THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Pendidikan»IPB Contek Seni Bertutur Aceh?


IPB Contek Seni Bertutur Aceh?
Yul
Kamis, 15 Desember 2011 00:00 WIB
Bogor — Kerusakan lingkungan sudah terjadi secara massif di berbagai belahan dunia. Di Indonesia juga tak kalah hebat. Dengan mudahnya perizinan tambang, eksplorasi alam menjadi-jadi.

Menanggapi ini, Tim Mahasiswa Departemen Biologi IPB punya metoda baru untuk mengkampanyekan aksi peduli lingkungan. Mereka menjadikan dongeng dengan bantuan media boneka tangan, layar karikatur, teater, dan pantomim sebagai alat untuk mengkampanyekan pesan-pesan peduli lingkungan. Nah, bukankah ini seperti seni bertutur Aceh yang pernah dipraktekkan oleh Almarhum Adnan PMTOH untuk berdakwah namun juga menghibur masyarakat? 

Terlepas dari dugaan itu, menurut Ketua tim Siti Lutfiyah Azizah, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya meletakkan sampah pada tempatnya perlu diajarkan keapda anak sejak dini.
Pembentukan karakter "green kids", katanya, akan membuat anak terbiasa menjaga lingkungan sejak usia dasar dan berdampak pada kebersihan lingkungan masyarakat dan negara.

Kini tradisi mendongeng di kalangan anak-anak Indonesia menurun seiring dengan maraknya permainan-permainan modern masa kini.

Di tengah maraknya permainan modern, tim mahasiswa IPB itu menciptakan "Si Edo" (edukasi-dongeng) sebagai media pendidikan yang mengangkat dongeng sebagai media alternatif dalam pembentukan karakter "greenkids" bagi siswa SD di Dramaga, Bogor.

Ia menjelaskan, dongeng adalah cerita legenda di suatu daerah tertentu, baik berupa cerita rakyat, fabel, ataupun cerita lainnya. Dongeng merupakan tradisi nenek moyang kita dalam menanamkan nilai-nilai luhur kemasyarakatan kepada anak-anak.

Media dongeng dapat membentuk kecerdasan emosional dan karakter positif seseorang yang ditanamkan sejak kecil.

"Sebelum memulai program ini kami telah melakukan pengamatan singkat. Hasilnya adalah kurangnya kesadaran anak-anak usia pendidikan dasar untuk meletakkan sampah pada tempatnya. Kurangnya media sosialisasi untuk meletakkan sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan," katanya.

Selain itu, juga terbatasnya peran sekolah dalam menyosialisasikan kebersihan lingkungan yang lebih spesifik, sehingga pembelajaran mengenai kebersihan lingkungan membutuhkan realisasi dan contoh yang konkret.

"Tujuan kami adalah untuk mengangkat kembali budaya mendongeng dan mengajarkan anak-anak untuk sadar akan kebersihan lingkungannya, khususnya meletakkan sampah pada tempatnya. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama delapan kali pertemuan dan menghasilkan delapan naskah variasi dongeng yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku dongeng dan film DVD dongeng ’Si Edo’," katanya. []

(Yul-Kompas)







Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close