh atau pihak diluar Aceh yakni orang
ketiga. Kebenaran harus ditegakkan, walaupun itu pahit diterima.
Ini bukan berbicara tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi keberanian pihak
kepolisian mengungkapkan kasus walaupun itu ulah kelompok atau pesan dari pihak
tertentu. Pengalaman pilkada 2006 dan pilkada 2009 kriminalitas bernuansa politik
bisa terungkap bisa dihitung dengan jari.