THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Opini»Pentingkah Resolusi 2012 Bagi Remaja?


Pentingkah Resolusi 2012 Bagi Remaja?
Khuzaimah Ibrahim*
Kamis, 29 Desember 2011 00:00 WIB
Saya meyakini, saat ini para remaja sudah tak asing lagi dengan kata “resolusi”. Apalagi menjelang akhir tahun 2011 ini. Namun yakinkah kita sudah mengenalinya dan mampu membuat resolusi yang baik, terukur, dan realistis di tahun 2012 mendatang?

Mungkin ada baiknya kita membuka lembaran Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk mengenal arti kata “resolusi” yang mungkin dianggap sepele. Berdasarkan KBBI, resolusi bermakna kebulatan pendapat yang dinyatakan secara tertulis dan biasa berisi tuntutan tentang suatu hal. Ya, sederhananya resolusi merupakan target cita-cita yang diutarakan secara tertulis, untuk direalisasikan setiap pergantian tahun sebagai wujud menghadapi lembaran baru dengan semangat baru pula. 

Di tatanan ini, secara personal kita bisa memilih medium resolusi. Terserah ingin menjadikan Hijriah sebagai tolok pengukuran atau Masehi. Perbedaan itu bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkan. Namun jika kiranya Masehi yang sudah diambang mata dijadikan medium untuk membangun target-target baru, itupun bukan persoalan. Yang menjadi pertanyaan kemudian, apa yang kita harapkan di tahun depan dan bagaimana mengupayakan pencapaiannya.

Ada baiknya, sebelum menentukan resolusi, maka para remaja perlu mencari tahu apa yang menjadi masalah remaja saat ini. Di sektor kesehatan, remaja kita dihadapkan dengan persoalan seksualitas baik itu kehamilan yang tak diinginkan maupun aborsi, penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV/AIDS, penyalahgunaan Napza, hepatitis, dan beberapa masalah kesehatan lainnya yang actual terjadi di 2011. 

Di tatanan sosial, para remaja juga dihadapkan dengan persoalan krisis moral. Beberapa kasus yang terjadi di 2011 menjadi salah satu pertimbangan masalah. Terlepas dari latar belakang persoalannya, kasus-kasus pencurian yang dilakukan oleh remaja meningkat. Bisa jadi saat ini Aceh berbangga karena, kasus-kasus seperti ini terbilang minim. Lain halnya dengan kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan anak. Meskipun minim, hal itu terjadi di Aceh. Fakta itu menunjukkan betapa para remaja perlu menyadari hal-hal seperti ini sudah mulai terjadi di lingkungannya sendiri.

Selain itu masalah sosial lainnya tentu soal pelanggaran status. Banyak sekali remaja kita yang sudah berani meninggalkan rumahnya, bolos sekolah, bahkan melawan orang tua. Terlepas dari pro dan kontra, nampaknya persoalan punker di Aceh merupakan contoh kasus yang sangat dekat dengan pelanggaran status ini. Ini juga akan menjadi masalah di 2012 mengingat penanganannya tidak optimal dan partisipatif.

Di sektor pendidikan, perlahan-lahan Aceh memang menunjukkan harapan yang besar. Para remaja Aceh sudah mampu bersaing dengan sangat kompetitif di berbagai medium kompetisi baik nasional bahkan global. Namun yang menjadi masalah, kesenjangan pendidikan antara remaja di daerah dan di perkotaan masih terjadi. Akibatnya bukan tak mungkin akan memunculkan kecemburuan yang sebagiannya ditumpahkan melalui tawuran. Ini baru saja terjadi di Kota Banda Aceh, dimana siswa SMAN 4 dan SMAN 8 saling bertawuran. Padahal kedua sekolah menengah ini sama-sama berada di pusat kota. 

Di sektor perekonomian, stagnannya perekonomian Aceh secara umum juga berimbas pada sikap para remaja. Bagi remaja yang orang tuanya terbilang kurang mampu terpaksa harus tunggang-langgang bekerja membantu orang tua. Mungkin ini memang masalah klasik. Akan tetapi masalah ini menjadi unik ketika Aceh juga dihinggapi oleh hegemoni wirausaha. Muncul tren dimana para remaja dan anak muda harus kreatif untuk membantu orang tua dengan usaha-usahanya sendiri. Apalagi pemerintah juga sudah mulai membuka kran-kran beasiswa wirausaha. 

Bersyukur dan Berusaha

Beranjak dari masalah remaja itu, ada beberapa masalah budaya Aceh yang kemudian membuat para remaja pesimis. Di beberapa kesempatan saya pernah mendengar pernyataan, “Jangan banyak kali berharap. Ntar kecewa”. Pernyataan ini kemudian mengalami proses estafet yang cukup massal, termasuk kepada remaja. Akibatnya mereka terkungkungi oleh ketakutan akan kegagalan. Tak jadilah mereka bermimpi besar. 

Akan hal fakta itu, tersebutlah sebuah cerita usang yang mungkin sudah sering didengar oleh banyak orang. Cerita itu berkisah soal katak kecil yang sedang berlomba lari mencapai menara yang terbilang tinggi. Mayoritas katak tersebut mulai pesimis karena di luar lapangan, para penonton meyakini tak mungkin katak kecil bisa sampai di menara. Salah satu celotehan penonton adalah,”Menara terlalu tinggi. Nggak mungkin sampai”. Atau “Terlalu sulit, tak seekorpun akan berhasil” pungkas katak penonton lainnya.

Walhasil, tersebutlah seekor katak dengan usahanya yang sangat keras mencapai menara. Cari-mencari tahu kunci kemenangannya, rupanya sang katak yang menang bermasalah dengan pendengarannya. Dia tuli. Diapun selalu optimis karena selalu dihinggapi perasaan “optimis sukses” bukan “pesimis”. Bila saja dia tidak tuli, mungkin diapun takkan berhasil mencapai menara lantaran harus mendengarkan pesimisme penonton.

Dari cerita yang sangat sering kita dengar itu, saya meyakini kita punya interpretasi sendiri. Apalagi kalangan remaja memiliki daya imaginasi yang tinggi. Apapun itu dalam hal ini, sungguh salah jika kemudian tradisi vokal kita masih mempertahankan “Jangan banyak kali berharap. Ntar kecewa”. 
Yang memang perlu difahami, gagal yang dimaksud tradisi vokal tadi merupakan sebuah resiko. 

Namun tentu kita sepakat hal itu tidak kita sebut gagal. Hanya keberhasilan yang tertunda, dan butuh usaha yang lebih keras untuk menyukseskannya. Mungkin kita memang perlu focus pada sisi kualitas proses yang kita ciptakan. Pun mungkin nantinya Allah SWT belum berkehendak, namun proses yang dibangun secara matang akan mengajari kita hal lainnya demi menyambut masa depan yang lebih cerah.

Dengan demikian, tentu kita tidak akan menjadi makluk yang ingkar akan rahmat-Nya. Kita akan selalu menjadi makhluk yang bersyukur akan segala hal terbaik yang diberikan-Nya dalam hidup kita.

Jadi, mari kita mulai menggerakkan pena, pulpen, atau tut keyboard untuk merancang sebuah resolusi dan mimpi yang luar biasa di 2012. Mari kita bermimpi para remaja Aceh akan terbebas dari masalah seksualitas, Napza, HIV/AIDS, kriminalitas, kemiskinan, kerusakan moral. Mari kita rencanakan dengan baik bersama orang-orang yang dicintai. Bersama ayah, ibu, abang, kakak, bahkan adik, hingga sahabat. Mereka merupakan orang-orang yang memberikan pengaruh besar bagi hidup para remaja di masa yang akan datang. 

Dan ingat jangan lupa berbagi resolusinya dengan yang lain. Mungkin dengan kita saling mengetahui resolusi satu sama lain, kita akan dapat mengisi berbagai peran dalam menutup berbagai kekurangan personal. Karena sungguh berjalan bersama-sama itu membuat kita kuat. Membuat kita lebih optimis. Nah, apakah ada remaja Aceh yang berani mengimpikan belajar di luar negeri di 2012? Siapa bilang tak mungkin? [] 

*Penulis merupakan Widyaswara Madya BKKBN Provinsi Aceh






    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    No Telp. 0651-741 4556
    Ponsel. 0852 619 222 25


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Seni dan Budaya

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close