Banda Aceh — Advokat Senior, Mukhlis Mukhtar kepada wartawan di Tower Cafe, Jum’at (06/1) pagi tadi mengatakan kasus penembakan yang akhir-akhir ini sering terjadi di Aceh bisa menunda Pemilukada Aceh.
Ia mengingatkan agar semua pihak hati-hati dan waspada bahwa hari ini kita sedang digiring kembali dalam pusaran konflik. “Saya orang lapangan sejak dulu, kejadian beberapa hari ini mengingatkan saya kembali pada awal-awal konflik Aceh yang hampir sama persis. Ini mengulangi tidak ada hal-hal baru dan alasan lain,” kata mantan anggota DPRA ini.
Persoalan Aceh hari ini adalah masalah kewenangan, penjelasan tentang kewenangan Aceh ini sangat penting. “Jika Pemilukada ibarat sebuah pertandingan sepak bola, maka sangat berpengaruh dengan kondisi penembakan yang terjadi beberapa hari ini di Aceh,” kata dia lagi. Pertandingan sepak bola maksudnya jika penontonnya ribut maka pertandingan ditunda.
Kenapa dalam Pemilukada faktor keamanan menjadi penting? Ia merasakan namun tidak dapat mempertanggungjawabkan bahwa kasus penembakan dengan Pemilukada di Aceh ada hubungannya.
“Kalau tidak ada hubungan kenapa harus sekarang terjadi, yang menjadi korban juga orang-orang tertentu dan pengalaman saya yang lama di lapangan, juga lama sebagai anggota dewan bahwa gerakannya hampir sama dan ini terorganisir, terlatih, kemungkinan ada pendanaan dan tidak tersentuh hukum yang dilakukan oleh orang-orang tertentu,” pungkas Mukhlis Mukhtar saat berlangsungnya konperensi pers menyikapi dinamika politik dan keamanan di Aceh yang digagas oleh AJMI dan Kata Hati, tadi pagi.
Masih menurut Advokat senior ini, jika faktor kemananan terganggu maka menurut Undang-Undang itu bisa dilakukan tunda Pemilukada. “Tapi saya sangat sependapat bahwa kewenangan ini harus dimusyawarahkan dulu, jangan beralasan menunda Pemilukada tanpa motif itu juga tidak baik, maka motif kekerasan juga harus diketahui,” demikian Mukhlis Mukhtar.
Pada kesempatan itu, Direktur Aceh Judicial Monitoring Institute (AJMI) Agusta Mukhtar juga menyikapi kondisi tersebut. Menurutnya kekerasan yang terjadi beberapa hari ini momentumnya bertepatan dengan proses politik yang sedang memanas. Ini preseden buruk bagi penegakan hukum. Catatan AJMI dan Kata Hati selama proses politik ini ada 21 kasus penembakan yang terjadi di Aceh.
"Saya tidak mau menebak-nebak, bahwa konteks penembakan di Aceh ini menggunakan momentum Pemilukada bisa saja memburuk pada situasi politik di Aceh," ungkap Agusta Mukhtar.