SEKSI, istilah ini biasanya lazim digunakan untuk mengungkapkan gambaran seseorang baik laki-laki maupun perempuan dari sudut pandang fisiknya, cara (style) berpakaian dan banyak makna konotasi lainnya. Dalam artikata.com, seksi itu bermakna merangsang rasa berahi. Jika melihat realita saat ini, rasanya makna ini yang paling cocok mengambarkan kondisi kekinian di Aceh, terutama dalam menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2012 ini. Mengapa? Tentunya ini menjadi pernyataan menarik untuk kita jawab bersama.
Salah satu sebabnya yakni banyaknya kandidat yang "berbirahi" untuk mengikutinya. Berbabagai kalangan dan profesi terpacu andreanalinya untuk ikut serta atau sekedar ikut-ikutan dalam pesta demokrasi lima tahunan ini. Baik itu calon laki-laki maupun calon dari kaum hawa. Mulai dari politikus, PNS mulai dari level rendah hingga pejabat, pengusaha, tokoh Ormas/OKP, aktivis LSM, pensiunan. Usiapun juga tak terbatas, mulai dari beranjak dewasa hingga memasuki kepala enam sekalipun ikut bagian dalam memperebutkan kursi kekuasaan yang diberi level gubernur/wagub, bupati/wakil bupati serta walikota/wakil walikota.
Awalnya, sebelum adanya putusan sela Mahkamah Konstitusi, tercatat sebanyak sebanyak 127 pasangan yang mendaftar dalam pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) Aceh baik calon gubernur maupun 17 kabupaten/kota (tidak termasuk kandidat yang mendaftar di KIP Pidie), karena saat itu Bupati Pidie memblokir dana Pilkada.
Dari 127 pasang itu hanya 115 pasangan yang dinyatakan lolos verifikasi. Sedangkan 12 pasangan lainnya terpaksa angkat koper sebelum bertanding karena gagal ditetapkan menjadi calon. Dari 12 pasangan yang gagal tersebut, dua di antaranya didukung koalisi partai politik, selebihnya berasal dari jalur perseorangan (independen).
Ditunda
Kini, setelah ada putusan MK yang meminta pelaksanaan Pilkada ditunda karena alasan kamtibmas dengan itu KIP membuka kembali pendaftaran, maka animo anak negeri untuk itu meramaikan kontestan Pilkada pun semakin banyak. Bak kontes pemilihan idol yang sering kita saksikan di televisi. Setidaknya ada 22 pasangan lagi yang dipastikan ikut serta dalam Pilkada kali ini. Umumnya para peserta tambahan ini merupakan pasangan yang diusung oleh Partai Aceh, yang selama ini getol memperjuangkan masalah regulasi pelaksanaan Pilkada Aceh. Sehingga akibat konflik regulasi ini pelaksanaan Pilkada Acehpun berulang kali mengalami pasang surut antara jadi atau tidak.
Tercatat sebanyak 150 pasang calon kepala daerah ini memperebutkan simpati dan suara dari 3,2 juta jumlah pemilih tetap yang di telah ditetapkan Komisi Independen Pemilihan (KIP) dari 4,5 juta jiwa penduduk Aceh saat ini. Jika dihitung rata-rata, berarti setiap daerah ada 8,8 atau dibulatkan menjadi 9 calon per daerah dari 17 kabupaten/kota plus provinsi yang ikut serta dalam Pilkada 2012 ini. Bagi tujuh pasang kandidat Aceh 1, akan bertaruh meraih simpati dari 3.227.586 pemilih yang terdiri dari 1.591.712 laki-laki dan 1.635.874 perempuan dari 23 kabupaten/kota yang penentuannya berada di 9.768 tempat pemungutan suara (TPS).
Sedangkan untuk kabupaten/kota jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan provinsi. Aceh Utara merupakan kabupaten dengan jumlah pemilih terbanyak yaitu 376.068 orang, Bireuen 285.230 orang, Pidie 282.295 orang, Aceh Timur 253.959 orang, Aceh Besar 248. 582 orang, Aceh Tamiang 183.058 orang, Kota Banda Aceh 157.627 orang, Aceh Selatan 147.624 orang, Aceh Tenggara 132.096 orang, Kota Lhokseumawe 126.834 orang, Aceh Tengah 120.437 orang, Aceh Barat 116.925 orang, Kota Langsa 110.723 orang dan Nagan Raya 103.405 orang. Sementara daerah dengan pemilih paling sedikit yakni Kota Sabang 23.828 orang, Kota Subulussalam 40.549 orang, Aceh Jaya 53.662 orang, Gayo Lues 55.972 orang, Simeulue 61.619 orang, Aceh Singkil 69.330 orang, Bener Meriah 90. 796 orang, Aceh Barat Daya 97.002 orang dan Kabupaten Pidie Jaya 100.095 orang.
Perjalanan Panjang
Bagi sejumlah calon, Pilkada Aceh 2012 ini merupakan perjalanan panjang yang berliku yang membutuhkan banyak energi, dana dan pikiran. Pasalnya, sudah berulang kali pelaksanaan Pilkada ini tak ada kepastian. Sehingga tak mengherankan banyak calon yang sudah terlilit hutang kanan-kiri bahkan ada ungkapan hutang bahwa ada calon yang sudah terlilit hutang hingga ke pangkal leher.
Salah satu contoh kecil yang telah terungkap ke permukaan yakni terungkapnya seorang kandidat calon bupati di Aceh Barat Daya (Abdya) yang sudah memasuki masa kondisi pailit karena utang-piutang yang berjumlah ratusan juta hingga miliaran rupiah sehingga membuat prihatin banyak pihak dan kalangan. Wow..sungguh teramat seksi. Meski utang sudah melilit hingga ke pangkal leher, para kontestan masih tetap semangat untuk bertarung. Tentunya pertarungan ini bukan hanya sampai tahu siapa pemenangnya, namun pertarungan paska pilkadapun perlu disikapi dengan bijak. Karena siap-siaplan deb collector datang menagih, baik bagi yang memang maupun yang kalah. Terlebih lagi bagi yang kalah, jika saat Pilkada asik mengajar simpati rakyat, paska Pilkada siap-siap dikejar penagih hutang.
Bukan berarti calon yang baru mendaftar tidak dirasuki "penyakit" yang sama, yakni terlilit hutang. Sebab, sebagaimana diketahui, meskipun baru mencalonkan diri sudah banyak kandidat menghamburkan uang. Seperti halnya dana pengumpulkan KTP bagi calon independen, belum lagi dana pemeriksanaan kesehatan sebesar Rp7,5 juta per calon, biaya kenduri, dana penggalangan bagi tim sukses dan lain-lain.
Melihat realita ini, setidaknya ada dua hal yang perlu diantisipasi pasca pilkada. Pertama lahirnya calon pemimpin yang koruptor, karena berupaya mengembalikan dana besar yang terlanjur sudah dihambur-hamburkan saat Pilkada. Tentunya ini menjadi peran besar bagi semua elemen masyarakat di Aceh untuk bisa mengawasinya. Sebab, jika ini terjadi, maka adanya perubahan lima tahun kedepan hanya menjadi mimpi belaka.
Kedua, membludaknya orang "gila jenius". Sebab, sudah tak mampu membayar utang dan dikejar-kejar oleh debt collector. Seharusnya kejeniusan atau kecerdasan dari calon itu bisa disinergikan bersama para kandidat yang menang, malah nyatanya bisa menjadi aib keluarga. Memang Pilkada Aceh ini sungguh seksi. Ini hanya gambaran kecil, masih banyak lagi pernak-pernik Pilkada yang menyimpan rahasia. Kita tunggu saja, tunggu dan saksikan cerita dibalik Pilkada Aceh. Semoga ada perubahan lima tahun ke depan. 4,5 juta jiwa masyarakat Aceh menantinya.
* Iranda Novandi | Harian Analisa
[001-Analisa]