THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Pendidikan»Santri Aceh Syukuri Kemenangan Novel Lampuki


Santri Aceh Syukuri Kemenangan Novel Lampuki
Selasa, 22 November 2011 00:00 WIB
Banda Aceh -Seratusan lebih santri balai pengajian Darussalam Paloh Dayah, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Aceh, melakukan syukuran atas kemenangan novel "Lampuki" karya Arafat Nur dengan menggelar doa bersama, Senin.

Acara syukuran diisi dengan wirid dan doa yang dipimpin Tgk Fajri yang turut dihadiri Ketua Balai Sastra Samudra Pasai Zoel Fadli Kawom, novelis Aceh Thaib Loh Angen, dan penyanyi Aceh Said Jaya.

Kemenangan novel Lampuki yang meraih dua juara paling bergengsi sekaligus, yaitu unggulan sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan peraih anugerah Khatulistiwa Literary Award 2011, sudah sepatutnya disyukuri, kata Pimpinan Balai pengajian Darussalam Tgk Nazar.

"Ini bukan kejadian biasa. Ini perubahan ke arah kemajuan Aceh dari segi pemikiran. Bagi saya ini sangat luar biasa, harus disyukuri," ujarnya.

Tgk Nazar mengaku berkewajiban melakukan perhelatan ini sekalipun amat sederhana sebagai bentuk penghargaan kepada penulis dan novelnya, serta untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Ia mengaku sangat terharu manakala membaca kemenangan novel Lampuki di media massa dan dia juga menyampaikan selamat kepada penulisnya Arafat Nur.

"Seharusnya, saya akan membuat acara yang lebih besar lagi, tetapi kondisi kesehatan saya lemah," ujarnya.

Menurutnya, rakyat Aceh saat ini sudah bisa membuka matanya lebar-lebar untuk melihat suatu kenyataan. Aceh tidak akan bisa dibangun tanpa ada pikiran maju dan kritis.

Novel Lampuki, katanya, mengandung banyak nilai-nilai yang amat tinggi dari kisah yang demikian rumit dan dekat dengan kenyataan.

Novel yang mendapat pengakuan luas di kancah sastra Indonesia ini adalah upaya melawan ketidak-adilan pemerintah terhadap rakyat.

"Kalau soal isi dan mutunya, saya tak meragukan lagi. Cuma Pemerintah Aceh ini bukanlah orang yang cerdas. Jadi, sungguh sangat disayangkan memang," ujarnya.

Sementara itu, Arafat Nur mengatakan, kalau dirinya sangat terharu atas sambutan anak-anak pengajian yang begitu luar biasa.

Dia menguraikan sedikit tentang proses menulis yang dilaluinya secara tak mudah dan banyak mengalami tantangan.

Dikatakan, apa yang dicapainya sekarang adalah sebuah tahapan panjang yang penuh dengan cobaan dan perjuangan.

Menulis juga bagian dari perjuangan yang tak kalah berat seperti pertempuran di medan perang.

"Hidup itu selalu penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Untuk perubahan, semua orang harus pandai dan rajin belajar. Belajar ilmu apa saja, agama maupun ilmu dunia. Dengan cara beginilah manusia akan bermakna dan hidupnya menjadi bahagia," ujarnya.

Menurutnya, menulis itu penting bagi siapa saja, berkaitan dengan perubahan zaman yang menuntut ke arah itu.

Orang menebarkan pengaruhnya lewat tulisan, dan dengan kecakapan tulisan mereka menguasai apa saja, termasuk budaya.

"Jika orang-orang kita tidak cakap menulis, maka tunggulah kehancuran diri kita sendiri yang diperbudak oleh pikiran sesat orang lain," kata Arafat Nur.

[antara]






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close