SerambiOpiniMelawan Tabiat Hedonis dengan Sifat Sederhana
Melawan Tabiat Hedonis dengan Sifat Sederhana
Teuku Zulkhairi [Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh]
Minggu, 04 Desember 2011 00:00 WIB
Tabiat hedonis para elit politik dan birokrat negeri ini diyakini menjadi sebab kian derasnya arus budaya korupsi. Jika ditelusuri lagi, budaya hedonis ini ternyata berawal dari ketidaksiapan mereka untuk hidup dalam kesederhanaan. Mereka tidak siap mengukir sejarah perubahan bangsa saat mereka menjadi pemimpin karena jebakan tabiat hedonis. Faktanya, rata-rata elit politik dan birokrat di negeri ini sebelumnya adalah para aktivis yang gencar berteriak mengkritisi sistem dan para pejabat yang tidak memihak rakyat, tapi ketika mereka berada dalam sistem mereka pun melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih parah lagi.
Pertanyaan kemudian, kenapa kesederhanaan para elit politik dan birokrat begitu penting dalam rangka mewujudkan perubahan di negeri kita?. Marilah kita perhatikan sebagian besar kompleksitas persoalan di negeri kita. Misalnya, kasus korupsi yang begitu menggurita dan tersistem di negara kita. Bukankah sebabnya adalah karena para pelaku korupsi itu tidak siap hidup dalam kesederhanaan? Mereka ingin cepat kaya. Ingin fasilitas yang mewah. Ingin serba mudah. Ingin membeli apa saja yang mereka kehendaki. Mereka takut miskin. Efeknya, saat jabatan yang mereka miliki sejatinya tidak bisa memenuhi hasrat tersebut, maka timbullah berbagai kasus penipuan, manipulatif, nepotisme, pencurian(korupsi) dan sebagainya.
Dan ironisnya, saat itu berbagai pelanggaran tersebut pada akhirnya akan berusaha dijustifikasi sebagai kebenaran sehingga terjadilah pelanggaran berkelanjutan, seperti sogok-menyogok, suap-menyuap, pembusukan hukum, penipuan dan bahkan pembunuhan.
Dihadapan realita warga negara kita yang didominasi oleh masyarakat miskin, sesungguhnya bangsa ini membutuhkan sosok-sosok elit dan birokrat yang sederhana, tidak hedonis. Kendati demikian, kesederhaan disini bukan berarti mereka juga harus miskin, karena sederhana itu bukan berarti miskin.
Sederhana adalah kehidupan yang bersahaja; tidak berlebih-lebihan, tidak bermewah-mewahan. Seorang pemimpin yang sederhana selalu siap mengorbankan kepentingan pribadi dan kelompoknya demi kepentingan yang lebih besar, rakyat dan negerinya. Ia adalah seorang yang dermawan, lebih mencintai rakyatnya daripada sekedar kepentingan saudara atau kelompoknya. Ia rela berkorban. Ia juga tidak akan mengambil harta negara (yang merupakan kumpulan hasil keringat rakyat) untuk bersenang-senang. Ia mendengar curhat rakyatnya, bukan memaksa rakyat untuk mendengar curhhatnya. Ia juga ikhlas melayani rakyat dan tidak berharap untuk dilayani. Karena sesungguhnya para pemimpin adalah wakil rakyat. Wakil rakyat lah yang harus melayani rakyatnya. Kehadirannya tidak membuat rakyat susah dan merana.
Perjalanannya di jalan-jalan tidak menyusahkan rakyatnya, tapi memberikan kebahagian dan kesejukan. Kehadirannya ditengah-tengah rakyat yang sedang nestapa tidak justru menghabiskan miliaran uang rakyatnya, tapi ia hadir untuk membantu rakyat. Ia memberikan solusi. Bukan menjadi masalah bagi rakyatnya.Maka mereka yang bermimpi melakukan perubahan harus mampu mengatur keluarga, sanak famili, kelompok atau komunitas mereka, selain tentu saja diri pribadi sendiri agar konsisten dalam kesederhanaan. Karena selain dari diri sendiri, godaan besar juga datang dari keluarga, saudara dan golongan. Seorang pemimpin diangkat bukan sekedar untuk mengurus keluarga atau partainya, tapi semua rakyatnya.
Dalam sejarahnya, sifat sederhana ini tidak pernah merendahkan derajat seorang pemimpin. Tapi justru akan membesarkan namanya. Memberikan berbagai efek perubahan di negerinya. Karena seorang pemimpin yang korup, tentu tidak akan bisa melarang orang lain untuk tidak korup.
Pemimpin yang penipu, tidak akan memiliki niat jujur untuk mencegah orang lain dari melakukan penipuan. Apakah seorang presiden, Gubernur, Bupati akan bisa melawan budaya korupsi jika dia sendiri, keluarga atau partainya justru sedang berpesta pora dengan kegiatan korupsi? Tentu tidak bisa jika mereka bukan orang-orang yang hidupnya sederhana. Mereka tidak akan siap menyelesaikan persoalan-persoalan yang merugikan rakyatnya, karena bagi mereka itu sama saja dengan menghadirkan kerugian bagi diri pribadi, keluarga atau kelompoknya.
Sebaliknya, pemimpin yang sederhana, tidak korup, maka mereka akan mungkin bermimpi untuk mencegah orang lain dari prilaku korupsi, penipuan dan sebagainya.