Banda Aceh — Peringatan hari jadi Unsyiah ke-50 kali diwarnai dengan warna baru. Setelah melakukan berbagai persiapan, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menyatakan siap menyelenggarakan konferensi internasional (Annual Internasional Conference -AIC) bertajuk “Building Aceh Through Science: Dignity and Prosperty” pada Tanggal 29 dan 30 November mendatang.
“Konferensi internasional itu adalah bagian dari berbagai acara lain yang diselenggarakan oleh Unsyiah untuk menyambut usianya yang sudah setengah abad,” ujar Ketua Penyelenggara Dr Musri Musman melalui rilisnya, Jum’at (25/11).
Musri lebih lanjut menerangkan bahwa akan ada sebanyak 108 buah makalah yang dipresentasikan selama dua hari seminar. Rincian makalah menurut per bidang ilmu adalah Life Sciences (Agriculture, Marine and Fishery, Biology, veterinary and health) sebanyak 48 buah, Sciences and Engineering sebanyak 31 buah, dan Education and Social Sciences 29 buah.
“Pembagian bidang ilmu demikian adalah mewakili studi-studi yang selama setengah abad ini digeluti oleh para akademisi dan mahasiswa Unsyiah. Kami senang bahwa ternyata peminat demikian banyak, dan yang 108 itu adalah yang lulus seleksi yang dilakukan oleh suatu panel,” terang Musri.
Karena ini adalah suatu konferensi bertaraf internasional, maka para narasumber di samping dari Indonesia sendiri, juga datang dari berbagai negara. 10 diantaranya dari Malaysia, Nigeria 2 orang, Thailand 1 orang, Australia 2 orang, Bangladesh 1 orang, India 1 orang, Iran 6 orang, dan Austria 1 orang. Sedangkan dari Indonesia, para narasumber berasal dari Unsyiah sendiri serta dari UNIMAL Lhokseumawe, Universitas Sriwijaya Palembang, ITB Bandung, Universitas Hasanuddin Makassar, dan Brawijaya Malang, dan dari beberapa lembaga lain yang bukan perguruan tinggi namun memiliki hasil-hasil penelitian yang sangat menarik.
Hal menarik lainnya sambung Musri, pembukaan konferensi internasional pada Selasa 29 November akan dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan M. Nuh. “Segala hal dalam rangka pembukaan sudah kami siapkan, demikian juga ruang-ruang untuk konferensi untuk setiap sesi sebanyak 9 ruang, juga sudah siap digunakan,” tambah Musri.
Konferensi akan dilaksanakan di Gedung AAC Dayan Dawood Darussalam, dan terbuka untuk dihadiri oleh berbagai kalangan seperti akademisi, birokrasi, mahasiswa, atau praktisi. []
(Yul-Rel)