THE GLOBE JOURNAL

Breaking
News

Serambi»Opini»Kenapa Aceh Kembali Diteror ?


Kenapa Aceh Kembali Diteror ?
Chairul Sya'ban | Kontributor
Jum`at, 23 Desember 2011 00:00 WIB
Aceh Utara — Aceh kembali bergolak, kriminalitas senjata api (senpi) illegal kembali mencuat ditengah-tengah kedamaian masyarakat Aceh. Kasus penembakan yang terjadi di Aceh, memicu rasa trauma masyarakat yang sedang menikmati rasa nyamannya dari dentuman senjata api pasca konflik. Tetapi dalam satu tahun terakhir ini kasus penembakan di Aceh semakin meningkat, sehingga mengoyak rasa damain yang mulai bersemayam di tengah masyarakat.
 
Berawal kasus penembakan yang terjadi pada Pon Cage di Matang Gelumpang dua, Kabupaten Bireuen, dengan motif pembunuhan yang masih misterius sampai sekarang. Perihal penembakan tersebut hingga saat ini belum terkuak secara tuntas, siapa dalang dan motif dibalik tragedi maut yang mirip masa konflik itu? Rasa takut warga yang menyelimuti benak mereka, bertanya-tanya apakah Aceh tidak lagi memiliki rasa aman? Namun pertanyaan ini belum terjawab tuntas kasus baru pun kembali muncul.
 
Tidak hanya sekali,  namun kasus penembakan yang terjadi justru beruntun bahkan peristiwa itu sudah merenggut beberapa nyawa masyarakat misalnya yang terjadi kemudian di Aceh Utara. Adakah semburan timah panas dari ujung laras senjata api saat ini berhubungan erat dengan stabilitas politik daerah pra Pemilukada Aceh mendatang ini? Tentunya masyarakat berharap agar Aceh tidak lagi menuai konflik kembali.

Rangkaian peristiwa penembakan tak hanya berhenti paska tewasnya Cage, namun kejadian penembakan kini merambat ke Aceh Utara seperti terjadi akhir tahun 2011.
 
Di Aceh Utara, berawal dari penembakan Supriono, wakil ketua KUD Tani Jaya yang juga sebagai toke getah di desa Babussalam, Kecamatan Baktiya, Unit V, pada Sabtu malam bulan November lalu. Satu peluru yang menembus kepala menewaskannya ditempat. Supriono yang memiliki relasi dengan masyarakat luar selaku toke getah tewas mengenaskan. Supriono meninggalkan sebuah keluarga kecil dengan dua anaknya yang masih dibangku pendidikan dan seorang istri yang sedang hamil tua. Sedangkan Supriono adalah sosok pria dikenal baik  dan ramah tanpa ada ikatan politik oleh pihak manapun.

Naasnya lagi, kejadian penembakan itu terjadi usai shalat maghrib. Menjelang tengah malam pihak kepolisian Polres Aceh Utara baru berhasil mengevakuasinya jenazah korban. Tapi apa yang sebenarnya terjadi saat ini? Kasus tersebut belum juga terungkap hingga Selasa (13/12) satu pekan lalu, pihak kepolisian hanya bisa menjawab kasus tersebut masih dalam penyelidikan dan menduga indikasi dari pemeriksaan lima belas saksi di TKP berdasarkan barang bukti.

"Dari foto-foto sketsa tersangka dan keterangan para saksi kami menduga tersangka sudah mengarah dan dari motif kami menyimpulkan murni kasus perampokan,” ucap Kasatreskrim Polres Aceh Utara AKP Marzuki melalui Kanit Tipiter Polres Aceh Utara Bripka Erik Sitompul. Benarkah demikian?
 
Yang lebih menggemparkan lagi, serta membawa trauma masyarakat lebih dalam bagi warga yang tinggal di Kawasan Kecamatan Geureudong Pasee dan sekitarnya. Pasalnya satu tragedi berdarah kembali terjadi pada Minggu malam 6 Desember 2011. Kejadian kali ini bukan hanya satu korban yang berjatuhan, namun tiga buruh tewas ditempat serta lima lainnya kritis hingga sempat menjalani opname.

Pemberondongan senjata api dari kawanan bandit bersebo dapat dikatakan merupakan kejadian yang aneh karena penembakan tersebut tidak bisa disimpulkan sebagai perampokan. Kejadian itu malah tidak menjurus kepada jarah menjarah harta benda, akan tetapi aksi brutal pemberondongan tanpa pandang bulu serta belas kasih.
 
Saat itu, jarum jam menunjukan pukul 23.30 WIB, sejumlah buruh PT Setya Agung yang tinggal disekitar komplek, sedang menikmati udara malam, seperti biasanya tanpa ada keraguan akan datangnya ancaman kematian. Tiba-tiba secara spontan tamu tak diundang itu melewati semak belukar dibelakang komplek yang dibatasi dengan pagar halaman, mereka pun mendekati buruh itu. Tak tanggung-tanggung dalam kehadiran mereka langsung menghardik para buruh yang sedang melepaskan lelah disebuah warung dalam komplek PT Setya Agung itu, hanya meminta identitas buruh. Para pria bermasker itu langsung memuntahkan senjata apinya kearah buruh hingga sejumlah korban terjungkal ditempat dan warung tersebut menjadi lautan darah.
 
Hingga Rabu (14/12) sebanyak dua puluh lima saksi telah diperiksa, dalam keterangan para saksi belum satu pun dari kesaksian mereka mengarah kepada tersangka.

Seiring penyelidikan kasus pemberondongan buruh PT Setya Agung, satu penembakan kembali lagi terjadi. Adakah kaitannya pastinya kali ini terjadi terhadap Zulfikar, mandor CV Cimita Rata dari Sub Kontraktor PT Setya Agung beberapa hari setelah penembakan buruh. Zulfikar ditembak ketika sedang mengemudikan mobil Escudo silver berplat polisi BL  1338 FL dijalan Line pipa. Bermula dari dua orang pengendara sepeda motor jenis bebek memintanya berhenti ditengah jalan, namun Zulfikar yang merasa orang tersebut bukanlah rekan yang dikenalnya. Permintaan dua orang tersebut diabaikan, sedangkan dua oknum dalam satu kenderaan itu tetap membuntuti dan melepaskan tembakan kearah mobil yang sedang dikendarainya.
 
Perkara kriminal penembakan menjadi ujian berat dan uji nyali bagi kepolisian daerah saat ini. Tiga kasus penembakan beruntun yang terjadi di Aceh Utara, satu kasus teror lainnya ternyata kembali terjadi menambah PR bagi polisi. Kali ini "bom rakitan" dari batu bata sempat menghebohkan warga kota Lhokseumawe. Usai shalat jum’at 09 Desember 2011 lalu pegawai Kantor Bupati Aceh Utara, menemukan satu paket yang diduga bom yang diletakkan di lantai kantor humas bupati. Sejenak pegawai Kantor setempat berhamburan keluar dengan berbagai pekikan ketakutan, hingga menjelang sekitar pukul 15.30 WIB bom tersebut berhasil dievaluasikan oleh tim Penjinak Bom Satmob Jeulikat Kompi IV kota Lhokseumawe. Saat dijinakkan di Markas brimob, ternyata hasil menunjukkan hanyalah teror bom dalam bentuk batu bata yang dipaket, serta dipasang satu bendera hitam bertulisan arab..
 
Rangkaian demi rangkaian kasus kriminal menyelimuti Aceh Utara menjelang pelaksanaan pemilukada Aceh mendatang ini. Kepada pihak yang berwajib masyarakat mengharapkan guna keamanan Aceh kedepan agar kasus teror dan pembantai dengan mengunakan senjata api agar dapat segera dituntaskan. Semoga






Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
No Telp. 0651-741 4556
Ponsel. 0852 619 222 25


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close