
Banda Aceh- Ketua Kobar GB, Sayuti Ali mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh beserta Dinas Pendidikan Kota sudah salah makan obat. Hal ini dikarenakan adanya aturan baru mengenai proses belajar mengajar yang dilangsungkan selama bulan suci Ramadhan, serta dominannya pelajaran umum pada Bulan Ramadhan.
Kepada The Globe Journal, Sabtu (30/7) Sayuti mengatakan bahwa kebijakan yang diterapkan oleh Pemko dan Dinas Pendidikan kota Banda Aceh tersebut kurat tepat. Karena menurutnya, Aceh adalah daerah dengan status syariat Islam.”Dulu sebelum kita mendeklarasikan diri sebagai syariat islam, kita telah memperlakukan bulan puasa agar tidak belajar pelajaran umum, tapi belajar pelajaran agama sebanyak-banyaknya. Pemerintah Aceh melalui dinas pendidikan aceh menetapkanlah sebuah aturan, bahwa setiap Bulan Ramadhan diajarkan pelajaran agama melalui pesantren kilat.”jelasnya.
Dia menuturkan bahwa menurut Pemko dan Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, pesantren kilat yang telah berjalan beberapa tahun terakhir tidak efektif, sehingga Pemko mengeluarkan surat edaran agar proses belajar mengajar tetap dilaksanakan pada Bulan Ramadhan. Dengan ketentuan masuk pukul 8.00 Wib dan pulang setelah shalat Dzuhur.
Sayuti mengatakan bahwa pihaknya tidak sepekat jika jam masuk sekolah itu pukul 8.00 Wib pagi, hal ini dikarenakan baik guru maupun para siswa pada malam hari di bulan Ramadhan akan melakukan kegiatan seperti tadarus, makan sahur, dan kembali tidur pada pukul 5.30 Wib selepas salat Subuh. “Jadi tidak mungkin bangun pukul 8.00 Wib karena semalaman suntuk itu sudah kurang tidur. Kita sepakat kalau masuknya pukul 8.30 Wib, daripada nanti kita masuk pukul 8.00 Wib anak-anak datang pukul 8.30 Wib, jadinya kita konsisten dengan jam yang telah kita tentukan” paparnya.
Menurutnya proses belajar mengajar di bulan Ramadhan nantinya tidak akan berjalan dengan efektif, karena selain adanya pengurangan jam belajar, dari 45 menit menjadi 30 menit untuk satu jam pelajaran, para siswa juga tidak akan mempu menyerap pelajaran umum karena dalam kondisi lapar. Tdak hanya itu, Sayuti juga mengatakan bahwa guru ketika mengajar juga tidak akan maksimal, karena kurang semangat dan kurang energi untuk mengajar pada bulan tersebut.
“Oleh karena itu kita sarankan untuk bulan ramadhan tidak dipaksakan belajar pelajaran umum seperti matematik, bahasa inggris, fisika, kimia yang menguras energi banyak untuk berpikir. Kita minta bulan puasa itu diajarkan pelajaran agama yang berpedoman pada aqidah, akhlak, al-qur’an, ceramah-ceramah agama melalui diskusi-diskusi tanya jawab”paparnya
Jum`at, 18 Mei 2012 23:47 WIBFashion Korea Jadi Incaran Remaja Aceh
Senin, 21 Mei 2012 10:55 WIBHidangan Ayam Lepaas yang Bikin Gemas