Cara berkomunikasi Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Adi Mulyono kurang mengedepankan komunikasi persuasif. Hal ditunjukan dengan pernyataannya yang cenderung mengarahkan rakyat Aceh bertindak menggunakan cara-cara kekerasan seperti membacok.
Seharusnya kalau pun tetap mengancam masyarakat, bukan dengan cara membacok. Tapi masih di amankan dengan masyarakat setempat, selanjutnya melaporkan kepada pihak kepolisian.
Komunikasi Pangdam ke media memperhatikan lebih banyak daripada Kapolda Aceh. Komunikasi menjelaskan kepada publik perihal kasus-kasus di masyarakat sipil adalah wewenang polisi. Mengapa Pangdam lebih besar peran komunikasi daripada Kapolda Aceh?
Takutnya publik menilai bagian menunjukan eksistensi TNI di Aceh, sehingga pertanyaan selalu dikeluarkan kepada publik
Ada hal menarik pernyataan Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Adi Mulyono setelah saya baca media berita sore (6/11/2011). Pangdam mengatakan “Ada suatu skenario kelompok yang lebih besar melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat Aceh, saya tahu siapa di balik itu semua dan saya akan menyerang tepat di intinya”
Bila di analisis pernyataan Pangdam, menurut saya terkesan mengintervensi tugas dan kewenangan pihak kepolisian. Seharusnya kalau pun sudah mengetahui siapa pelaku dan lokasinya, berkomunikasi kepada kepolisian untuk mengambil langkah tindaklanjut. Bukan berkomunikasi ke publik mendahului kepolisian.
Saya mengusulkan agar komunikasi kepada publik yang berkaitan masalah-masalah kesipilan cukup melalui satu pintu saja yakni kepolisian. Jadi masyarakat Aceh tidak disinformasi memahami sebuah kejadian atau kondisi berkaitan keamanan ranah sipil. Usulan berikut saya komunikasi mengkampanyekan nilai-nilai damai wajib dilakukan, bukan cenderung provokatif.