Proses perjalanan manusia menurut islam mempunyai tiga fase, yaitu alam Roh, Alam Dunia dan Alam Akhirat, dari ketiga fase tersebut kita telah memasuki fase kedua yaitu alam dunia. Perjalanan pada fase kedua ini akan terus kita jalankan sampai kematian yang mengisyaratkan kita akan memasuki fase ketiga itu tiba.
Pada fase kedua ini manusia bertugas untuk memakmurkan bumi, menjaga setiap isi yang ada di bumi, hidup dalam cinta damai, saling monghormati dan menghargai dan lain-lain. Namun, pada fase ini juga begitu banyak godaan dan tantang yang silih berganti yang terus saja menerpa siapapun. Harta, tahta dan wanita menjadi renking pertama dalam soal godaan.
Godaan selalu berkaitan dengan kepentingan pribadi, demi kepentingan pribadi itu, orang sampai hati mengorbankan sesamanya secara tidak manusiawi atau melanggar ajaran agama atau kepercayaan. Aq. Joko Budi Santoso (2005). Dalam hal godaan ini, kalau kita lihat dari skala besar dalam tatanan perebutan jabatan sering kali arogansi dari orang yang mengiginkan jabatan itu memuncak sampai pada ambang tak terbatas.
Dalam lingkup Aceh, hari ini telah kita saksikan sebagaimana fakta yang ada bahwa begitu dahsyatnya godaan tahta. Tahta atau jabatan setingkat gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati sedang memasuki tahapan untuk diselenggarakan pilkada secara langsung dalam menetapkan siapa yang akan menduduki tahta itu. Para kandidat telah mempersiapkan instrument untuk memenangkan pertarungan dalam konteks pilkada Aceh. Lihat saja instrument politik yang dirancarakan oleh para kandidat, spanduk atau baliho telah membahana seantero Aceh, komunikasi politik juga semakin hari semakin terbangun dalam ranah Aceh.
Maka jelaslah bahwa politik tak pernah lepas dari mitos, bahkan dalam dunia pencitraan mitos punya daya sihir luar biasa. Mitos berawal dari penciptaan simbol yang lantas mengalami sakralisasi. Sakralisasi sebuah simbol yang dibumbui dengan doktrin merupakan bentuk penyederhanaan suatu ideologi. Simbol, mitos, doktrin, dan ideoligi adalah piranti wajib dalam politik, baik politik personal maupun kelompok. Memamerkan diri berarti membangun kekuatan mitologis, dan itu berarti memperkuat pengaruh. Demikan apa yang dikatakan oleh M. Alfan Alfian M. (2009).
Seseorang yang ingin menduduki jabatan politik maka simbol atau jargon untuk menarik hati rakyat agar dia dipilih dalam pilkada itu mutlah harus dilakukan oleh calon. Namun yang perlu di ingat bahwa dalam berpolitik menghalakan segala cara untuk mendapatkan tahta sejatinya harus dihindari. Namun dalam kenyataanya riak-riak politik tidak sehat itu telah dipertontonkan oleh para elit, sulit untuk dipisahkan beberapa peristiwa yang terjadi di Aceh dari aroma pilkada yang sedang dalam tahapan saat ini.
Hampir semua orang berhasrat untuk duduk dan menikmati gemilaunya tahta, remantika ketika seseorang menduduki satu jabatan rasa-rasanya sungguh sangat mengagumkan, batapa tidak, orang selalu akan meng eluh-eluhkan, menghormati, membanggakan orang-orang yang berpangkat. Seolah tahta ini membuat seseorang ketika telah terperangkap didalamnya orang yang telah terperangkap itu tak mau melepaskan lagi walaupun dia diperangkap oleh jabatan itu.
Ini menandakan bahwa sihir tahta begitu menggila godaannya, membuat semua orang terpesona dan terbuai dalam perangkap tahta tersebut. Tahta seolah telah menjanjikan kehidupan yang tenang dan tentram bagi siapa saja yang mendapatkannya. Inspirasi hidup dan berkehidupan seolah menjadi bergairah, menatap masa depan yang lebih baik seolah dapat di tentukan dengan tahta yang dimiliki.
Ini menunjukan bahwa betapa pengaruh tahta sangat dahsyat. Betapa banyak orang meregang nyawa tak berdaya hanya gara-gara tak terpilih menjadi anggota DPRD, DPRA, dan DPR RI. Betapa banyak orang depresi hanya karena gila tahta, hingga tak sadar dan terus saja hanyut didalamnya untuk bergelut dalam satu ketidak pastian. Apakah akan terpilih atau tidak.
Untuk memenuhi hasrat politiknya, karena biaya politik yang sangat mahal dalam kanca demokrasi indonesia khurusnya aceh, dia rela mengorbankan harta bendanya, mengambil resiko untuk meminjam cost politik dengan harapan akan terpilih nantinya. Semua kekuatan yang mengarahkan pada bagaiamana seseorang bisa duduk di satu jabatan tertentu terus saja dilakukan dengan segala daya upaya. Akibat dari itu semua, mengorbankan orang, kelompok orang sangat mungkin terjadi dalam setiap moment politik baik skala renda maupun tinggi.
Agaknya inilah yang perlu disadari dan diresapi oleh siapa saja yang telah melangkahkan kakinya dalam pesta demokrasi yang akan berlangsung di Aceh. Bahwa ketika pesta demokrasi telah ditabuh, maka, sejatinya para elit politik, para calon kandidat baik dari partai politik maupun perseorangan harus paham atas apa yang akan dilakukan. Memberikan pencerahan politik sehat sejatinya mutlak harus dilakukan oleh elit politik. Bahwa tahta itu penting jawabanya iya. Namun, lebih penting dari itu adalah bagaimana para elit bisa mempertontonkan politik sehat dan bermartabat kepada rakyat Aceh dalam rangka proses pesta demokrasi di Aceh.
Akhirnya, momentum pesta demokrasi meri kita hiasi dengan instrumen politik sehat, yang pada akhirnya kita berharap akan melahirkan pemimpin yang bisa memberikan jawaban atas kesengsaraan, ketertinggalan dan kemiskinan yang telah melanda Aceh.
Merujuk apa yang dikatakan oleh Henri J. M. Nouwen (2000). Selama tangan kita mencengkram dan berbicara dalam bahasa ‘milikku dan milikku’, kekuasaan yang kecil dengan cepat akan menjadi besar. Kekuasaan seperti itu akan menjerumuskan kita kedalam kebencian, kekerasan dan bahkan perang. Akan tetapi, kalau kita berani mengosongkan tangan kita dan mengangkatnya untuk memuji Tuhan, maka kita dapat menerima kekuasaan dari Tuhan. Kuasa ini akan menjadi berkat bagi diri kita dan bagi masyarakat. Semoga.
Penulis adalah Sekretaris BADKO HMI Aceh Periode 2010-2012 dan Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Simeulue Banda Aceh Periode 2008-2010.