Jakarta - Praktisi dan pengamat media Parni Hadi mengajak industri media untuk mempraktekkan jurnalisme kenabian (prophetic journalism) dengan mengetengahkan sikap terpuji yang dicontohkan Nabi Muhammad yakni mengungkapkan dan menyebarkan kebenaran (Sidiq dan Tabligh), Amanah serta bijaksana (Fathonah).
"Nabi Muhammad melakukan dakwah dengan kata yang sejalan dengan perbuatan," kata Parni dalam makalahnya berjudul "Mengembangkan Komunikasi untuk Strategi Dakwah: Melaksanakan Jurnalisme Kenabian di Tengah Era Digital, Menyatukan Kata dan Perbuatan" yang disampaikan dalam Konferensi Intenasional tentang Media Islam di Jakarta, Rabu.
Sebaliknya, menurut dia, sejumlah pemimpin, pendakwah dan profesional di bidang media di Dunia Islam belum mampu mengamalkan apa yang dilakukan dan disabdakan oleh nabi.
"Terlalu banyak omong kosong, tidak ada aksi, bahkan lebih buruk lagi, perbuatannya bertolak belakang dengan apa yang sudah diucapkan," kata mantan pemimpin ANTARA, Republika dan RRI tersebut.
Sejumlah kritik, lanjutnya, juga sering dilontarkan masyarakat terhadap pemimpin, pendakwah atau guru yang hanya bisa memberikan contoh tetapi mereka tidak bisa memberikan teladan tentang apa yang dicontohkannya.
"Praktek korupsi yang merebak di sejumlah negara yang mayoritas warganya beragama Islam adalah salah satu contoh mencolok," katanya.
Lebih jauh Parni menekankan, melaksanakan jurnalisme kenabian dengan mempraktekkan empat sikap mulia yang dicontohkan Nabi Muhammad oleh para wartawan dan penyedia konten (content providers) merupakan hal yang mendesak.
Menurut dia, keempat sifat mulia nabi yang memiliki nilai-nilai universal sejalan dengan etika (Code of Conduct) wartawan di manapun, termasuk di negara-negara Islam dan negara non-Islam serta penyedia konten di negara yang menganut paham sekuler.
Praktek jurnalisme dunia mengindikasikan bahwa siapa saja yang bekerja di industri media, baik pria maupun wanita, sambung Parni, termotivasi akan panggilan dari hati nurani - suatu semangat pengabdian yang lebih tinggi nilainya dari tujuan komersil organisasi pers tempat mereka bekerja atau bentuk-bentuk penghargaan lainnya.
Namun, ia mengakui keberhasilan penerapan konsep jurnalisme kenabian hanya bisa terwujud dengan sejumlah persyaratan, misalnya adanya kebebasan mimbar dan tidak ada tekanan, baik oleh penguasa pemerintahan maupun agama.
Persyaratan lain, adanya obyektivitas untuk mengungkapkan kebenaran berdasarkan keadilan dan sikap fair, kesejahteraan sosial dan ekonomi serta perdamaian.
Konferensi Media Islam ke-2 yang berlangsung pada 12-16 Desember diikuti sekitar 400 peserta terdiri atas praktisi media, akademisi dan pakar komunikasi dan media dari sekitar 40 negara,sebagian besar negara-negara yang mayoritas warganya beragama Islam. [003]