Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Politik»Dijepit Lembaga Survey, Parpol Islam Menjerit


Dijepit Lembaga Survey, Parpol Islam Menjerit
Kamis, 18 Juli 2013 22:07 WIB

Jakarta - Kemarahan dan kekecewaan elite partai-partai Islam tidak terbendung dengan maraknya lembaga survei yang menyudutkan parpol agamis. Ada apa?

Survei-survei itu bermunculan dan aktif memaparkan hasil survei jelang pemilu, yang umumnya menyingkapkan merosotnya parpol Islam dalam pemilu 2014. Berbagai survei itu menyudutkan parpol Islam dengan menyebut pamornya anjlok dan masa depannya suram.

Lembaga survei Pusat Data Bersatu (PDB) merilis hasil survei yang menyebutkan partai agamis kurang diminati atau kalah dibanding partai yang merakyat serta bebas korupsi. "Publik menginginkan partai yang merakyat dan bebas dari korupsi. Publik kini tidak memperhatikan partai berlatar belakang ideologi agama dan nasionalis," kata Ketua PDB Didik J Rachbini.

Hal itu pula yang membuat elite Partai Persatuan Pembangunan (PPP) geram dan mendesak agar ada akreditasi bagi lembaga survei. “Hal ini menjadikan hasil survei seperti ‘sampah informasi’ yang menambahkan penuh ruang publik," cetus Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PPP Romahurmuziy dengan geram.

"Perbedaan-perbedaan signifikan hasil survei elektabilitas, baik parpol maupun kandidat, memunculkan perlu adanya akreditasi lembaga survei," jelasnya. Menurutnya, dengan adanya akreditasi maka akuntabilitas hasil survei dapat dipertanggungjawabkan, sehingga publikasinya dapat dijadikan pedoman.

Kalangan Muslim menilai keberadaan hasil survei belakangan lebih banyak menimbulkan opini dan perbincangan tak mendasar di masyarakat serta membuat para elite parpol Islam menjerit kecewa karena terus dipojokkan survei-survei yang sangat mengganggu prospek mereka.

Airlangga Pribadi, pengajar Ilmu Politik di Universitas Airlangga, Surabaya, melihat ada beberapa hal yang membuat parpol berbasis agama semakin tidak diminati. Pertama, kesadaran publik yang tak lagi membedakan partai nasionalis dan agama secara ketat. Apalagi, parpol nasionalis juga mengakomodasi simbol dan identitas keagamaan. Ini menyempitkan ruang pasar partai-partai berbasis agama.

Kedua, pada era demokrasi politik saat ini partai berbasis agama menghadapi tantangan moral politik yang lebih daripada partai lain. Sebab, mereka membawa simbol agama. ”Sepertinya mereka gagal membuktikan memiliki sistem nilai dan etika politik yang lebih dibandingkan dengan partai lain. Ketiga, pudarnya politik aliran diikuti menguatnya politik transaksional.”

Harus diakui, partai politik berbasis agama bermunculan sejak era reformasi. Namun, fakta menunjukkan, perolehan suara parpol berbasis agama itu cenderung menurun, bahkan jika dibandingkan dengan Pemilihan Umum 1955. Namun, secara kumulatif perolehan suara dari partai berbasis umat Islam cenderung stagnan.

Pada Pemilu 1955, Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) meraih 20,9 persen suara dan menempati peringkat kedua. Partai Nahdlatul Ulama (NU) meraih 18,4 persen suara. Partai Syarikat Islam, Partai Kristen Indonesia, dan Partai Katolik pun memperoleh kursi di DPR. Namun, sejak pemerintahan Orde Baru tumbang, perolehan suara partai berbasis agama cenderung kurang dari 15 persen.

Pada Pemilu 2009, Partai Damai Sejahtera (PDS) yang berbasis umat Kristen pun tak bisa melewati ambang batas perolehan suara untuk menempatkan wakilnya di DPR (parliamentary threshold). Padahal, pada Pemilu 2004, PDS bisa membentuk fraksi tersendiri di DPR. Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) yang memiliki fraksi di DPR hasil Pemilu 1999 tak bisa berada lagi di DPR pada Pemilu 2004.

Pada Pemilu 2009, Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Bintang Reformasi (PBR) yang berbasis umat Islam gagal menempatkan wakil di DPR. Perolehan suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) cenderung stagnan. Dua partai baru yang bisa menempatkan wakil di DPR hasil Pemilu 2009 adalah partai berbasis massa nasionalis.

Dan menjelang 2014, parpol Islam kembali disudutkan oleh berbagai survei, sementara parpol beraliran kebangsaan (nasionalis) terus melejit, membuat parpol agamis menjerit.(Inilah)






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
X
BACA JUGA
Close