THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Pendidikan»Moratorium Persepsi Para Sarjana


Moratorium Persepsi Para Sarjana
OPINI | Fiqih Purnama*
Jum`at, 30 September 2011 00:00 WIB
Tanggal 29 September selalu diperingati sebagai hari sarjana nasional. Perlu kita perhatikan , dengan banyaknya tingat lulusan sarjana menjadi acuan sebuah bangsa baik atau tidak. Dengan makin banyaknya sarjana, sudah selayaknya hal-hal yang menjadi permasalahan bangsa dapat terselesaikan, melalui kapasitas intelektual dari lulusan-lulusan sarjana.

Dari banyaknya jumlah sarjana di Indonesia, kerap kali menjadi sebuah senjata makan tuan, yang mana ada terjadinya orientasi pendidikan yang salah pada kaum muda, yang beranggapan dengan gelar sarjana akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan, padahal dengan kekhususan prodi-prodi yang dipilih semakin mempersempit peluang mereka dalam mendapatkan kerja.

Terbukti, saat ini lebih kurang sejuta lulusan sarjana menganggur dan sering disebut sebagai pengangguran intelektual. Padahal biaya yang digelontorkan oleh para lulusan tersebut bukan sedikit, tapi ujungnya hanya menjadi pengangguran. Pemerintah sudah mencoba meluruskan orientasi pendidikan yang tepat dengan mengembangkan sekolah kejuruan, tapi pemikiran masyarakat belum cerdas akan hal tersebut.                                                                              

Selain itu ada program entrepreneurship yang dilakukan pemerintah untuk mahasiswa, juga tidak berjalan dengan baik, padahal program tersebut telah memberikan ruang kewirausahaan, agar mahasiswa yang akan menjadi sarjana ,tidak menjadi pengangguran setelah tamat nantinya, akan tetapi program tersebut tidak disosialisasikan dengan baik pada mahasiswa.

Melihat realita yang seperti itu, membuat kita semakin skeptis pada masa depan bangsa yang lebih baik. Lulusan sarjana tidak mampu memperdayakan ilmu yang dimilikinya untuk  memberikan perubahan yang lebih baik. Untuk meneyelamatkan diri mereka sendiri saja belum mampu, apalagi untuk menjadi pemecah masalah problem solver.

Pemberdayaan Intelektual

Seperti yang telah diuraikan tadi, lulusan sarjana banyak yang menjadi pengangguran, hal tersebut dikarenakan pengharapan pekerjaan yang lebih baik ketika mendapatkan gelar sarjana. Seharusnya dengan banyaknya program yang dilakukan pemerintah dapat mengurangi tingkat pengangguran, terutama pengangguran intelektual.

Saat ini ada sekitar 10 Juta  pengangguran di Indonesia, yang diantaranya ada sekitar 2 Juta pengangguran tersebut adalah lulusan sarjana. Paradigma yang muncul seperti ini membuat semakin terpuruknya Bangsa Indonesia. Ada baiknya dari sekian banyak lulusan sarjan tersebut diberdayakan, dan diiberikan orientasi yang benar, bukannya selesai sarjana bebondong-bondong untuk menjadi PNS.

Besarnya minat menjadi PNS oleh lulusan sarjana saat ini, membuat tidak berkembangnya lapangan kerja baru. Ilmu yang telah didapatkan selama proses kuliah terbuang hanya untuk melamar menjadi PNS. Oleh karena itu sudah selayaknya pemerintah melakukan pemberdayaan yang tepat terhadap para lulusan sarjana yang sesuai dengan bidangnya.

Pemberdayaan tersebut dapat dilakukan dengan cara pendidikan wiraswasta, yaitu membuat mahasiswa mampu mengembangkan jurusan yang dimilikinya. Dengan kewiraswastaan tersebut, akan  mampu menyerap tenaga kerja, dan akan mengurangi tingkat pengangguran. Akan tetapi sebelum hal tersebut dilakukan, ada baiknya pola pemikiran calon lulusan sarjana dibenahi, yaitu pembenahan agar berkurangnya tujuan ke pegawai negeri sipil.

Selama ini, dengan banyaknya penerimaan Pegawai Negri Sipil, para lulusan sarjana lebih memilih kesempatan tersebut, apalagi setelah menjadi PNS jaminan untuk kehidupan yang lebih layak akan didapatkan. Setiap adanya info penerimaan CPNS ratusan ribu orang mendaftar untuk dapat lolos dalam tes tersebut, dan kebanyakan juga penerimaan tersebut berkriteria sarjana.

Selayaknya Sarjana
Memang pada dasarnya pilihan pekerjaan yang layak merupakan hak pada setiap semua orang, akan tetapi untuk sekarang ini, sangat diperlukan upaya-upaya yang jitu dalam memberantas pengangguran yang merajalela dan membuat Indonesia semakin hari semakin terpuruk. Oleh karena itu perlu masukan-masukan yang tepat dan mampu dijalankan oleh mahasiswa dan lulusan sarjana.

Dengan  gendutnya pengangguran, khususnya pengangguran sarjana, perlu kesadaran  utama yaitu tridharma perguruan tinggi , yang didapat para lulusan sarjana tersebut masih menjalani status sebagai mahsiswa. Kerap kali mereka mengikrarkan tridharma perguruan tinggi , yang diantaranya adalah pengabdian pada masyarakat.

Tata cara dalam menjalankan pengabdian pada masyarakat banyak sekali untuk diterapkan. Sering kita lihat terjadi adalah pada kegiatan semasa mahasiswa. Setelah mendapatkan gelar, banyak hal tersebut pudar untuk tetap dijalankan, terlebih lagi ketika para lulusan sarjana tersebut masuk pada institusi-institusi negri, dan sering menyalahgunakan jabatan yang dimiliki.

Maka dari itu budaya untuk pengabdian pada masyrakat harus tetap dimiliki, walaupun karir kemahasiswaan telah habis, dan harus berlanjut ke pekerjaan sosial yang lebih baik. Melihat kondisi tersebut, alangkah baiknya  lulusan Sarjana dapat membuka lapangan kerja yang baru untuk dapat mengurangi tingkat pengangguran tersebut dengan modal kejuruan semasa mahasiswa.

Perlu diketahui juga, sarjana pengangguran yang banyak terjadi juga diakibatkan lapangan kerja yang tidak keseluruhan dapat menampung sumber daya kejuruan-kejuruan tertentu. Terlebih lagi memang ada kejuruan yang khusus untuk membuka lapangan kerja baru, dengan membuka lapangan kerja baru oleh lulusan-lulusan sarjana tersebut, kita dapat mengurangi krisis kta ini.

Moratorium Sarjana
Akhir-akhir ini sering kita mendengar kata moratorium, setelah adanya penyiksaan TKI di Saudi Arabia, yang berarti adalah pemberhentian sementara untuk pengiriman TKI ke negeri tersebut. Akibat dari moratorium tersebut, akan sangat mungkin pemasukan anggaran negara bakal berkurang, karena selama ini para TKI tersebut kita kenal dengan Pahlawan devisa.

Dan bukan hanya itu, dengan dilakukannya moratorium terhadap pengiriman TKI ke Saudi, pemerintah juga berusaha menghemat anggaran dengan juga melakukan Moratorium penerimaan Pegawai Negeri Sipil, walaupun masih ada lowongan PNS yang masih tetapt terbuka, tetap saja hal ini sangat berdampak bagi perekonomian.

Memang usaha dari pemerintah untuk antisipasi tersebut terlihat serius, dengan kembalinya para TKI, pemerintah berusaha untuk membuka jalur ekonomi kerakyatan dengan memperkuat pada usaha mikro kecil dan menengah.  Terlihat juga pemerintah akan terus berupaya mempekerjakan pengangguran lewat usaha-usaha mikro kecil dan menengah tersebut.

Akan tetapi perlu disadari juga, dengan moratorium penerimaan PNS selama setahun akan membuat lulusan sarjana dibidang yang ditutup lowongannya akan pusing tujuh keliling, karena seperti yang sudah dijelaskan , bahwa kecendrungan lulusan sarjana pada PNS sangatlah tinggi. Dan tugas kita semualah untuk merubah persepsi tersebut pada mahasiswa.

Menilik dari kata-kata moratorium sudah selayaknya juga, moratorium tersebut diberlakukan pada mahasiswa yang masih cenderung untuk masuk di Pegawai Negri Sipil.

Sudah selayaknyalah persepsi lulusan sarjana yang seperti itu harus dirubah, karena sia-sia saja pendidikan yang dilakukan selama 3-6 tahun harus dikembalikan pada instansi negri, alangkah baiknya ilmu tersebut dikembangkan dan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi selutuh rakyat Indonesia yang sangat memprihatinkan.

Dan hal tersebut juga harus didukung pemerintah dengan memberikan peluang yang baik untuk para lulusan sarjana tersebut agar dapat mengambangkan ilmunya.

Kesimpulan
Dengan adanya Moratorium kecendrungan Sarjana untuk menjadi PNS, akan berdampak pada berkurangnya pengangguran, dan disini mahasiswa harus dibina untuk menjadi problem solver pengangguran, dan dapat merubah kehidupan bangsa lebih baik, sehingga terus berkembang seperti apa yang kita impikan.

Dan suatu saat moratorium akan persepsi tersebut akan kita cabut pada saat impian kita tercapai, dan para lulusan sarjana dapat menjadi sarjana yang mengabdi terhadap masyarakat, bukanlah hanya sarjana yang memikirkan dan ingin menyelamatkan dirinya sendiri.

* Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Syiah Kuala






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close