Jakarta - Untuk memetakan kondisi riil dan kompetensi, pemerintah mengevaluasi 30 sekolah menengah kejuruan. Tim khusus dari UGM, ITS, dan ITB akan mengevaluasi segi kompetensi, fasilitas, organisasi manajemen, produk, riset inovasi, dan kemitraan sekolah menengah kejuruan.
Hal itu dikemukakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam rapat kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Komisi X DPR, di Jakarta. ”Kami pilih tiga perguruan tinggi itu karena mereka yang punya bidang mesin yang bagus. Diutamakan SMK yang terkait otomotif, tetapi tidak menutup SMK dengan program-program keahlian lain,” ujarnya.
Evaluasi ini, lanjut Nuh, diharapkan menghasilkan peta kondisi riil dan kompetensi setiap SMK sehingga pemerintah tak terjebak membuat kebijakan berdasarkan isu yang sedang hangat. ”Kami tak bisa mengambil kebijakan hanya karena sedang ramai dibicarakan,” ujarnya.
Apabila ada peta kondisi riil SMK, kebijakan yang diambil diharapkan sesuai kebutuhan. Pemerintah berharap tingkat penerimaan lulusan SMK ke lapangan pekerjaan naik menjadi 60-70 persen.
Di kalangan anggota DPR muncul kekhawatiran SMK hanya akan menjadi pabrik dan siswa hanya menjadi tukang perakit tanpa inovasi-kreatif. Mereka mengingatkan bahwa SMK bukan pabrik atau industri, melainkan institusi pendidikan yang mempunyai tugas utama menghasilkan sumber daya manusia berkualitas tinggi.
Pada sesi tanya jawab, anggota DPR sepakat meminta pemerintah memerhatikan pendirian SMK yang spesifik sesuai dengan kebutuhan atau karakteristik daerah. Misalnya, daerah-daerah di kawasan pantai dibangun SMK dengan program keahlian kelautan.
Di Jawa Timur, pemerintah setempatpun tidak tinggal diam. Dinas pendidikan setempat meluncurkan layanan latihan keliling untuk meningkatkan kompetensi siswa SMK.
Layanan latihan keliling, secara fisik diwujudkan dengan beberapa kendaraan dan mesin dilengkapi dengan berbagai prasarana serta sarana yang nantinya dapat digunakan oleh siswa SMK untuk melakukan berbagai latihan.
“Tujuan utama layanan latihan keliling ini memang untuk meningkatkan kompetensi praktik siswa, terutama sekolah-sekolah yang belum memiliki fasilitas untuk latihan, juga untuk sekolah atau siswa yang jauh dari lahan praktek,” terang Harun Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Selain itu, lanjut Harin, layanan latihan keliling ini juga diharapkan memberikan bekal atau pengalaman praktek bagi siswa SMK dengan berbagai fasilitas teknologi maupun automotif yang lebih baik dan terkini.
Program yang sudah dirancang sejak tahun 2010 tersebut, diakui Harun, diharapkan nantinya dapat diikuti oleh setiap sekolah dan setiap siswa dengan cara yang sangat mudah dan diharapkan juga seluruh sekolah dapat memanfaatkan fasilitas ini.
“Sekolah dapat mengajukan diri untuk mendatangkan sarana dan prasarana layanan latihan keliling ini, dengan cara menghubungi Diknas Provinsi Jawa Timur. Dan kami akan hadir sesuai dengan kebutuhan,” lanjut Harun.
Beberapa sarana yang dapat digunakan oleh seluruh siswa SMK negeri maupun swasta tersebut diantaranya adalah: Mesin Computer Numerically Controled, Otomotif mobil dan motor, serta Programmable Logic Controlled (PLC). []
(kompas.com-suarasurabaya.net)