
Banda Aceh - Pendidikan sekarang memisahkan antara pendidikan agama dan umum. Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengatakan bahwa telah terjadi pemisahan pendidikan di Aceh saat Belanda berkuasa di Aceh. Demikianlah salah satu hal yang di bahas dalam Seminar Pendidikan Islam Internasional se-Asia Tenggara, yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Senin (6/6).
Dia juga mengatakan bahwa, di dayah itu dulunya mengajarkan sistem pendidikan seperti farmasi, beladiri, sosial dan sejarah. “Dayah basis pendidikan paling lama di Aceh dan sampai saat ini dia menjadi ikon pendidikan terlama di Aceh, karena di dayah mengajarkan kemandirian, baik mental dan spiritual. Saat ini banyak terjadi dikhotomi pendidikan antara pendidikan agama dan umum. Pendidikan dayah di wakili dayah, pendidikan umum diwakili SMA,”jelasnya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah, Muharrir, bahwa lembaga pendidikan hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai keislaman. “Apa kalau belajar teknik, bukan berarti bukan belajar islam. Islam menganjurkan belajar, adakah nilai keislaman sudah masuk kedalam mata kuliah. Diharapkan nanti ada pemikiran kesitu sehingga nanti betul-betul nilai keislaman akan ada dalam pendidikan islam. Jangan sampai pendidikan umum 1 sisi, pendidikan agama di sisi lain,”paparnya pada The Globe Journal.
Seminar Pendidikan Islam Internasional ini diikuti oleh Universitas Sains Malaysia, Sekolah Tinggi Syech Daud-Thailand Selatan, Prince of Songkla University. Turut pula hadir 25 orang tokoh-tokoh pendidikan dari Asia Tenggara, yaitu Malaysia, Filipina dan Thailand.
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas