Jakarta — United Nations Population Fund (UNFPA) melihat jumlahanak muda di Indonesia kian tahun terus bertambah. Sayangnya, penambah kuantitas anak muda ini tidak dibarengi dengan penyediaan akses pendidikan yang baik sehingga kualitas mereka terbilang rendah.
Representatif UNFPA Jose Ferraris memaparkan jumlah anak muda Indonesia terus meningkat. Saat ini ada 64 juta anak perempuan dan laki-laki yang berumur 10-24 tahun. Angka ini setara dengan 27 persen dari total penduduk Indonesia.
"Meski jumlahnya besar, sebagian besar dari mereka memiliki akses yang kecil dan terbatas atas informasi dan pendidikan," beber Ferraris pada acara Peluncuran laporan The State of World Population, Manusia dan Berbagai Kemungkinan dalam Dunia dengan 7 Miliar Manusia, di Jakarta, Rabu (26/10) lalu.
Para anak muda ini, sambung dia, juga sulit menjangkau akses pelayanan kesehatan reproduksi dan seksualitas. Padahal akses ini dinilai sangat penting bagi kaum muda guna membentengi diri dari masalah kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seperti HIV/AIDS.
Babatunde Osotimehin, selaku Direktur Eksekutif UNFPA, menambahkan dunia dengan 7 miliar penduduk bakal bermuara pada perubahan prestasi, kemunduran, dan paradoks sosial kependudukan dunia.
Jumlah penduduk dunia yang mencapai 7 miliar bisa diartikan sebuah kesuksesan yang sekaligus membawa tantangan baru. Sukses dalam arti manusia kini hidup lebih sehat dan dapat hidup lebih lama.
Sayangnya, tidak semua orang dapat menikmati peningkatan kualitas hidup yang telah dicapai. Masih banyak, kata Osotimehin, kesenjangan antarnegara dan kesenjangan antara perempuan dan laki-laki.
Pada Indonesia Osotimehin meminta agar pemerintah memberi perhatian pada masalah kesenjangan akses di kalangan anak muda Indonesia.
Pasalnya, sambung dia, anak muda memegang kunci masa depan yang berpotensi mengubah tatanan politik global dan menggerakan perekonomian melalui kreativitas dan kapasitas mereka dalam melakukan inovasi. []
(Yul-Media Indonesia)