THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Pendidikan»Perguruan Tinggi Banyak Produksi "Sampah"


Perguruan Tinggi Banyak Produksi "Sampah"
Firman Hidayat | The Globe Journal
Senin, 06 Juni 2011 00:00 WIB

Banda Aceh — Psikodinamika dalam pendidikan tidak beroperasi di negeri ini, baik pada orang tua, guru, maupun pada lingkungan terdekat. “Kita harus meluruskan yang pertama adalah orientasi pendidikan,” kata Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar. Di republik ini apresiasi terhadap intelektualitas nilai rendah baik pemerintah maupun dari media masa.

Nazar mencotohkan seorang profesor yang menulis di koran lokal atau koran nasional yang tidak terlalu besar honornya. Mungkin ada media yang tidak kasih honor untuk ongkos ketikpun walaupun yang nulisnya profesor. Menurut Nazar di republik ini ilmu sangat murah dihargai dan serba gratis. Padahal dalam Islam tidak boleh gratis karena yang gratis itu untuk orang miskin, fakir dan untuk anak-anak terlantar.

“Saya melihat kualitas daripada guru di Indonesia termasuk di Aceh itu banyak guru terutama pada  pendidikan dasar hingga menengah yang tidak menguasai materi. Ini salah siapa ? Salah semua.  Kita di Indonesia termasuk di Aceh memproduk banyak sampah di perguruan tinggi, sehingga perguruan tinggi menjadi publik re-cycling intelektualitas, barang bekas yang parah kemudian dicoba proses di perguruan tinggi, ada yang mulai dari dasar, ada yang sudah setengah bisa dan sebagainya,”kata Muhammad Nazar.

Jadi pendidikan dasar hingga menengah di Aceh rapuh dari segala lini. Nazar mencoba untuk melihat di Korea dan Turki itu peran orang tua sangat besar berpartispasi. Datang sebagai relawan bersihkan sekolah tanpa di gaji. Guru juga datang ke rumah yang muridnya broken home. Kalau kita di Indonesia khususnya di Aceh tidak demikian. Ini persoalan tidak ada kewajiban moral sehingga muncul masalah besar untuk menjadi guru dan dosen yang ideal.

Walaupun ketika dilantik dan disumpah menjadi dosen atau guru bahkan PNS sekalipun menyatakan siap ditempatkan di mana saja, tapi jika sudah merasa pinter sedikit maka langsung minta pindah. Akibatnya tinggallah dilapangan guru-guru yang tidak menguasai materi.

Lalu kita buat dana sertifikasi, kita kasih tunjungan guru di daerah terpencil juga tidak mau mengajar konon lagi disuruh mengajar pada guru kontrak. Kalau bicara kesejahteraan guru di Aceh paling hebat dalam empat tahun terakhir ini. “Sekarang guru secara umum sudah punya inova walaupun kredit,” kata Nazar yang sempat mengundang senyum peserta seminar internasional level Asean bidang pendidikan yang dibuat Universitas Muhammadiya, 5-6 Juni 2011 di Anjong Monmata, Banda Aceh.







    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    No Telp. 0651-741 4556
    Ponsel. 0852 619 222 25


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Seni dan Budaya

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close