Martapura — Memang guru juga seorang manusia. Akan tetapi itu bukanlah alasan pembenar bagi guru manapun untuk mementingkan kepenting pribadi dan golonganya dalam membangun pendidikan yang berkualitas. Ketua PGRI Sulistyo mengingatkan para guru yang ada di seluruh Indonesia menanggalkan pakaian keegoannya untuk tidak berkelompk-kelompok melainkan bersatu di bawah PGRI.
"PGRI adalah organisasi yang menaungi para guru sekaligus wadah pemersatu," katanya.
PGRI sangat menginginkan guru berada dalam satu persatuan, tidak terpecah belah dalam berbagai kelompok, organisasi, asosiasi, ikatan, maupun forum, ujarnya di depan 3.000 guru pada peringatan HUT PGRI ke-66 dan Hari Guru.
Ia mengatakan, guru mengemban peran strategis membangun karakter bangsa sehingga harus mampu meningkatkan kinerjanya untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dimulai dari organisasi guru yang kuat yakni PGRI.
PGRI menyadari untuk membangun pendidikan yang bermutu, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan kepentingan guru, dosen, tenaga kependidikan, diperlukan kekuatan dan kebersamaan.
"Kekuatan dan kebersamaan itu hanya bisa diwujudkan melalui wadah yang mampu menyatukan para guru sehingga bisa menjalankan tugas dan perannya sebagai tenaga pendidik yang profesional," ungkapnya.
Disisi lain, kata dia, PGRI juga terus mendorong pemerintah untuk menetapkan upah minimum bagi guru non PNS sehingga kesejahteraan mereka dapat lebih meningkat.
Ketua Umum PB PGRI juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat maupun daerah karena dipenuhinya usulan-usulan organisasi guru itu sehingga tetap komitmen mengawal dan memperjuangkan kebijakan pemerintah.
Ia juga berpesan kepada dosen dan tenaga kependidikan agar mengamalkan jati diri PGRI dengan selalu meningkatkan komitmen dan profesionalisme untuk memberikan layanan terbaik kepada peserta didik dan masyarakat. []
(Yul-Antara)