SerambiOpiniPariwisata Aceh Vs Syariat Islam, Ada Solusinya?
Pariwisata Aceh Vs Syariat Islam, Ada Solusinya?
OPINI | Alfan Raykhan Pane**
Selasa, 29 November 2011 00:00 WIB
Banda Aceh - Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh sejak Februari 2011 telah meluncurkan program Visit Banda Aceh Year 2011 sebagai tahun kunjungan pariwisata di Banda Aceh. Berbagai program, event dan promosi dilakoni guna menyukseskan gawean ini. Program-program acara di TVRI Aceh, Kutaradja TV dan Aceh TV yang secara massive disusun dan ditayangkan, iklan pariwara atau advertorial di media massa lokal, nasional bahkan internasional baik cetak, elektronik dan media online juga di jajaki.
Termasuk dua event terbaru di penghujung tahun ini lewat Aceh Sufi Music Festival dan Aceh Coffe Festival yang dilaksanakan di lapangan Blang Padang beberapa waktu lalu. Spanduk, Umbul-umbul, Baliho dan beragam media promosi lainnya juga tak luput dari schedule prestisius ini.
Pertanyaannya, sudahkah program, event dan promosi yang selama ini dijalani benar-benar telah menghadirkan berbondong orang (baca: turis) untuk berkunjung ke Aceh, khususnya 'Jak Lom U Banda! Benarkah program "Peumulia Jamee Adat Geutanyoe" ini jauh-jauh hari sudah disosialisasikan ke tengah masyarakat? Atau " Bandar Wisata Islami" ini hanya bersifat parsial, insidentil dan easy going? Entahlah, namun apapun itu nasi sudah hampir menjadi bubur, dan Desember 2011 tinggal menghitung hari berakhirnya.
Ibarat pengajuan Skripsi Strata-1 (S-1), judulnya sudah jelas, ' Visit Banda Aceh Year 2011 ' dengan jargon " Peumulia Jamee Adat Geutanyoe " dan "Banda Aceh Bandar Wisata Islami " serta " Jak Lom U Banda ". Latar belakang juga sangat jelas, ingin mensejajarkan Banda Aceh sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di pulau Sumatera. Perumusan Masalah, Tujuan Program, Kerangka Teori, Kerangka Konsep, Hipotesis, Metodologi, Uraian Teoritis, Deskripsi Objek Program, Analisis Data serta Kesimpulan dan Saran mungkin hal-hal ini yang perlu di evaluasi sekaligus direfleksikan kembali.
Sekedar sumbang saran serta tautan, unek-unek, (maaf) kepada siapapun 'The Winner' Incumbent Walikota dan Wakil Walikota Banda Aceh ke depan, Perumusan Masalah harus menjadi indikator penting sebab potensi pariwisata sebagai salah satu upaya program peningkatan ekonomi yang sangat bisa dikembangkan di Aceh. Namun problem yang selama ini sering dibenturkan adalah Pariwisata versus Syariat Islam!
Solusi konkrit pasti jawabannya, orang dari luar yang berkeinginan mengunjungi Aceh akan berfikir tiga kali sebelum menginjakkan kaki kemari, pertama momok Syariat Islam itu tadi. Seperti pernah dikatakan oleh tokoh masyarakat Ghazali Abbas Adan, syariat Islam bukan tentang Qanun yang empat, dalam sesi tanya jawab 'Refleksi Akhir tahun Partai Rakyat Aceh (PRA) di De' Rodya Cafe akhir Desember 2010 lalu.
Selanjutnya kedua persiapan infrastruktur bukan hanya fisik namun jiwa raga warga kota Banda Aceh juga harus sejalan, artinya saat program, event dan promosi berjalan, masyarakat secara sadar menyambut gebyar pariwisata. Contohnya adat istiadat Ureung Aceh di pedalaman yang beut jaroe sambil mengucap salam dan tersenyum saat awak tamong berkunjung harus segera ditampilkan!
Namun sangatlah tidak wajar dan manusiawi saat Jamee datang mereka justru tersenyum dalam lapar. Konkritnya begini, kerajinan tangan (handy craft) apa yang bisa diciptakan masyarakat di sebuah gampong (kerajinan dari bambu) misalnya, stakeholder / pemerintah dan investor-dunia usaha harus memfasilitasinya lewat pelatihan, bahan baku, mesin dan modal kerja.
Jadi tugas/tanggung-jawab kelompok masyarakat tersebut hanya berkarya, lantas urusan packing dan pemasaran hasil keringat mereka itu urusan penguasa, sehingga dengan massalnya jumlah produksi akan menekan ongkos kerja dan menjadikan komoditas tersebut berharga murah dan terjangkau oleh para pelancong yang datang ke Banda Aceh.
Ketiga, skala prioritas apa terkait pariwisata di Provinsi Aceh / kota Banda Aceh yang ingin di jual ke publik? Apakah wisata sejarah kerajaan di Aceh, Wisata Pra Kemerdekaan RI, Revolusi DI/TII, pembangunan Exxon Mobil, PT. Arun LNG, Ltd dan provit lainnya, konflik/damai RI-GAM, gempa bumi dan tsunami? Jika pertanyaan tersebut telah terjawab, sinergi antara beragam unsur baik pemerintah, investor dan masyarakat adalah kata kunci keberhasilan program ini serta disokong dengan daya dukung lingkungan yang lestari.
Pembenahan moda transpotasi dan melatih warga kota Banda Aceh menjadi guide bagi semuanya sebagaimana dulu warga donya dari segala bangsa bersilaturrahmi saat dan paska Gempa Bumi 8,9 SR dan Gelombang tsunami menerjang Aceh, Minggu pagi 26 Desember 2004 lalu.
Kesimpulannya bentuk pariwisata yang coba ditawarkan masyarakat Aceh kepada masyarakat global, adalah konsep pariwisata yang Islami dimana setiap aktivitas dan segala transaksi berjalan sesuai penerapan Syariat Islam dan itu semua hanya bisa terjadi bila seluruh rakyat Aceh Ban Sigom Donya (dari seluruh dunia-red) satu komando satu tujuan untuk mencapainya.
Kiban pak Wali dan pak Waki atau ibu Waki kamoe siap tempur menyoe droenneuh komitmen dan konsisten memperjuangkannya!!!