THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Politik»Penembakan Itu "Sumbangan" Kisruh Politik Pemilukada


Penembakan Itu "Sumbangan" Kisruh Politik Pemilukada
Muhajir Juli | The Globe Journal
Minggu, 01 Januari 2012 00:00 WIB

Kasus kekerasan dengan senjata api yang kembali merenggut nyawa rakyat sipil kembali terjadi. Seolah tiada akhir, hampir setiap bulannya kasus pembunuhan semakin kerap terjadi. Yang menarik untuk di simak, akhir-akhir ini yang menjadi korban adalah warga pendatang yang bekerja sebagai buruh. Apakah ada kaitan untuk membangkitkan lagi kebencian terhadap suku tertentu?

Untuk memperkaya khazanah berpikir kita, The Globe Journal, Minggu (1/1) mengadakan wawancara dengan Aryos Nivada selaku pengamat politik dan keamanan. Bagaimana pandangan sang pengamat terkait kasus tersebut? Berikut petikan wawancaranya.

Menjelang tutup tahun baru, Sabtu (31/12) sekitar pukul 20.30 WIB telah terjadi dua kasus penembakan terhadap masyarakat sipil.  Korbannya adalah etnis Jawa. Apa pendapat anda?

Saya melihat kejadian penembakan ini berbeda dari sebelumnya.Motif kesukuan dilakukan pelaku, menurut saya ini bagian yang sudah terdesain karena setelah saya baca media massa kejadiannya persis sama apa yg terjadi di Banda Aceh Ulee kareng Banda Aceh dan Bireuen. Kalau mau berpikir kritis mengapa kejadian ini muncul ketika ada gejolak di elit politik yang sedang berkonflik di ranah pilkada.

Berarti, dari kaca mata anda, penembakan di dua lokasi itu ada kaitannya dengan Pemilukada Aceh?

Sebelum saya menjawab ini saya berikan daftar kasus. Penembakan Saiful Cagee di Matang, pembunuhan sales di Simpang Ulim, penembakan 7 karyawan PT. Setya Agung (4 tewas), penembakan mandor PT. Satya Agung Pasee, penggranatan di Seuramoe Irwandi-Muhyan, penggranatan di Wisma Lampriet, penembakan 10 pekerja kabel telkomsel di Bireuen (3 tewas), penembakan 1 orang karyawan toko boneka di Ulee Kareng. Merujuk pada daftar kasus jelas ini terjadi pada momentum pilkada. Relasi kuat mengarah ke sana. Ada ketidaksenangan atas manuver politik atau zigzag politik salah satu elit politik di lokal Aceh. Bahkan membuat Jakarta terbelah dari sisi penyelesaian kisruh politik Aceh.

Maksud anda Jakarta terbelah?

Dirjen Otonomi Daerah Djohermansyah Djohan telah mengintervensi komisioner KIP Aceh untuk menunda Pilkada demi menjaga perdamaian Aceh. "Tentu akan lebih baik kalau Pemilukada Aceh kita minimalisir dari konflik. Jangan sampai Pemilukada ini justru menimbulkan kekisruhan," (waspada, 29/12/11). Pelaksana Harian Sekretaris Menko Polhukam, Sutiyono menegaskan: "Tidak ada Perpu. Pemilukada Aceh tetap berjalan seperti yang direncanakan KIP Aceh." (suaramerdeka.com, 28/12/11). Itu bukti Jakarta terbelah

Lalu kenapa dalam beberapa kasus, sasarannya adalah pendatang yang notabenenya adalah orang Jawa yang mencari sesuap nasi di Aceh?

Kalau jawabannya pertanyaan itu karena mereka ingin mengembalikan cara Orde Baru serta ingin membangun kebencian kembali terhadap orang Jawa

Ada indikasi bila serentetan kasus ini adalah "sumbangan" elit politik yang berkonflik di Pilkada?

Iya. Besar peluangnya begitu. Bisa juga salah satu elit politik yang berkonflik membangun deal dengan pihak ketiga untuk menggunakan cara kriminalitas politik, dealnya bisa bisnis ataupun kepentingan pilpres atau pemilu

Dari sudut pandang yang bagimana anda memberikan penilaian seperti itu?

Muaranya adalah kepentingan. Kalau sudah sepakat apa pun bentuk dan caranya bisa dilakukan tanpa terkecuali.

Kejadian di Bireuen dan Ulee Kareng merupakan kasus kekerasan yang kesekian di Aceh menjelang Pilkada. Bagaimana anda melihat ini. adakah kaitan dengan ketidakmampuan dan pembiaran dari Polda Aceh terhadap beredarnya senpi ilegal di Aceh?

Ini menambah beban baru atau bahasa lainnya PR bagi Polda Aceh sekaligus pertaruhan nama baik Kapolda Aceh. Bisa jadi Kapolda akan dicopot bila tidak bisa membangun rasa keamanan serta stabilitas keamanan kurang. Apa lagi katanya dibantu Brimob dari Palembang. katanya sudah siap dan mampu. Jangan sibuk mengurus anak punk saja bisanya. Ini sangat serius sekali. Menyangkut hak hidup dan kebrutalan orang-orang yang punya senjata dan akses kekuasaan.

Kalangan masyarakat menilai Polisi sengaja membiarkan senjata ilegal beredar di Aceh. Ini dilihat dari ketidakmampuan Polda Aceh dalam mengungkap kasus kekerasan bersenpi di Aceh dan kasus lain terus terjadi. Menurut anda?

Saya menilai bukan membiarkan tapi memang posisi Aceh yang strategis secara geografis untuk membeli senjata karena dekat dengan negara di Asia Tenggara. Besar peluang senjata sisa konflik belum sepenuhnya diserahkan  saat Aceh Monitoring Mission (AMM) berada di Aceh.

kembali ke kasus penembakan di Bireuen dan Banda Aceh, banyak pihak menduga ini upaya pengkondisian agar aparat keamanan bisa kembali lagi ke Aceh. Apa pendapat anda?

Kalau menduga-duga pasti bisa terjadi. Tapi saya melihat tidak ada kepentingan aparat keamanan karena mereka terikat perjanjian damai. Yang menarik apakah kriminalitas dari upaya pemberitahuan kalau Aceh harus dipenuhi keinginannya, khususnya keinginan para elit politik.

Tuntutan anda kepada Polda Aceh?

Sederhana saja. Saya berharap kepada Kapolda Aceh harus bertindak cepat menangkap pelaku agar memberikan efek jera. Terjadi dua kasus penembakan ini semakin banyak hutang Kapolda Aceh menuntaskan kasus kriminalitas bernuansa politik. Kapolda tidak harus takut, jika pelakunya sudah jelas dari kelompok yang berkuasa di Aceh atau pihak diluar Aceh yakni orang ketiga. Kebenaran harus ditegakkan, walaupun itu pahit diterima. 

Ini bukan berbicara tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi keberanian pihak kepolisian mengungkapkan kasus walaupun itu ulah kelompok atau pesan dari pihak tertentu. Pengalaman pilkada 2006 dan pilkada 2009 kriminalitas bernuansa politik bisa terungkap bisa dihitung dengan jari.







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close