Rahmat Ibnu Umar | Anggota Komunitas Rencong Khilafah
Rabu, 04 Januari 2012 00:00 WIB
Pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang paling utama dan mulia diantara makhluk-makhluk lainnya. Bahkan ada ungkapan dan ini benar adanya yaitu manusia lebih utama daripada malaikat, namun adakalanya manusia berada pada kondisi yang hina bahkan lebih hina daripada peliharaan ternak, dua keadaan ini benar adanya, tergantung pada fungsi tidaknya akal yang ada pada diri manusia.
Lalu, apa sebenarnya akal itu dan seperti apa amaliyahnya sehingga keberadaannya begitu sangat penting dalam menentukan tinggi dan rendahnya derajat manusia.
Meskipun kata akal begitu sering kita dengar dan bicarakan namun pada kenyataannya masi banyak diantara kita yang belum sampai pada realitas dari pada akal itu, ternyata banyak diantara kita lebih menaruh perhatian pada produk akal dan produk proses berfikir daripada fakta akal dan fakta tentang proses berfikir itu sendiri, paling tidak begitulah realitas yang tampak dalam satu kesempatan pada acara kuliah umum dengan mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Aceh.
Definisi Akal Dari masa ke masa, umat manusia yang terdiri dari para intelektual muslim dan non muslim telah menaruh perhatian yang luar biasa dalam upaya mengetahui fakta akal, mereka mencoba memahami dan mendefenisikan akal. Namun dari berbagai usaha-usaha dalam mendefenisikan akal yang layak untuk menjadi perhatian kita adalah upaya yang telah dilakukan oleh para pemikir komunis, sebab upaya mereka adalah upaya yang serius, dan hampir sampai pada pengetahuan yang pasti dan meyakinkan, namun karena sikap pengingkaran mereka terhadap eksistensi pencipta (al-khaliq) alam semesta ini membuat upaya mereka gagal.
Dalam upaya mengetahui realitas akal ini, para pemikir komunis memulainya dari sebuah pertanyaan “Apakah pemikiran (fikr, thought) itu ada sebelum adanya fakta (waqi’, reality)? ataukah fakta ada sebelum adanya pemikiran, sehingga pemikiran adalah buah dari fakta?”.
Dalam hal ini, sebagian dari mereka menyatakan bahwa pemikiran itu ada sebelum adanya fakta, dan sebagian yang lain menyatakan bahwa fakta mendahului pemikiran, dan inilah kesimpulan akhir mereka bahwa fakta mendahului pemikiran. Atas dasar kesimpulan ini para pemikir komunis mendefenisikan akal sebagai peroses refleksi / pemantulan fakta terhadap otak, dan pemikiran itu adalah hasil dari refleksi fakta terhadap otak.
Inilah upaya yang dilakukan oleh para pemikir komunis, dimana mereka telah sampai pada jalan yang benar dalam mengenali akal yaitu keharusan adanya fakta, panca indra dan otak. andai saja mereka tidak terus mengingkari keberadaan pencipta alam semesta ini niscaya mereka sudah berada pada kondisi yang benar.
Selain pengingkaran mereka terhadap keberadaan sang pencifta yang menjadi kekeliruan lain dari upaya — upaya para pemikir komunis ini adalah ketika mereka menyebutkan keberadaan fakta dan otak sebagai bentuk refleksi (in’ikas, reflection)
Pengingkaran para pemikir komunis terhadap adanya pencifta alam semesta berdampak pula pada pengingkaran mereka akan pentingnya ma’lumat tsabiqah ‘ala al-waqi’ atau informasi awal tentang fakta, pengingkaran inilah yang membelokkan kebenaran dan keseriusan para pemikir komunis dalam upaya mengenal atau mendefenisikan akal, sebab informasi awal tentang fakta merupakan prasyarat mutlak dalam proses berfikir untuk melahirkan sebuah pemikiran.
Agar defenisi akal ini dapat mengikat semua manusia maka perlu untuk kita ketahui bahwa upaya dalam mendefenisikan akal adalah upaya untuk mendeskripsikan suatu fakta, maka dari itu, defenisi akal harus dibangun atas dasar realitas yang ada (musyahad) yang dapat diindera (mahsus) .
Sebelum kita mengenal apa itu akal, hal utama yang harus menjadi perhatian kita adalah mengenal komponen - komponen pembentuk dari pada akal, yang terdiri dari Fakta, Panca indera, otak manusia yang normal, dan informasi terdahulu. Keempat komponen ini merupakan pra syarat dalam upaya mendefenisikan akal, dan keharusan akan adanya informasi terdahulu terhadap fakta menjadi penentu terjadinya proses berfikir (amaliyah akal).
Jadi yang dimaksud dengan akal (‘aql), pemikiran (fikr) atau kesadaran (al-idrak) adalah Pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera kedalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut.
Dan inilah satu-satunya defenisi yang benar tentang akal, tidak ada defenisi lain kecuali defenisi tersebut, dan defenisi ini mengikat semua manusia disetiap tempat dan zaman karna defenisi ini merupakan satu-satunya defenisi yang dapat mendeskripsikan fakta akal secara benar dan satu-satunya defenisi yang tepat untuk fakta mengenai akal.
Dengan demikian maka tergambarkanlah bagi kita bahwa amaliyah dari pada akal adalah proses pencerapan atau penginderaan fakta kedalam otak melalui panca indera, bukan melalui refleksi materi kedalam otak ataupun sebaliknya sebagaimana anggapan dari para pemikir komunis.
Agar peroses pencerapan materi kedalam otak mampu mengeluarkan penilaian (hukm, judgment) atas materi maka keberadaan maklumat tsabiqah / informasi terdahulu atas fakta yang dicerap harus ada. Kemampuan mengaitkan antara fakta yang terindera dengan maklumat tsabiqah didalam otak inilah yang disebut dengan aktivitas akal, seperti aktivitas menilai sesuatu, memahami makna kata, atau memahami kebenaran (haqiqah, truth), dan aktivitas ini berlaku bagi semua hal.
Dan aktifitas akal inilah yang melahirkan berbagai produk akal (pemikiran tentang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, sastra, seni, hukum-hukum, politik dan sebagainya) yang siap dipanen oleh manusia tatkala menjalankan berbagai aktivitasnya dalam kehidupan.
Sebagai contoh, tatkala Rasulullah Muhammad SAW tidak nyaman dengan kondisi kehidupan jahiliyah, beliau melakukan pengasingan diri ke Gua Hira dengan harapan bisa mendapat petunjuk akan persoalan kehidupan yang menyelimuti Arab jahiliyah. Hingga tiba pada masa dimana beliau dijumpai oleh malaikat dan disuruh untuk membaca namun jawab beliau adalah “saya tidak dapat membaca” dan begitu malaikat menyuruhnya agar membaca dengan nama Allah yang maha pencipta barulah beliau mengerti dan dapat membaca berbagai persoalan yang membelenggu Arab jahiliyah, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-qur’an surat Al-‘alaq.
Jadi, jika manusia menginginkan derajat yang tinggi dan mulia dalam hidup ini maka tidak ada jalan kecuali dengan meningkatkan aktivitas akalnya dengan selalu mengarahkan panca inderanya terhadap berbagai benda-benda yang ada di dunia ini dan berusaha memindahkannya kedalam otak serta mengaitkannya dengan informasi-informasi terdahulu tentang beragam benda tersebut.
Wallohu a’lam bi showab
Penulis adalah Anggota Komunitas Rencong Khilafah, tinggal di banda Aceh